Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Intermezzo: Hidup Itu Mencinta?

Suatu sore pas saya sedang naik metro (kereta bawah tanah) di kota Brussels, naiklah seorang bapak dan anaknya yang kemudian duduk di bangku di depan saya.

Bapak itu orangnya kecil agak kurus tapi matanya belok dan jenaka, mirip sekali dengan aktor Roberto Benigni, pemeran Guido, bapak keluarga yang di film itali yang judulnya La Vita e Bella (kalau tidak salah) dikirim ke kam konsentrasi. Si anak umurnya sekitar 6 atau 7 tahunan, gemuk dan ceriwis.

Tadinya saya tidak menyimak obrolan mereka, tapi lama-lama jadi nguping karena lucu banget.

Mereka bicara dalam bahasa Prancis.

Si anak bertanya,
“Papa, c’est quoi la gĂ©ographie ?” (terjemahan: Babeh, geografi itu apaan sih?)

Dahi bapaknya terus mengerenyit, mikir. Tiba-tiba matanya terbuka lebar, seakan-akan ketemu jawabannya. Nih orang tampangnya ‘komik‘ banget…

Lalu sang bapak bilang,
“Geo, c’est la terre. Graphie, c’est aimer. La geographie c’est aimer, la terre, aimer la mer, les pays, l’ocean.”
(Geo artinya bumi. Grafi artinya mencinta. Jadi geographie artinya mencintai bumi, mencintai laut, mencintai negara-negara, samudra…”)

Terus si anak nanya lagi,
“alors, qui c’est le geographe?” (jadi geograf itu siapa??)

Bapaknya jawab,
“le geographe c’est les gens qui aiment la terre, l’ocean, les pays..“
(Geograf adalah orang yang mencintai bumi, samudra, negara-negara…”

Anaknya nanya lagi,
“c’est quoi la math?” (matematika itu apa?)

Bapaknya menjawab lagi,
“la math c’est aimer les chiffres, le calcul..“
(matematika berarti mencintai angka, hitung-hitungan..etc..)

Terus anak itu nanya terus: apa itu biologi, siapa itu dokter, apa itu astronomi, siapa itu astronom, dan seterusnya.

Bapaknya selalu menjawab pertanyaan si anak dengan kata “aimer” yang artinya “mencinta”..

Gile nih babeh, pikir saya dalam hati . Definisinya secara akademis emang asal-asalan, tapi konsep pikirannya jelas dan sesuatu banget: hidup itu mencinta.

Bapak ini tambah mirip aja sama tokoh Guido di film la vita e bella.

Akhirnya si bapak ajaib dan anaknya yang ceriwis itu turun duluan, masih dengan diskusi yang ujung-ujungnya mencinta…. meninggalkan saya dalam situasi termangu-mangu.

Resuffle Kabinet IB 2: Strategi Politik SBY Redam Isu Sengketa Tapal Batas Krisis Papua?

Beberapa minggu belakangan ini  terjadi pemogokan ribuan karyawan Freeport yang menimbulkan kerusuhan  ,bahkan sudah menelan korban jiwa namun pihak manajemen Freeport  masih bersikokoh pada sikapnya semula. Para karyawan menuntut supaya pihak manajemen Freeport menaikkan gaji mereka ,serta memulihkan kembali hak tanah adat masyarakat Papua seiring meningkatkan kesejahteraan para karyawannya.

Kedua belah pihak belum tercapai kesepakatan,karena sedang terjadi proses perundingan justeru terjadi kewrusuhan yang menewaskan 2 orang,dan kemuidian disusul  serentetan penembakan yang diduga dilakukan oleh anggota OPM yang juga merenggut 3 korban  jiwa (Jumat 14 Oktober 2011).Kerusuhan yang berlangsung sejak beberapa minggu lalu tidak terlepas dari rentetan kerusuhan sebelumnya,Nafri,Koya-Adipura,dan kerusuhan Puncak jaya ekses dari pilkbup sesama kandidat Partai Gerindra yang menewaskan 19 orang .

