Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan

Dahlan Iskan, Semoga Tetap Sediakala

Kemungkinan besar Dahlan Iskan akan menjadi menteri BUMN… mudah mudahan ngga ada kepentingan politik yang mengganggunya nanti, sehingga BUMN bisa bekerja optimal sebagai salah satu sumber untuk pembiayaan pembangunan.

Kenapa Dahlan Iskan… sederhana saja, orangnya dah kaya jadi kemungkinan kecil dia masih mengharap ceperan dari carut marutnya pengelolaan BUMN selama ini. Kemudian life stylenya yang ngga aneh aneh, ngga menuntut terlalu banyak gaya hidup dan dan kagetan dilimpahin segala macam fasilitas. Kemudian dia juga pasti sadar setiap saat bisa tiba tiba mati karena gagal jantung, jadi kemungkinan besar misi dalam sisa hidupnya benar benar bekerja untuk bangsa dan negara.

Sebagai mantan wartawan, pengusaha dan profesional yang mengerti seluk beluk dunia usaha, tentunya Dahlan Iskan memiliki nilai lebih dibandingkan akademisi yang hanya tahu catatan diatas kertas atau kader politukus yang hanya pintar bicara untuk membuat kebijakan yang lebih rasional bagi tumbuh kembangnya BUMN di negeri ini.

Berharap Dahlan Iskan bisa menjadi dirghen yang baik untuk memimpin BUMN, kalau ada direktur direktur BUMN yang kinerjanya buruk, pastilah tanpa beban moral apapun dia bisa memecat orang orang karbitan yang ngga tahu juntrungnya tiba tiba jadi direktur BUMN.

Semoga kamu baca ini, karena saya sudah beberapa kali ditawari jadi direktur BUMN dengan catatan, ada setoran… hahahha, siapa tahu aku dipanggil Dahlan Iskan jadi direktur BUMN tanpa pusing mikirin gaji seperti dia dulu di PLN….

Ber(Cinta) Terakhir

Aroma kopi hitam tanpa gula terhirup kuat dari cangkir putih milik Brahma. Aku sengaja menyiapkan kopi pahit favoritnya, karena lima belas menit lagi ia akan sampai.

Brahma adalah suamiku, kami telah lima tahun menikah. Namun, rumah kami masih belum bising dengan suara tangisan anak kecil. Aku dan Brahma tidak terlalu menuntut bahkan tidak kecewa akan keadaan ini. Kami tetap bahagia dan sabar menanti datangnya masa membahagiakan itu suatu hari nanti.

“Tiiiiiinnn….!!”, suara klakson mobil Brahma masuk ke dalam garasi mungil rumah.

Aku segera bergegas membuka pintu rumah dan menyambut suamiku yang baru dinas dari Bandung selama tiga hari dua malam. Rasa rindu yang menggebu berseru di diri ini, seakan ditinggal oleh suamiku selama satu abad. Aku sangat mencintai suamiku yang sangat berwibawa dan tampan ini.

“Hai sayang.. Aku kangen sekali sama kamu. Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana? Kamu pasti capek yah?”, tanyaku bertubi pada Brahma.

“Sayaaang, aku kangeeeenn juga sama kamu. Pekerjaan aku sudah beres disana”, jawab Brahma sambil mencium keningku dan memeluk tubuhku sambil masuk ke dalam rumah.

Aku segera menyuguhkan kopi hitam yang telah kusiapkan tadi pada Brahma dan duduk disampingnya sambil berbincang, mendengarkan cerita suamiku saat ia dinas di Bandung. Semakin hari rasa cintaku kepada suamiku bukan semakin memudar, tetapi dia selalu membuat hasrat cintaku semakin bertambah dan seperti selalu mulai jatuh cinta saat mengenalnya di bangku SMA. Brahma selalu menjadikan aku seperti perempuan yang istimewa dan spesial, aku merasa istri paling beruntung di dunia ini, memiliki suami seperti Brahma Artha Wirya.

*****

04 Oktober 2006.

Hari ini adalah Anniversary pernikahan kami yang kelima. Tepat di hari Sabtu (weekend) yang akan kuhabiskan waktu ini dengan suamiku. Kami tidak berencana pergi kemana pun. Aku hanya menyiapkan hidangan spesial untuk kami dinner di Sabtu malam nanti.

Make up natural dan gaun selutut berwarna abu-abu gelap yang sengaja kubeli kemarin sore telah siap dinikmati oleh suamiku. Ia memandangku dan tersenyum manis. Senyumnya tidak berubah, persis pada saat dia melamarku lima tahun yang lalu.

Setelan jas dengan kemeja berwarna abu-abu muda bernuansa casual melekat di tubuh Brahma yang proporsional. Pria dewasa yang nyaris sempurna ini memelukku dengan erat malam ini. Kami berdansa mengikuti alunan musik klasik favorit semasa SMA.

Malam ini hanyalah milik kami berdua, tidak ada yang boleh mengganggu malam spesial ini.

“I love you, Clara…”, bisik Brahma di telingaku saat kami sedang berdansa.

“I love you too, Brahma. Happy Anniversary, sayang.”, jawabku berbisik dan semakin memeluk erat tubuh suamiku.

“Aku mau kamu seutuhnya malam ini sayang, dan selamanya.”, Brahma mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar.

Suasana kamar kami seperti saat malam pertama setelah hari pernikahan kami lima tahun silam. Dihiasi dengan lampu tidur yang romantis dan aroma terapi yang menenangkan.

Aku dan Brahma melakukan hubungan suami istri selayaknya pasangan suami istri lainnya. Ini bukan kali pertamanya kami bercinta. Namun, Brahma melakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kami sangat menikmatinya. Hingga kami tertidur.

*****

“Aaaaaaaaarrrrggghhh……”, teriakan Brahma dari kamar mandi membangunkanku di Minggu pagi ini. Aku pun segera bergegas menghampiri suamiku yang terjatuh lemas di depan wastafel kamar mandi.

“Sayang… Kamu kenapaa??!!”, tanyaku panik sambil memeluk suamiku yang duduk lemas di lantai kamar mandi. Tidak lama kemudian Brahma tidak sadarkan dirinya.

Aku segera menghubungi ambulans agar membawanya segera ke rumah sakit.

Rumah Sakit.

Aku menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa Brahma di depan ruang Gawat Darurat. Aroma kuat obat di rumah sakit ini mengingatkanku setahun yang lalu saat ibuku meninggal karena stroke. Rasa trauma itu masih terasa dibenakku. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi.