Meskipun eskalasi konflik Papua terkesan meningkat sehingga tiga kontainer Freeport dibakar massa,serta ribuan karyawan masih memblokir jalur akses dari dan ke Freeport sampai sekarang,tetapi kelihatannya pemerintah masih kurang serius dalam mengupayakan penyelesainanya.Kini Presiden SBY malahan sengaja mendramatisasikan proses resuffle kabinet Indonesia Bersatu jilid dua ,yang dimulai minggu lalu sampai sekarang  masih berlangsung dengan penuh euforia.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)yang kadangkala berkantor di istananya di Jakarta dan kadangkala pula di istananya di Puri Cikeas,Bogor.Dalam mobilitasnya yang relatif tinggi dari Purinya di Cikeas SBY mengabsen satu persatu kandidat -kandidat yang diharapkan bisa memperkuat posisinya kedepan yang terus terpuruk itu. SBY pada tahun 2009 mendapat dukungan 60 persen suara masyarakat Indonesia ,namun karena kegagalnnya dalam mengelola pemerintahannya sehingga berikutnya dukunganpun merosot tajam menjadi 462 persen tahun 2011 meskipun tahun sebelumnya 2010 sempat meningkat dukungan masyarakat Indonesia sebesar 60,7 persen.

Tetapi SBY sepertinya tidak kapok sehingga kemorosotan dukungan masyarakat Indonesia  tersebut belum cukup  menjadi suatu pembelajaran bagi dirinya,tetapi sebaliknya SBY terus semakin lamban dan galau ,gamang dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial yang dihadapkan kepadanya.Berbagai politik”pencitraan”keluh kewsah terus menerus di lancarkan untuk menarik dukungan masyarakat Indonesia,namun masyarakat yang sudah terkesan apatis cuek tidak peduli terhadap startegi pencitraan tersebut.

Menyadari kegagalannya itu,maka mulailah SBY mengelola strategi baru dengan harapan bisa mengalihkan sorotan  masyarakat Indonesia dari skandal-skandal dan krisis politik,ekonomi,hukum ,terorisme, premanisme antara kelompok sosial,sekte keagamaan dan aspek sosial budaya lainnya ke isu -isu resuffle kabinet.Karenanya setelah beredar beberapa nama kandidat menteri karena ada pihak-pihak yang membocorkan ketyengah-tengah masyarakat SBY kemudian dalam konferensi persnya menyebutkan bahwa hal itu tidak pernah disampaikannya.

Kini apa yang sebelumnya ia bantah justeru mulai kelihatan sosok-sosoknya ,yang setiap harinya sengaja dicicil pengumannya  tentang siapa-saja yang akan menduduki kabinet Indonesia bersatu yang semakin gemuk tersebut. Tragisnya pula terdapat dua wakil menteri yang mengurus bidang pendidikan,yang akan menjadikan dualisme di bidang pendidkan selain pendidikan dibawah berbagai departemen yang ada,seperti Depag,Depdagri,Depkeu dan sebagainya.

Postur kabinet yang gemuk dan setengah zaken itu  akan menyebabkan semakin carut marutnya proses dalam pengambilan keputusan dalam menganggapi sesuatu kebijakan kedepan,yang pada gilirannya akan menambah lambannya  proses pembangunan dalam berbagai aspek sosial kehidupan masyarakat.Khususnya dalam bidang pendidikan sebagai pilar bagi kecerdasan bangsa akan terjadi konflik tarik ulur antara seseorang menteri yang berasal dari Partai Politik dengan para wakilnya dari kalangan akademis itu.

Proses tarik ulur tersebut bisa menambah komplikasi dalam birokrasi dan masyarakat Indonesia,sehingga krisis ini akan menjadi suatu permasalah besar kedepan yang bisa mengabaikan segala masalah-masalah lainnya termasuk masalah sengketa perbatasan RI-Malaya ,Singapore,Papua Nugini ataupun masalah krisis Papua . Jika fenomena ini benar-benar terjadi,maka berbagai unsur-unsur asing akan dengan mudah mengobo-ngobo berbagai masalah  sosial di papua  yang hingga sekarang masih belum berhenti itu.Mengapa pemerintah belum juga dengan serius mengentaskannya ,bahkan lebih menyibukkan diri dengan politik  dagang sapinya itu ,dengan mebagi-bagi kekuasaan kepadas kroni-kroninya dengan  mengabaikan berbagai aspek sosial hajat hidup masyarakat Indonesia.

Pertemuan

< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

PERTEMUAN

Oleh

Pasya Firmansyah

*Persembahan dari hati untuk dia yang jauh di
mata*

< ?xml:namespace prefix = v ns = "urn:schemas-microsoft-com:vml" />

Tidak
terasa waktu begitu cepatnya berlalu. Seharusnya sejak dulu aku sudah habiskan
waktu bersamanya. Sebelum perasaan takut akan masa depan bersarang di benaknya.
Rasa takut yang mungkin saja di miliki segenap kaum Hawa. Biarpun demikian
ternyata malam ini aku sangat beruntung dapat bertemu kembali dengannya.

H
-2

Tidak
banyak hal yang dapat di kerjakan sebagai seorang tenaga kerja outsourcing. Kesehariannya hanya menunggu
perintah dari atasan atau membicarakan orang lain. Karyawan outsourcing di tempat ini hanya sebagai
alas kaki bagi pekerja tetap lainnya, “Kalau suka silahkan ikuti aturan dan
terus bekerja. Kalau tidak suka silahkan cari tempat yang lebih baik”. Outsourcing hampir sama dengan mayat
hidup. Sebagian dari padanya memiliki prinsip yang sama “Dari pada tidak kerja,
dari pada anak dan istri terlantar?!”. Di perusahaan ini Outsourcing terdiri dari beberapa golongan jabatan. Administrasi,
pengantar surat, security, tehknisi
komputer, cleaning service, pengantar
minum serta semua pekerjaan berat lainnya. Tidak ada jenjang karir, tidak ada
tunjangan hari tua, tidak ada pesangon dan juga tidak ada upskilling. Uang bulanan yang di dapatkan, cuma sekedar untuk gali
lubang-tutup lubang. Mencari pinjaman dan membayar pinjaman. Sesekali waktu aku
ber-fantasi tentang sebab-musabab keberadaan outsourcing. Keberadaan outsourcing
di tempat ini tidak lain hanyalah sebagai alat balas dendam kesumat dari pada
kaum intelektual. Dapatlah di
bayangkan, jika semasa sekolah dulu ada satu orang juara kelas yang setiap
waktunya di isi dengan belajar. Seorang kutu buku yang menarik diri dari
lingkungan sosialisasi-nya dan merubah dirinya sebagai seorang public
enemy. Hingga akhirnya setelah berada dalam posisi kemapanan, seorang
jawara kelas tersebut melampiaskan masa lalu-nya dengan cara mengelompokkan
manusia pada kasta kepandaian dan kekayaan. Dan dampak lainnya adalah berbagai
kasus korupsi yang semakin marak terjadi, selalu berasal dari kalangan kaum intelektual.

Di
usia yang hampir memasuki kepala tiga, aku putuskan untuk tidak seperti
kebanyakan tenaga kerja outsourcing
lainnya. Kalau tidak banyak pekerjaan yang dapat di lakukan, biasanya aku
selalu pergunakan waktu senggang untuk sekedar bertegur sapa dengan teman-teman
lama di dunia maya (Chating). Di dalam content
email address tepat dimana sering kali
kugunakan untuk chating, sengaja aku hias foto profile dengan pose narsis4
yang dapat memikat perhatian untuk balas bertegur sapa. Dalam memulai
pembicaraan, sapaan yang sering kali kupakai, “Hi”. Beberapa dari mereka
membalas, “Hi juga”. Beberapa lainnya
sama sekali tidak menyahut. Tapi kali ini aku tidak perdulikan mereka menjawab
atau tidak. Sebab yang hanya ingin aku dengar adalah perkataan darinya. Seorang
gadis manis yang berasal dari kalangan Aristokrat.
Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Ani.

“Hi, pa kabar An?”.

Beberapa puluh
menit berselang dia membalas.

“Mmh” .

Kesempatan
ini hanya datang satu kali dan tidak akan pernah aku sia-siakan. Beberapa menit
lamanya, Aku renungkan sejenak kosa kata yang nantinya dapat jawaban panjang
darinya.