Aku terus berdoa selama dua jam menunggu di lorong rumah sakit. Dokter yang memeriksa suamiku belum juga keluar dari ruang Gawat Darurat.

Pintu ruangan Gawat Darurat pun terbuka. Seorang suster dan dokter berpakaian putih dan rapi keluar dari pintu ruangan tersebut. Aku segera menghampiri mereka dan menanyakan keadaan suamiku.

Dokter segera menenangkanku dan mengajakku ke ruangannya.

“Ibu Clara, betul Anda istri dari Bapak Brahma Artha Wirya?”, tanya dokter kepadaku dengan wajahnya yang agak kaku tapi tetap tersenyum.

“Iya betul, Dok. Jadi apa yang terjadi dengan suami saya, Dokter?”, tanyaku penuh khawatir dan sangat menunggu jawaban dari dokter.

“Suami ibu mengidap penyakit Leukimia atau kanker darah. Penyakit ini sudah cukup lama dideritanya, tapi Pak Brahma sepertinya tidak pernah mengeluh dan mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Suami ibu harus diberikan perawatan inap dan terapi di rumah sakit ini, sehingga bisa dilakukan pengobatan secara intens.”, jawab dokter menjelaskan padaku.

Aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Lututku pun terasa lemas meskipun aku sedang duduk. Air mata sudah tidak mampu lagi kubendung. Mengapa Brahma tidak pernah mengeluh dan menceritakan tentang penyakitnya selama ini. Mengapa dia tidak mengeluhkan padaku tentang apa yang ia rasakan saat merasakan rasa sakit yang dideritanya. Aku merasa telah menjadi istri terbodoh yang ada dunia, karena tidak tahu tentang masalah terberat suamiku.

Seminggu telah berlalu. Brahma masih berada dalam perawatan di rumah sakit. Setiap hari aku menjaganya di rumah sakit. Menyuapinya saat makan pagi, siang dan malam. Memberikannya obat yang telah disediakan dari rumah sakit, bahkan satu butir obat pun tak pernah tertinggal.

Suasana rumah sakit menghiasi hari-hariku dengan suamiku Brahma. Aku selalu berbincang tentang apa pun di kamar inap Brahma. Tersenyum dan tertawa bersama. Aku tidak pernah menangis dan bersedih di depan Brahma, setetes air mata pun tak pernah ada saat bersamanya. Semangat dan rasa percaya akan kesembuhan suamiku terus kutanamkan dalam benakku.

Kepalaku terasa berat sekali. Mataku berkunang-kunang saat menebus obat untuk Brahma. Aku sungguh tidak kuat menahan rasa ini. Sepertinya badanku akan ambruk dalam hitungan detik.

Saat terbangun. Aku sudah berada di kamar, di rumah sakit. Ibu mertuaku menjagaku di sofa sebelah kasurku.

“Maaahh…”, panggilku dengan suara rendah dan nyaris hilang.

“Clara, kamu sudah sadar? Tadi kamu pingsan, sayang. Mama khawatir kamu terlalu capek merawat Brahma, Nak. Besok kamu istirahat saja ya. Biar mama yang menjaga Brahma.”, jawab Ibu mertuaku panjang dengan nada khawatir.

Tidak lama kemudian, seorang dokter muda, cantik dan modis masuk ke ruangan. Sambil tersenyum, ia mengucapkan selamat kepadaku.

“Clara, selamat yaa. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu sedang mengandung, usia kandunganmu sudah sekitar seminggu lebih.”, senyum manis dokter cantik itu dengan kabar bahagianya.

“Terima kasih, Dokter.”, aku sudah tidak mampu berkata-kata. Rasa bahagia, haru dan sedih bercampur menjadi satu. Ini adalah anugerah yang selama ini aku dan Brahma tunggu. Kini impian kami datang.

*****

04 November 2006.

Kondisi Brahma tidak bertambah baik. Dokter memberitahukanku bahwa kondisi Brahma mengkhawatirkan. Usia kandunganku sudah genap sebulan. Aku berencana memberitahu kabar bahagia ini pada Brahma saat usia kandunganku genap sebulan.

Belum sampai kamar Brahma, dokter dan para suster berlarian mendahuluiku ke arah kamar Brahma. Lamunanku yang tidak jelas arahnya hilang seketika dan refleks aku ikut berlari mengikuti mereka. Tidak sempat aku masuk melewati pintu kamar Brahma, para suster menghalangiku dan tidak memperbolehkanku masuk ke dalam.

Aku hanya bisa menunggu dokter dan para suster keluar dari kamar Brahma. Lima belas menit berlalu, tidak lama kemudian suster Novita keluar dan langsung menghampiri tempat dudukku. Serentak aku berdiri, suster Novita langsung memelukku dan menangis kemudian minta maaf padaku. Aku sungguh tidak siap mendengar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut suster Novita.

“Yaaaa Tuhaaaaannn…..”, aku berteriak dan menangis keras hingga bergema di satu lorong rumah sakit. Aku sudah tidak mampu berdiri lagi. Seluruh tubuhku lemas. Bahkan aku sudah tidak mampu masuk ke dalam kamar suamiku yang kini sudah tidak bernyawa lagi. Ini adalah pukulan terdahsyat yang Tuhan berikan padaku. Aku kehilangan belahan jiwaku. Suamiku tercinta. Kini dia pergi jauh meninggalkanku sendiri.

*****

04 Oktober 2013.

“Ayah… Kartika emang nggak pernah lihat wajah Ayah. Tapi tika selalu denger cerita Bunda tentang Ayah. Kata Bunda, Ayah adalah laki-laki terbaik di dunia. Tika bangga punya Ayah seperti Ayah Brahma. Bunda sayang bangeeeet sama Ayah, Tika juga sayaaaang bangeeet sama Ayah. Ayah baik-baik yaa di surga :)”

Kartika Artha Wirya

Aku dan Kartika berziarah bersama ke makam suamiku Brahma Artha Wirya. Kartika (anakku) menulis selembar surat kecil untuk ayahnya. Air mataku menetes saat membaca surat Kartika saat di makam Brahma. Kartika tumbuh berkembang tanpa seorang Ayah yang tampan dan gagah seperti Brahma. Tetapi, aku selalu meyakinkan diriku dan anakku bahwa Brahma selalu ada di dalam hati kami. Ia tetap hidup di hati kami. Brahma akan selalu hidup di hatiku.

Aku tetap mencintaimu, suamiku.

SELESAI

created : rr.putri sari sekar kenanga

Maksud Tersembunyi SBY Membentuk Para Wakil Menteri

1318837199222270684 (Jawa Pos, 17 Oktober 2011)

Seandainya saja hari ini Presiden SBY mengumumkan hasil dari keputusannya dalam melakukan reshuffle (perombakan) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, tetap saja kejadian ini sudah layak dicatat dalam rekor dunia. Minimal dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebagai rekor seorang presiden paling lama dalam melakukan dan mengumumkan hasil sebuah perombakan kabinet.

Sudah lebih dari satu bulan proses perombakan kabinet tersebut belum juga ada hasilnya sampai hari ini. Jadi, semakin lama, semakin layak masuk “prestasi dunia” tersebut. Apalagi kalau ditambah lagi dengan rekor paling banyak sebuah kabinet mempunyai wakil menteri.

Sampai hari ini SBY telah “mencatat prestasi dunia” dengan membukukan sampai 20 orang wakil menteri dalam kabinetnya. Mudah-mudahan, tidak tambah lagi, supaya tidak bikin orang tambah heran.

Selain perombakan kabinet dengan menambah minimal 20 orang wakil menteri itu, sebaiknya juga SBY melakukan perubahan nama terhadap kabinet barunya nanti. Yakni dari nama “Kabinet Indonesia Bersatu” menjadi “Kabinet Partai Politik Bersatu”. Karena memang nama ini lebih cocok daripada namanya yang sekarang.

Sudah hampir pasti bahwa penyusunan kabinet baru hasil perombakan nanti itu akan tidak beda jauh dengan yang sekarang. Yakni mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan parpol, untuk menjalankan politik kompromi dan balas budi demi keselamatan kedudukannya di parlemen.

Sekarang saja, dari 34 menteri yang ada, 23 di antaranya berasal dari (titipan) parpol-parpol. Yang menghendaki Presiden SBY wajib menempatkan orang-orangnya di kabinet supaya tidak diganggu nanti di parlemen. Tak perduli, apakah kadernya itu punya skill atau berkompeten di Kementerian yang dijabatnya itu, ataukah tidak. Faktanya, sangat banyak menteri yang memang tidak becus. Terbukti dari begitu banyaknya (kabarnya 10) menteri yang mau diganti.

Jadi, kepentingan rakyat justru dikorbankan akibat dari ketakutan seorang Presiden kehilangan dukungannya itu. Padahal konon kabarnya beliau didukung oleh lebih dari 60 persen rakyat pemilih dalam Pilpres 2009.

Diduga kuat karena proses tawar-menawar, dan ancaman dari parpol-parpol tertentulah itulah yang membuat SBY pusing tujuh kelililing untuk bisa benar-benar menjalankan hak prerogatifnya itu.

Apalagi dengan menghadapi perilaku yang rakus dan serakah jabatan menteri yang dipertunjukkan secara tanpa malu-malu lagi itu masih ditambah dengan sikap kekanak-kanakan mereka. Lengkaplah SBY dari pusing tujuh keliling menjadi pusing tujuh puluh keliling.

Misalnya, PKS yang mengancam, kalau sampai SBY berani mengurangi satu saja jatah menteri mereka, maka mereka akan menarik semua dari empat menteri yang sekarang ada. Atau akan membeberkan rahasia kontrak politik yang pernah mereka lakukan dengan SBY. Entah rahasia apa, sampai-sampai rakyat saja tidak boleh tahu. Dan, kelihatannya ancaman itu cukup ampuh.

Ada lagi kabar seperti yang dilangsir Media Indonesia online, bahwa rencana SBY mengurangi satu jatah menteri dari PKS akan berpengaruh pada Golkar juga. Supaya PKS jangan sampai ngambek gara-gara menterinya dikurangi satu maka SBY juga akan mengurangi satu jatah menteri dari Golkar! Supaya ada “teman sependeritaan”, dan SBY kelihatannya adil, gitu. Benar-benar asli, seperti kelakuan anak-anak.

“Harus diingat bahwa Golkar itu masuk belakangan. Jadi biar PKS tidak marah, kursi Golkar juga bakal dikurangi,” ujar sumber Media Indonesia, Minggu (16/10). Maksudnya, tempo hari, PKS-lah yang lebih dulu bergabung dalam koalisi pemerintahan SBY, baru diikuti Golkar.

Menghadapi sikap tak terpuji dari parpol-parpol inilah yang sebenarnya membuat SBY melakukan keputusan yang cukup kontroversial dengan pengangkatan sedemikian banyaknya wakil menteri. Itu semua ada maksudnya.

Alasan sesungguhnya adalah bahwa sebenarnya SBY hendak mencopot beberapa menteri dari beberapa parpol, dan menggantikannya dari tokoh yang bukan dari mereka lagi. Karena stok SDM mereka tidak ada yang memenuhi syarat untuk menjadi menteri.

Kalau mau berada di jalan yang benar, SBY akan mengurangi sebanyak mungkin jatah para politisi itu sebagai menterinya. Tetapi karena adanya ketakutan dan tawar-menawar politik tersebut di ataslah, SBY tersandera, tidak berani melakukannya secara terang-terangan.

Jalan keluarnya adalah dengan mengangkat sejumlah wakil menteri itu. Dengan harapan bahwa sesungguhnya nanti yang benar-benar bekerja secara maksimal adalah para wakil menteri itu. Karena sesungguhnya merekalah yang berkualitas, memenuhi syarat dan berkompeten menjabat sebagai menteri lebih baik daripada menteri itu sendiri.

Sedangkan para politisi yang berasal dari parpol-parpol itu akan menjabat asal namanya saja sebagai menteri, tetapi karena ketidakbecusannya sesungguhnya tidak melakukan apa-apa dalam melakukan kebijakan-kebijakan rutin sehari-hari dalam menjalankan fungsi kementerian. Yang penting para menteri yang berasal dari parpol-parpol oportunis itu tetap mempunyai kewenangan-kewenangan menteri yang bisa dimanfaatkan demi keuntungan parpolnya. Sebab bukankah inilah alasan sesungguhnya mereka begitu ngebet-nya menuntut jabatan menteri ke Presiden SBY? ***

Tulisan saya lain yang berkaitan:

KEGADUHAN PEROMBAKAN KABINET, CERMIN PERILAKU PARA POLITIKUS

“Saya koleksi tas hermes 70 buah……..”