“Katanya loe itu
udah nikah, ya?!”.

“Kata siapa?”.

“Dari gosip
anak-anak”.

“Belum”.

“Btw (By the way). Gimana kabar Melan dan
teman-teman lainnya?”.

“Wah. Gue udah
ngga pernah kumpul sama anak-anak lagi”.

“Gimana kalau
kita reunian kecil-kecilan? Nanti gue kabarin Melan dan anak-anak lainnya,
supaya pada dateng juga”.

“Mmh, Boleh. Tapi,
nanti jemput gue aja!”.

Seperti umumnya gadis Aristokrat. Selalu mendambakan laki-laki
yang kelak kendaraan mewah dan pangeran yang selalu senantiasa membukakan pintu
untuknya. Ani pun tidak-lah jauh berbeda harapannya.

“Kapan waktunya?
Kalau besok bisa? Nanti kita ketemuan rame-rame sama anak-anak yang lainnya”.

“Bisa. Besok kebetulan
gue ketemuan sama saudara gue.. Anak-nya baru lahiran. Tapi nanti gue kasih
kabar lagi tempatnya dimana.. Berapa nomor loe?”.

“0856********.
Di tunggu kabarnya, nanti malam!”.

“Ok”.

“Bisa, ngga bisa
kasih kabar?!”.

Percakapan itu
telah membuat hati ini begitu bergelora lagi penuh gairah.

Detik
berlalu menit pun segera berganti. Semalaman ini, aku nantikan kabar berita
darinya. Gelisah serta harap-harap cemas berselimut dalam pikiran. Aku
bayangkan segala rentetan peristiwa yang nantinya akan terjadi sewaktu
pertemuan. Setiap perkataan serta tindak-tanduk yang harus aku lakukan dan
tidak boleh aku lakukan. Ke-tajaman imajinasi ini aku peroleh berkat kebiasaanku
menuliskan setiap kejadian penting yang pernah aku alami, pada sebuah buku catatan
kecil. Semakin banyak aku menulis, semakin peka panca indra ini merespon segala
kejadian yang terjadi di sekitarku.

Hampir
pukul sepuluh malam, kabar berita tidak kunjung datang darinya. Berkali-kali
aku sisir kolom inbox massages di
telepon cellular. Tidak ada satu pesan singkat pun di dalamnya. Sampai pada akhirnya,
suatu getaran dari telepon cellularku. Sabaris pesan singkat darinya.

“Maaf, besok
kita ngga jadi ketemuan. Hari Sabtu aja, gimana?”.

Aku balas
tersebut dengan setengah kesalnya.

“Ya sudah. Mau
gimana lagi.Sampai ketemu besok, Sabtu ya An!”.

H
-1

Sinar
surya belum lagi menampakkan ke agungannya. Suara kicau burung-burung gereja
bernyanyi sudah turut serta mengundang keceriaan di suasana pagi. Sebelum
bertemu matahari, aku sudah siap bergegas ke tempat kerja. Seribu meter,
ratusan kilo menjadi saksi bisu untuk sampai ke tempat kantor.

Telah
menjadi tradisi, biasanya setiap pagi selalu ada briffing di perusahaan ini. Briffing
yang menjelaskan rencana kerja dan apa yang akan di kerjakan hari ini. Tanpa
pernah kuperdulikan apa saja yang harus kulakukan hari ini. Sebab pikiranku terlalu
asyik memikirkannya. Lagi pula tugas utama-ku di kantor ini hanya menunggui
surat keluar dan mengantarkannya ke fungsi lain.

Persiapan serta seluruh rencana harus tetap
berjalan baik. Aku ambil secarik kertas serta kususun beberapa runutan kejadian
yang mungkin nanti dapat terjadi. Setelah selesai dengan semua persiapan,
saatnya membuat kepastian pertemuan. Aku hidupkan komputer guna mencari jawaban
darinya. Begitu mengejutkan, tidak biasanya kotak inbox ini di penuhi dengan pesan yang belum di buka. Diantara beberapa
pesan-pesan yang tidak penting, aku dapati pesan dari salah seorang sahabat
semasa kuliahku dulu. Ah, ternyata undangan pernikahan yang bertepatan dengan
pertemuan besok. Biasanya aku paling malas untuk datang ke acara pernikahan.
Namun kali ini, undangan ini telah membuatku mengatur ulang jadwal yang
bertepatan dengan pertemuan. Berkali-kali pesan singkat yang aku kirimkan melalui
email tidak di jawab. Tidak hilang
akal, aku hubungi lewat telepon cellular.