Saya jarang banget liat acara gosip artis indonesia selain karena saya tinggal di luar negeri yang akses untuk bisa nonton televisi indonesia terbatas lewat mivo tv saja, saya juga kurang menyukai tayangan ini. Tapi ketika saya bbm-an dengan sobat kompasianer saya yaitu mba chacha, kami terlibat pembicaraan yang seru mengenai koleksi tas seorang artis terkenal Angel Lelga yang mengatakan bahwa ia mempunyai koleksi tas Hermes sebanyak 70 buah. Wow kok bisa yah? padahal setahu kami tas itu sangat mahal harganya yaitu berkisar 30juta-50juta rupiah bahkan ada yang mencapai harga 500 juta rupiah. Apakah penghasilan artis sefantastis itu ya? tak heran banyak sekali orang yang bermimpi menjadi artis.


Selain Angel Lelga, banyak artis-artis indonesia yang lain memakai tas merk ini, sebut saja Maia, Syahrini, Luna Maya dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Selebriti Hollywood apalagi, sudah lama mereka ramai-ramai memakai tas ini dalam berbagai kesempatan, contoh; Kim kardasian, Katie holmes, Kelly brook, Hillary duff, Martha Stewart dan yang fenomenal adalah Victoria Beckham yang diyakini mempunyai koleksi ratusan koleksi tas Hermes. Saya? yah cuma bisa ngiler saja, bagi saya yang common people membeli tas dengan kisaran harga tersebut tentu saja sangat berat, walaupun sebenarnya saya juga penyuka tas (Wanita mana yang gak suka tas? :D).

logo merk hermes logo merk hermes


Bagaimana sih asal usul nya tas Hermes hingga digemari begitu banyak pesohor dan wanita di seluruh dunia?. Bermula ketika pada tahun 1837 Thierry Hermes membuka gerai toko nya di The Grands Boulevards of Paris dengan label Hermes, Keluarga Hermes berasal dari jerman yang menetap di Paris, Perancis. Agaknya penikmat fashion di Paris ketika itu sangat menyukai desain tas-tas hermes hingga hermes meraih penghargaan dari pemerintah pada tahun 1855 karena telah memenangkan exposition universelle di paris. Dan juga pada tahun 1867 Branded Hermes kembali meraih mendali emas pada kontes tersebut. Dari sini sejarah bermula hingga Hermes berpindah-pindah kepemilikannya ke anak cucu nya. Namun setelah Emile-Maurice wafat,  pada tahun 1978 kepemimpinan di ambil alih oleh Robert Dumas-Hermes yang bukan keturunan asli dari keluarga hermes melainkan hanya mempunyai ikatan perkawinan dengan salah satu keluarga hermes. Hingga sekarang Hermes masih menjadi branded yang digemari dan masuk bursa saham Paris pada tahun 1993.


Desain tas Hermes yang paling terkenal adalah birkin, tas ini dirancang khusus untuk seorang penyanyi Jane Birkin pada tahun 1984. Bermula ketika terjadi insiden di pesawat yang mempertemukan Jane Birkin dan Jean-Louis Damas (CEO Hermes), pertemuan itu menginspirasi Louis untuk mendesain tas yang comfy digunakan untuk membawa banyak barang. Desain nya yang original adalah berupa kunci nya, yang biasanya terbuat dari metal, pada beberapa desain dilapisi dengan emas dan juga diberi berlian. Yang paling mahal adalah desain tas birkin yang terbuat dari kulit buaya yang bisa mencapai banderol 500 juta rupiah.


Anda tertarik memilikinya? bagi sebagian yang berkantong tebal silahkan mencari yang original gerai resmi nya biasanya tersebar di mall-mall ternama, bila tas yang diinginkan ternyata out of stock jangan khawatir atau tak perlu repot-repot mencarinya hingga ke luar negeri karena banyak dari situs-situs shopping online yang memasarkannya untuk waiting list limited edition. Bagi yang common people seperti saya jangan berkecil hati karena duplikatnya pun banyak dijual, dengan istilah kw, ada kw 1, kw2, kw3 bahkan kw super. Selamat berbelanja yah temans.


sumber:Wikipedia the free encyclopedia

Jane Birkin (google) Jane Birkin (google)

victoria beckham with her birkin bag (google) victoria beckham with her birkin bag (google)

kattie holmes (google) kattie holmes (google)

Pawang Hujan di Teater Terbuka Bernama Sosial Media (1)

Sejujurnya, saya tidak begitu paham mengenai konsep ‘rainmaker (pawang hujan)’ ini, hingga suatu waktu saya diberitahu oleh teman bahwa Akademi Berbagi akan mengadakan kegiatan ‘kuliah singkat’ yang biasa diselenggarakan setiap hari Kamis, dan tema yang diangkat kali ini adalah mengenai ‘rainmaker’ di media sosial. Tidak tanggung-tanggung, tokoh yang digandeng kali ini adalah Wicaksono, yang di twitterland dikenal dengan nama Ndorokakung. Tentunya saya langsung mendaftar untuk berpartisipasi di kelas ini.

Kegiatan ‘perkuliahan’ ini diadakan di kantor Aidil Akbar, salah satu penasehat keuangan terkemuka yang bertempat di Jalan Senopati Raya 74. Setelah jam kerja, saya bersama teman-teman langsung menuju ke Senopati Raya 74, tentunya kami harus bergegas, karena perkuliahan akan dimulai pukul 18.30 wib.  Kami tiba tepat waktu dan langsung menuju ruangan kelas yang berada dilantai 2, ternyata perkuliahan baru akan dimulai setengah jam kemudian, yaitu pukul 19.00 wib.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari perwakilan Akademi Berbagi, dan barulah kemudian Ndorokakung memulai perkuliahan. Mengapa saya sebut perkuliahan, karena suasana dan tata ruangan memang mengingatkan jaman kuliah dulu, dengan bangku meja, white board dan tentunya infocus. Ndorokakung sendiri tampak sedikit canggung dengan suasana ruangan “Saya sendiri tidak terbiasa dengan kondisi begini, saya lebih terbiasa duduk lesehan dengan suasana akrab” ujar Ndorokakung disela-sela sesi awal presentasinya.

Judul presentasi Ndorokakung kali ini adalah “Menjadi Rainmaker di Sosial Media”, diawali dengan penjelasan apakah ‘Rainmaker’ itu, dan bagaimana ciri-cirinya. Menurut Ndorokakung, rainmaker atau buzzer atau influencer dapat dikenali dari follower-nya. Ada 2 ciri yang menunjukkan seseorang itu rainmaker atau bukan, pertama adalah jumlah follower dan yang kedua adalah jenis follower. Menurutnya, tidak ada patokan pasti berapa jumlah follower yang dibutuhkan untuk menjadi seorang rainmaker, tetapi ‘siapa’ yang memfollow-lah yang bisa menjadi patokan seseorang itu rainmaker atau bukan. Dengan kata lain, kualitas follower juga menentukan seseorang itu ‘rainmaker’ atau bukan.