“Hallo.. Besok
gimana, An? Jadikan kita ketemuan!”.

“Ya.. Besok jadi.
Kita ketemu di Pondok Indah Mall”.

“Jam berapa, An?!”.

“Jam tujuh
malam”.

“Sorry.. Loe
jemput gue di ragunan aja, gimana?!”.

“Ya..Nanti gue
jemput loe disana?!”

Siang
hari itu merupakan siang terindah dalam hidupku. Tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya, dia mau untuk menemuiku. Meski aku sadari pertemuan itu hanya akan
satu kali dan tidak akan pernah berlanjut ke pertemuan berikutnya.

H

Kemacetan
sudah terlihat di mana-mana. Padahal hari ini adalah hari libur Nasional.
Klakson milik para pengumudi terdengar di setiap ruas jalanan. Tidak ada lagi
tempat bagi pejalan kaki. Para penguasa jalanan merenggut paksa lahan para
pejalan kaki. Setiap waktu adalah uang. Tanpa pernah tergesa-gesa, aku kendarai
laju sepeda motor pada kecepatan biasa.

Rasanya
pertemuan ini teramat berat di lakukan. Pikiran seakan melayang-layang membelah
dinding keramaian. Berkilo-kilo meter sudah jalan yang aku susuri. Aku
sepertinya tersesat di tengah kemacetan. Jarum jam tepat menunjukkan pukul lima
sore. Semua jalanan tampak bagaikan sebuah labirin yang berputar melingkar.
Begitu sulitnya untuk dapat sampai ke tempat resepsi pernikahan temanku.
Berkali-kali aku tanyakan alamat pada setiap orang. Beberapa kali telepon cellularku
sempat berdering. Sengaja tidak kujawab panggilan darinya. Karena aku ingin
mencari sebuah tempat yang tidak bising oleh lalu-lalang kendaraan bermotor.

Dengan
jerih payah bertanya ke setiap orang, akhirnya aku temui tempat acara resepsi
pernikahan temanku. Secepatnya jaket serta berbagai aksesori yang melekat
hangat di tubuh aku lepas serta ku taruh pada sebuah box yang tertanam di badan motor. Sekali lagi handphone berbunyi. Aku putuskan agar menjawab panggilan darinya.

“Ada apa, An?”

“Lagi ada dimana
sekarang?”

“Oh. Gue lagi di
acara resepsi teman gue dulu nih! Memangnya kenapa?”.

“Ternyata kita
ketemu-nya, jam enam! Bisa,kan?”

“Ya”.

Suaranya amat teduh terasa
menyejukkan kegalauan hati. Selesai pembicaraan, segera aku langkahkan kaki
memasuki pendopo pelaminan. Resepsi pernikahan berjalan lancar dan khidmat.
Melihat kebahagiaan pasangan pengantin membuat iri di dalam hati. Begitu iri rasanya
melihat keberuntungan di pihaknya. Menikah dengan tersedianya dana orang tua. Tanpa
perlu aku pusingkan beruntung atau tidaknya.

Matahari tengah siap ke peraduan, saatnya
melaju kembali dengan sepeda motor. Perubahan jam pertemuan memang berakibat
hilangnya daya ingat serta konsentrasi dalam mengendarai sepeda motor. Sekali lagi aku di hadapkan pada sebuah
putaran labirin. Biasanya untuk sampai ke Mall Pondok Indah hanya di butuhkan
waktu satu jam, Namun saat ini jarak tempuh bertambah menjadi dua jam. Di balik
saku kantong celana blue jeans, getaran handphone
tidak berhenti memangil-manggil. Sembari memegang stang kemudi, aku bicara dalam nada keterdesakan.

“Sorry, kita
ngga jadi ketemuan di Mall Pondok Indah. Sekarang gue lagi ada di rumah sakit
di sekitar sana, ketemuannya disini aja”.