Lalu apakah rainmaker itu? Ndorokakung menjelaskan bahwa rainmaker adalah orang-orang yang dianggap mempunyai pengaruh sehingga dapat menyebabkan orang lain ‘bergerak’. Bergerak disini maksudnya berbuat sesuatu baik secara langsung atau tidak langsung untuk melakukan saran-saran atau kampanye yang disampaikan oleh para rainmaker. Selain itu Ndorokakung juga mengaitkan dengan Prinsip (Hukum) Paretto, yang menurutnya merupakan hukum yang lazim digunakan dalam bidang ekonomi dan statistika.

Saat perkuliahan tersebut saya menangka bahwa Hukum Paretto terjadi (berlaku) juga di dunia sosial media. Jadi dari total pengguna sosial media, sebesar 20% nya adalah rainmaker, dan sisanya yang 80% adalah pengguna biasa. Tak hanya itu, Ndorokakung juga menggunakan analogi lain, yaitu analogi “teater terbuka”. Dan dengan mengaitkan dengan hukum Paretto, hanya ada 20% yang akan bermain di panggung “teater terbuka” tersebut.

Sekarang, mari kita kupas dulu apa itu Hukum Paretto. Hukum Paretto ini dikenal juga sebagai aturan 80/20, pada awalnya di termuka oleh Vilfredo Paretto pada tahun 1906. Saat itu dia mengamati 80% kepemilikan tanah di Italia hanya dimiliki oleh 20% dari populasi di daerah tersebut. Tentunya, pada saat itu, pemilik tanah hanya orang-orang yang berkuasa, kaya atau mempunyai pengaruh. Esensi yang diajukan dalam aplikasi hukum pareto adalah 80/20, dalam studinya Pareto menyampaikan dalam suatu formula matematis mengenai ketidakmerataan distribusi dari kesejahteraan di negaranya (Italia), melalui formula matematis tersebut Pareto meng-konklusikan bahwa hanya 20 % dari masyarakat yang menguasai 80% kesejahteraan, artinya hampir mayoritas atau 80% masyarakat menikmati sisa 20% hasil ekonomi atau kesejahteraan.

Kemudian prinsip ini dikembangkan oleh Juran untuk aplikasi manajemen kualitas (quality management), menjadi suatu konklusi bahwa bahwa 20% sebab menghasilkan 80% problema, atau 20% tanggung jawab menghasilkan 80% hasil, namun prinsip inipun adalah prinsip yang dinamins dimana prinsip cateris parebus juga berlaku (berlaku untuk kondisi-kondisi tertentu). Lalu bagaimana dengan media sosial dengan teater terbuka-nya?

Saya sendiri belum menemukan data yang yang mendukung hipotesa-nya Ndorokakung, tapi mari kita memakai hipotesa 80 – 20  tersebut di media sosial, kita ambil contoh di twitter. Berdasarkan data salingsilang.com pada Januari 2011 pengguna twitter di Indonesia adalah 4,88 juta akun. Kita berasumsi hanya 80% dari akun tersebut yang aktif. Maka dari 4 juta pengguna twitter di Indonesia  20% nya adalah rainmaker. Berarti sekitar 800 ribu orang Indonesia adalah rainmaker. Nah, angka yang sangat besar bukan? Jika memang rainmaker ada 800 ribu berarti tiap-tiap rainmaker hanya mempunyai 5 follower yang unik(dan tentunya bukan rainmaker), artinya 5 follower tersebut hanya memfollow satu rainmaker, tidak memfollow yang lain.

Tapi ingat, Ndorokakung juga menganalogikan media sosial sebagai teater terbuka, jadi media sosial adalah suatu ruang yang terdiri dari pemain, panggung dan kursi/tempat penonton. Jika kita menganggap teater terbuka adalah seperti amphiteater, bisa dikatakan, panggung teater luasnya kurang lebih 20% dan sisanya 80% adalah kursi penonton. Dan para ‘rainmaker’ ini adalah mereka yang ber’kicau’ diatas panggung, tapi tidak hanya itu, para ‘penonton’ juga saling berkicau dengan ‘penonton’ lainnya maupun dengan ‘aktor (baca : rainmaker)’ di panggung. Dan menurut Ndorokakung, pada akhirnya hanya akan ada 20% panggung yang riuh (banyak penonton).

Lalu, apakah dua paragraf diatas sesuai dengan hukum Paretto? Jika memperhatikan pengertian Hukum Paretto diatas, dapat terlihat ada 2 domain yang berbeda. Misalkan pada kalimat “saat itu dia mengamati 80% kepemilikan tanah di Italia hanya dimiliki oleh 20% dari populasi di daerah tersebut”, perhatikan juga kalimat berikutnya …menjadi suatu konklusi bahwa bahwa 20% sebab menghasilkan 80% problema, atau 20% tanggung jawab menghasilkan 80% hasil..

Jadi bila kita simpulkan 80% kepemilikan ruang (teater terbuka) di media sosial hanya dimiliki oleh 20% populasi di media sosial tersebut (bila dibalik 20% populasi di media sosial menghasilkan 80% kepemilikan ruang (teater terbuka)). Bagaimana menurut Anda? Seperti yang sering diulangi-ulangi oleh Ndorokakung pada “kuliah terbuka” ; Anda boleh setuju, boleh tidak. ?

Sekarang mari kita ulangi sekali lagi cerita diatas. Begitu mendengar Ndorokakung akan memberi “kuliah” di Akademi Berbagi, saya, teman saya, dan tentunya teman-teman lain yang hadir di kuliah tersebut adalah “korban-korban” dari rainmaker. Sebagian dari kami dengan sukarela menambah “jam kerja” kami untuk hadir di acara tersebut, dan tentunya kami semua adalah yang 80% populasi dari Hukum Paretto. Pada saat Anda membaca tulisan ini Anda bisa menjadi bagian yang 80% itu, dan jika anda menyebarkan tulisan ini, mungkin membuat orang lain menjadi bagian yang 80% itu…mungkin Anda yang 20%, mungkin Anda bisa menjadi yang 20% itu…(bersambung)

Beda Bachdim dan Bechkam

Kesamaan Irfan Bachdim dan David Bechkam adalah sama-2 pemain sepakbola dan mempunyai istri yang cantik serta menjadi bintang iklan,tetapi dari segi popularitas tentu berbeda karena Bachdim terkenal di tingkat lokal Indonesia sedang Bechkam sudah mendunia.

Perbedaan yang menyolok antara keduanya adalah Bechkam dapat menjaga popularitasnya menjadi pemain sepakbola profesional yang juga membela negaranya,Inggris. Sedangkan Bachdim baru saja “tamat” karier sepakbolanya di Timnas Indonesia,sebab dicoret oleh pelatihnya karena tidak memenuhi panggilan dengan beribu alasan seperti yang diungkapkan di akun twitternya.

Bachdim memang bukan Bechkam dan tidak bisa diperbandingkan sejajar. Tetapi sangat menarik sekali bila Bachdim mau belajar “mental profesional” dari seorang Bechkam. Rata-2 manusia Indonesia memang bermental rendah,terutama bila sudah diambang puncak kariernya dan menjadi populer,mereka tidak menjaga imej dirinya dengan melakukan perilaku yang terpandang,lebih cenderung imej yang dibangun adalah kepura-puraan,semacam politik pencitraan yang dibangun oleh pemimpin negeri ini.

Mental profesional adalah berani mengakui kesalahannya dan tidak menyalahkan keadaan ataupun orang lain. Walau Irfan Bachdim bukan orang Indonesia tulen karena berdarah campuran,namun demikian ybs tinggal dan menetap di Indonesia serta sudah “ketularan” dengan mental bangsa ini. Selalu “ngeles” dan cari simpati dengan hal-2 yang bersifat pribadi sehingga kesalahannya minta dianggap sebagai sangat manusiawi.

Di Indonesia,mungkin mental tentara seperti Kopassus,PasKhas,dsb yang bisa dianggap sebagai mental profesional. Mereka lebih mengutamakan merah-putih katimbang keluarganya. Rata-rata Nasionalisme mereka tidak diragukan,tentu diatas jauh dari rata-2 manusia Indonesia.

Sangat disayangkan seorang Irfan Bachdim dengan usia masih 23 tahun harus kehilangan kesempatan membela timnas Indonesia. Ketenarannya yang dibangun melalui sepakbola dan timnas bisa sirna di bumi Indonesia. Hal yang mirip pernah menimpa Briptu Norman Kamaru yang berpikir bisa terkenal setelah keluar dari Brimob,karena merasa sudah sangat terkenal dan banyak pesanan manggung,maka Briptu Norman lebih memilih karier sebagai penyanyi daripada seorang polisi Brimob. Irfan Bachdim juga barangkali berpikir dengan “kegantengan” nya bisa menjadi bintang iklan,padahal ybs tenar karena masyarakat Indonesia memang pecinta sepakbola,dan Irfan Bachdim terkenal kana main sepakbola disini.

Ini proses pembelajaran bagi rakyat Indonesia,jangan merasa besar kepala bila sudah menjadi tenar,ada pepatah Jawa yang terkenal “Kacang lali kulit-e” begitulah kira-2 yang terjadi pada Irfan Bachdim dan mantan Briptu Norman Kamaru…..

Bagaimana pendapat anda?

Cinta untuk Angela yang Terlahir Tanpa Mahkota

Bidan Romana Tari /bidancare hadir untuk berbagi dan saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup. Bidancare hadir menjadi sahabat bagi perempuan dan keluarga. Semoga artikel di sini bermanfaat bagi kita semua. Kehadiranmu dan kehadiranku adalah kebahagiaan kita bersama. Mari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare. salam hangat selalu

Kota Batu dengan aneka bunganya tak sedingin dulu lagi. Mungkin matahari semakin mendekatkan wajahnya ke muka bumi? Entahlah aku tidak peduli. Hanya satu hal yang aku peduli, menghitung hari. Membolak balik lembaran kalender. Sehari lagi genap lima bulan kehamilanku. Sedikit sekali sahabat dan saudaraku yang mau memberi dukungan untuk melanjutkan kehamilanku. Bahkan Cece  Yin sepertinya keberatan saat kukatakan aku ingin mencari dokter lain.

“Untuk apa ling – ling? Bukankah dokter Kiem sudah katakan bahwa dari hasil USG empat dimensi bayimu tidak sempurna. Kita semua sedih. Bila kamu biarkan bayimu lahir hingga cukup bulan, kamu lebih menderita. Apalagi kalau melihat keadaannya yang seperti itu ” Kata cece Yin sambil mengusap perutku.

” Tidak ce Yin, aku akan mempertahankan kehamilanku ini. Rencananya kami mencari dokter kandungan lain” Jawabku padanya. Hatiku hancur membayangkan bayi mungilku dilahirkan lebih cepat. Aku masuk ke kamar menumpahkan airmataku di atas bantal. Sesak terasa menggumpal di dada. Sudah dua kali aku mengalami keguguran sebelum kehamilan ini.

Tak lama kemudian, cece Yin masuk ke kamarku dengan membawa segelas susu hangat. Ia mengulurkan segelas susu ibu hamil yang masih hangat beraroma vanila. Ku minum sedikit sekedar menghargai perhatiannya. Kami duduk bersisian di tempat tidur. Cece Yin sudah seolah pengganti mama bagiku.

” Ling ling, ya sudah jangan menangis begitu, nanti dia ikut sedih. Aku doakan bayimu. Minumlah susu ini agar kamu lebih relaks” Kata cece Yin menghiburku.

“Ce, aku sangat mencintai bayiku ini, aku mencintainya,…sangat menginginkannya. Aku ingin menimang dan memeluknya, aku tak ingin membuatnya menderita “ Airmataku tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Ce Yin menunduk, airmatanya mengambang di pelupuk mata. Tapi ia segera berpaling keluar dari kamar. Ce Yin tak pernah menangis di depan kami. Dimataku dia sosok wanita yang ulet dan tegar. Hanya dia yang mampu melanjutkan usaha bisnis  bahan bangunan milik almarhum papa dan mama.