“Ya, udah nanti
gue kesana?!”.

“Emang, loe
kemari naik apa?”

Sesuai rencana
yang telah aku susun sebelumnya. Aku alihkan perhatiannya dari pertanyaan
kendaraan.

“Ya. Sampai
ketemu disana, ya!”

Beberapa menit berlalu berganti
detik. Sampai juga akhirnya di tempat yang di tentukan. Dari arah luar rumah
sakit, aku parkirkan sepeda motor di bawah pepohonan rindang. Suara handphone kembali berdering memangil.

“Sudah ada
dimana sekarang?”.

“Ini udah ada di
parkiran”.

“Parkiran mana?
Ko, ngga kelihatan sih?!”

“Biar gue
samperin loe aja”.

Sambil terlibat
percakapan. Bergegas aku hampiri keberadaanya. Sengaja ku tutupi kedatangan
dengan berkendara sepeda motor.

“Sekarang gue
udah di lobi rumah sakit. Loe ada dimana, An?”.

“Coba deh loe
terus lurus aja. Parkiran-nya ada di pintu keluar Utara”.

“Ngga ada.
Dimana-nya?”

“Coba lihat ke depan
ada Mercy warna Silver”.

“Ya.. Gue udah
lihat?! Loe, dimana-nya?!”

“Sebentar gue
putar balik dulu! Loe tunggu di situ aja. Biar nanti gue turun samperin loe”.

“Ya. Ini juga
ngga ke mana-mana!”

Dari lawan arah,
tiba-tiba tangan-nya menepuk lembut di bahu. Kemudian memperkenalkan saudara
sepupunya.

“Hai. Apa
kabar?! Ini kenalin Teh Ia dan suaminya”

“Hey.. Baik.
(Berjabat tangan)”.

Kedatangannya
menghilangkan seluruh gundah serta galau di hati ini. Berdua bersamanya, aku
susuri parkiran yang telah bermandikan keremangan cahaya malam.

“Mobil loe
parkir dimana?”

“(Diam). Gue
bawa motor?!”.

“Ha.. Jadi loe
bawa motor!”.

“Ini, Jaketnya.
Dan ini Helmnya. Mau di pake atau nanti basah kehujunan? Udah gerimis”.

“Mau gimana
lagi. Coba? Terus loe nanti pake apa?”.

“Jangan takut
gue biasa ngga pake jaket ko!”.

Rintik hujan memayungi perjalanan
kita, menuju ke suatu pusat perbelanjaan mewah. Dalam perjalanan, tidak
henti-henti dia mendumal tentang sebab
berkendara bermotor.

“Surprise. Kalau dari awal gue bilang
bawa motor, gue yakin loe pasti ngga akan mau pergi kan?!”

“Ya. Iya-lah.
Ngomong-ngomong ko itu suara klakson motornya kayak gitu, sih!”.

“Salah, ya. Ini
itu sengaja di pasang, supaya lebih kedengaran!”.

“Emang
kedengaran, ya. Suaranya kayak tukang roti di depan rumah gue?!”.

“Udah, deh
jangan berisik. Nanti kalau mogok gimana?”.

“Kalau mogok,
gue turun dan loe gue tinggalin di tengah jalan”.

Jam
pun berlalu begitu cepatnya. Aku dan dia telah sampai di sebuah pusat
perbelanjaan mewah. Bersamanya aku melangkah pasti memasuki pelataran sebuah
Mall mewah. Sinar cahaya milik kaca-kaca bersih mengkilap mengenai wajah kita
berdua, hingga nampak seperti sebuah kaca rias. Wajah kita berdua sudah mirip dengan pemain
lenong, yang di penuhi make-up tebal
dari kotoran jalanan. Satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menghilangkan
segala kotoran ini adalah dengan mencari cara pergi ke toilet.

“Sorry, kita
tunggu dulu sebentar ya disini?”