Aku beranjak dari kamar ketika waktu menjelang pukul dua belas siang. Saat melewati ruang doa, lukisan Dewi Kwan Im tersenyum lembut menatapku. Ia menjanjikan akan menjaga bayi dalam kandunganku. Kubasuh wajah dan membersihkan diriku dengan air. Kuhadapkan raga fana ini berlutut di altar pemujaan. Asap hio membubung dengan lantunan puja - puji pada Thi Kong dan Sang Budha. “Oh sang Dewi Kwan Im yang ku puja. Pandanglah aku yang nyaris putus asa. Berkati bayiku yang tiada sempurna ini dalam cahaya kemuliaanMu”

Sambil menunggu Koko Ming pulang bekerja, secangkir teh Lohankuo hangat beraroma bunga krisan menemani kesendirianku. Kuusap lembut perutku yang makin membesar dibalut daster merah maroon bermotif bunga – bunga. Alunan instrumentalia musik meditasi doa Taize mengalun lembut. Kaset musik itu hadiah dari Bruder Lie. Dia sepupuku yang jadi biarawan di pertapaan Karmel.

Halaman kami tidak berpagar. Berada di perbukitan puncak kota Batu. Nyaman dan teduh rasanya menikmati senja dengan pemandangan alam nan hijau. Memperhatikan kesibukan para petani sayur mayur yang sedang panen sawi dan wortel. Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil Koko Ming memasuki halaman. Ia lalu menyusulku ke beranda ini seperti biasanya.

“ Kamu baik – baik saja sayang?” Koko Ming mengecup keningku. Koko Ming adalah suami yang selalu memberikan aku kekuatan dalam bertahan menghadapi cobaan ini.

Aku mengangguk dan tersenyum bahagia. Senyum paling indah yang hanya kuberikan untuk koko Ming pria yang kucintai seumur hidupku. Koko Ming duduk menemaniku. Sambil minum teh melepas lelah pulang bekerja. Ini kebiasaan yang kami sukai sejak awal menikah. Tak pernah kedengar Koko Ming berkeluh kesah. Meski aku tahu ia lelah membantu mertuaku mengurus usaha perkebunan apel dan buah naga.

“ Koko maafkan aku, aku belum bisa memberikan anak yang sempurna untukmu” kataku padanya.

“Sttt…jangan bilang begitu Ling, apapun keadaannya dia anak kita berdua.Tak ada yang perlu dimaafkan, ini cobaan buat kita” Jawab Koko Ming. Lalu koko Ming merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Tangannya mengusap lembut perutku yang sedang hamil. Bayi dalam kandunganku seolah mengerti ia sedang dimanjakan. Ia bergerak lincah. Koko Ming mengecupnya penuh perasaan. Energi cinta menyelimuti kami bertiga.

Minggu pagi. Aku berangkat ke Surabaya diantar Koko Ming. Kami menginap di Perumahan Green Garden. Ini rumah cece Vivi kakak perempuanku yang nomer dua. Cece Vi menganjurkan aku menemui Dokter Johan SpOG.

Saat aku bertemu dokter Johan, ia seperti sudah mengenalku lama.Beliau begitu ramah dan baik.

“ Ibu Ling ling, tak ada seorangpun di dunia ini yang berhak meniadakan kehidupan seorang bayi dalam kandungan kendati ia cacat. Tuhan telah menitipkan kehidupan dalam rahim ibu untuk dicintai. Bila kelak Tuhan mengambilnya, biarlah kehendakNya yang terjadi dan bukan kehendak kita”

Kata – kata dokter Johan sungguh menguatkan kami berdua. Selanjutnya setiap sebulan sekali kami rutin kontrol kehamilan ke Surabaya. Perasaan gundah mulai mengusik hatiku saat 42 minggu berlalu namun belum terasa juga tanda – tanda akan melahirkan.

“ Kita bantu dengan induksi infus drip ya bu, agar bayi ibu bisa segera dilahirkan. Kasihan terlalu lama dalam kandungan. Fungsi plasentanya sudah makin kurang baik” Kata dokter Johan.

“ Saya mengikuti keputusan terbaik dari dokter” Jawab suamiku.

Kami menandatangani persetujuan induksi. Koko Ming memelukku memberikan kekuatan.Ya aku harus kuat dan tabah melalui proses induksi infus drip ini. Aku diberi obat perangsang kontraksi dan opname di rumah sakit. Perjuanganku tidak mudah. Di ruang bersalin dua botol infus drip sudah masuk tetapi belum ada tanda – tanda akan melahirkan. Aku mulai putus asa. Dokter mengatakan infus dihentikan dulu dan aku dianjurkan istirahat di kamar. Besok pagi akan dievaluasi katanya.

“ Operasi Caesar saja Ko Ming, aku sudah tidak kuat lagi”, kataku pada suamiku. Hari itu bidan memindahkan aku di bangsal perawatan.

“ Sabarlah sayang, kamu pasti bisa melalui semua ini. Nanti sore aku akan ke Vihara Sanggar Agung di Kenjeran untuk mohon bantuan para Bhiksu mendoakanmu “ Kata koko Ming menenangkan hatiku.

Dalam kegelisahanku aku menghubungi sepupuku Bruder Lie, agar ia juga mendoakan aku menghadapi proses persalinan yang penuh perjuangan ini. Bruder Lie sangat sayang padaku sejak aku masih kecil. Dulu ketika kecil pernah belajar menyanyi lagu – lagu gereja dari Bruder Lie.

“ Ling, saya selalu bersamamu dalam doa. Jangan cemas, saya akan minta pada romo pimpinan biara untuk mendoakanmu dalam intensi misa sore nanti. Sekarang kamu mencoba untuk tenang dan pasrah. Tetap berdoa agar semua yang terjadi ini berjalan seperti kehendak Tuhan. Pasti semua akan berjalan baik dan lancar Ling” Kata – kata bruder Lie menyejukkan hatiku.

Menjelang senja, saat aku menikmati kiriman apple pie dari cece Vivi. Tiba - tiba aku merasa ada cairan putih jernih mengalir keluar dari rahimku. Mungkinkah ketubanku pecah?. Bidan membawaku ke ruang bersalin. Pembukaan empat kata bidan. Suamiku belum datang. Dia sedang ke Vihara Sanggar Agung di Kenjeran menemui para Bhiksu dan berdoa disana.

“ Bu Ling Ling, kemungkinan bayi akan lahir normal. Kontraksi dan pembukaan jalan lahir sudah cukup banyak kemajuan dibanding kemarin” Kata Bidan Yasinta. Syukurlah, aku yakin ini berkat doa para Bhiksu dan suamiku, juga doa Romo pimpinan pertapaan yang diminta khusus oleh Bruder Lie.

Menjelang malam, aku berhasil melahirkan putriku secara normal. Koko Ming mendampingi selama proses kelahiran yang ditangani langsung oleh dokter Johan. Tangisnya begitu keras, betapa terharunya saat bidan mendekatkan bayi itu padaku untuk kupeluk dan kucium. Oh Tuhan, tampaknya semua sempurna. Mungkinkah mukjizat telah terjadi pada keluarga kami?

Bayiku dibawa bidan ke ruangan perawatan khusus. Entah mengapa, aku masih tetap berharap ada keajaiban. Rasanya ingin bertanya pada dokter Johan apakah bayiku terlahir sempurna. Tetapi semua kata – kataku tercekat di kerongkongan. Seakan ada yang menyumbat. Tidak, aku tidak akan bertanya. Aku tahu jawabannya. Bayiku terlahir tanpa tulang tengkorak kepala bagian atas. Sebagian otaknya hanya tertutup selaput tipis. Diagnosa medis mengatakan Anensefalus.

Oh Tuhan,kasihan sekali bayiku dalam ketidak sempurnaannya. Wajahnya begitu cantik . Ia bercahaya seperti Dewi Kwan Im yang kupuja. Sungguh dia malaikat kecilku. Airmataku bercucuran deras mewakili semua pertanyaan yang tak terucap sepatah katapun. Dokter Johan menepuk pundakku dan mengatakan agar aku sabar. Suamiku memelukku dengan erat dan terus menerus menciumiku.

“ Ling sayang, terimakasih kamu telah berhasil berjuang melahirkan putri kita. Sungguh kamu ibu yang luarbiasa. Aku semakin mencintaimu” Koko Ming mengecup keningku.

“ Ko Ming,katakan pada bidan untuk membawa bayi itu kepadaku sebentar saja, aku ingin menyusuinya” Pintaku penuh harap. Koko Ming menemui bidan dan meminta bayi kami.

Aku gemetar saat menerima bayiku dari bidan. Tuhan,terimakasih, aku boleh melahirkan bayiku yang tiada sempurna ini. Maha Pencipta Engkau ya Tuhan. Kutatap wajah bayi mungilku yang sudah mengenakan topi khusus untuk pelindung kepalanya. Hati- hati aku memangku anakku. Dengan penuh kasih aku menyusuinya. Putriku kuberi nama Angela. Benar – benar menakjubkan. Angela menghisap ASIku dengan kuat dan tangannya seolah memeluk payudaraku. Sungguh ini keajaiban yang Maha Agung.

Angela mengerdipkan matanya dengan manja padaku. Aku memeluknya semakin erat. Angela tersenyum seolah berkata” Terimakasih Mama telah memberiku kesempatan menatap wajahmu”. Ku tegarkan hati untuk melihat kepalanya dan perlahan mengusap rambut Angela. Kuciumi tepi bagian yang tak sempurna itu dengan penuh cinta. Apapun keadaanmu kami meyayangmu Angela.

Hari ketiga Angela semakin tampak lemah, sorot matanya tak lagi berbinar. Ia mengalami kuning dan suhu tubuhnya mulai meningkat. Aku tahu Angela tak akan lama bersama kami. Bruder Lie khusus datang dari Malang menjengukku. Aku menangis sesenggukan saat bruder Lie memberkati dahi Angela keponakannya. Suamiku tahu bahwa Angela tak akan lama bersama kami. Ia sudah berjuang tiga hari untuk dapat membalas cinta kami.

Angela dibaringkan oleh bidan di boks bayi. Tak tega melihat tangan mungil Angela dipasang infus. Nafasnya kian tersengal – sengal walaupun dibantu oksigen. Akhirnya hari ke tiga Angela tertidur lelap selama- lamanya dalam pelukan Dewi Kwan Im. Aku merunduk untuk menciuminya berkali kali. Selamat jalan Angela. Kami mencintaimu selamanya. Angela tampak begitu cantik. Ia bermahkota bunga teratai mungil berwarna merah muda di sekeling kepalanya. Terbang semakin menjauh dari pandangan mataku. Terasa cahaya keemasan mengelilingiku..lalu semua begitu ringan aku seolah melayang ingin mengejarnya. Namun kurasakan tangan Koko Ming memelukku erat - erat. Airmatanya membasahi wajahku.

( Terinspirasi dari kisah nyata, Ibu hamil yang menolak pengguguran bayi cacat Anensefalus dan merelakan sharenya untuk diangkat dalam fiksi ini,Nama tempat dan tokoh fiktif )

Oleh Bidan Romana Tari

POLITIK PANGAN INDONESIA: Renungan Hari Pangan Dunia


Pembangunan Pangan IndonesiaPangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi seluruh rakyat Indonesia. Pangan berperan penting dalam membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Permasalahan akan pangan akan berpengaruh pada penurunan kualitas sumberdaya manusia yang pada akhirnya berdampak terhadap pembangunan nasional secara keseluruhan. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.Kebijakan pembangunan pangan di Indonesia, sebagaimana hampir seluruh negara di dunia, mengikuti konsep ketahanan pangan (food insecurity). Hal ini tercermin dari kebijakan yang telah diterbitkan, salah satunya dalam UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan. Dalam UU tersebut, ideologi ketahanan pangan mewarnai hampir seluruh isi undang-undang. Hal yang terus disinggung dalam UU tersebut adalah aspek pemenuhan dan kecukupan bahan pangan bagi masyarakat. UU tersebut tidak mempersoalkan bagaimana bahan pangan itu didapat dan dengan cara apa, termasuk impor besar-besaran sekalipun. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada produk-produk pangan impor. Berikut tabel perbandingan impor pangan Indonesia dengan negara-negara lain di dunia.
Tabel 1. Negara-negara Importir Pangan DuniaRankNegaraImpor (ribu ton)1Mesir11.930,02Indonesia7.729,03Maroko6.571,04Filipina5.016,55Irak4.623,06Suriah3.339,07Bangladesh2.988,18India2.078,49China1.810,010Pakistan1.518,9Sumber: FAO (2006), Crop Prospect and Food Situation
Jika kita menilik sejarah lahirnya UU ini. Perlu dicermati bahwa setting waktu kelahiran UU Pangan saat itu berdekatan dengan World Food Summit (WFS) 1996 yang diselenggarakan oleh FAO. Dimana salah satu resolusi yang dikeluarkan (resolusi No.176/1996) antara lain berisi komitmen untuk mengimplementasikan suatu konsep food security sebagai suatu upaya untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa dunia. Oleh karenanya, wajar jika dalam UU Pangan, food security lebih dominan sebagai