Di
sebuah kedai kopi bersamanya aku
duduk. Segelas susu coklat terlihat sangat menggiurkan. Dan dia hanya memesan
segelas jus melon dengan taburan susu. Topik pembicaraan pembuka adalah
berkisar tentang pekerjaan. Ku ceritakan semua hal yang kukerjakan. Hingga
sampai pembicaraan pun terputus oleh panggilan dari saudaranya yang tengah
menanti di lain tempat.

Rumah
makan khas Malaysia, di tempat ini sudah duduk
dua orang wanita baya dan seorang laki-laki bertubuh gemuk, berkulit
hitam legam, yang berada tepat di tengah-tengah. Dalam hati aku terus bergumam,

“Wah. Udah kayak
terdakwa, aja nih?!”

Sosok seorang
laki-laki bertubuh gemuk terus saja melancarkan beberapa serangkaian pertanyaan
yang menyudutkan. Sebuah pertanyaan yang
mengukur seberapa besar materi yang dimiliki untuk masa depan kelak

“Outsourcing?”

“(Hening). Sudah
malam kita pulang, yuk?!”

Begitulah akhir pertemuan dengannya.
Kami berdua memutuskan untuk menutup pembicaraan dan kembali ke dunia
masing-masing. Dunia dimana aku hanya dapat bermimpi memilikinya. Dunia dimana
aku tidak tahu kapan waktu untuk bertemu kembali dengannya.

Maksud Tersembunyi SBY Membentuk Para Wakil Menteri

1318837199222270684 (Jawa Pos, 17 Oktober 2011)

Seandainya saja hari ini Presiden SBY mengumumkan hasil dari keputusannya dalam melakukan reshuffle (perombakan) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, tetap saja kejadian ini sudah layak dicatat dalam rekor dunia. Minimal dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebagai rekor seorang presiden paling lama dalam melakukan dan mengumumkan hasil sebuah perombakan kabinet.

Sudah lebih dari satu bulan proses perombakan kabinet tersebut belum juga ada hasilnya sampai hari ini. Jadi, semakin lama, semakin layak masuk “prestasi dunia” tersebut. Apalagi kalau ditambah lagi dengan rekor paling banyak sebuah kabinet mempunyai wakil menteri.

Sampai hari ini SBY telah “mencatat prestasi dunia” dengan membukukan sampai 20 orang wakil menteri dalam kabinetnya. Mudah-mudahan, tidak tambah lagi, supaya tidak bikin orang tambah heran.

Selain perombakan kabinet dengan menambah minimal 20 orang wakil menteri itu, sebaiknya juga SBY melakukan perubahan nama terhadap kabinet barunya nanti. Yakni dari nama “Kabinet Indonesia Bersatu” menjadi “Kabinet Partai Politik Bersatu”. Karena memang nama ini lebih cocok daripada namanya yang sekarang.

Sudah hampir pasti bahwa penyusunan kabinet baru hasil perombakan nanti itu akan tidak beda jauh dengan yang sekarang. Yakni mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan parpol, untuk menjalankan politik kompromi dan balas budi demi keselamatan kedudukannya di parlemen.

Sekarang saja, dari 34 menteri yang ada, 23 di antaranya berasal dari (titipan) parpol-parpol. Yang menghendaki Presiden SBY wajib menempatkan orang-orangnya di kabinet supaya tidak diganggu nanti di parlemen. Tak perduli, apakah kadernya itu punya skill atau berkompeten di Kementerian yang dijabatnya itu, ataukah tidak. Faktanya, sangat banyak menteri yang memang tidak becus. Terbukti dari begitu banyaknya (kabarnya 10) menteri yang mau diganti.

Jadi, kepentingan rakyat justru dikorbankan akibat dari ketakutan seorang Presiden kehilangan dukungannya itu. Padahal konon kabarnya beliau didukung oleh lebih dari 60 persen rakyat pemilih dalam Pilpres 2009.

Diduga kuat karena proses tawar-menawar, dan ancaman dari parpol-parpol tertentulah itulah yang membuat SBY pusing tujuh kelililing untuk bisa benar-benar menjalankan hak prerogatifnya itu.

Apalagi dengan menghadapi perilaku yang rakus dan serakah jabatan menteri yang dipertunjukkan secara tanpa malu-malu lagi itu masih ditambah dengan sikap kekanak-kanakan mereka. Lengkaplah SBY dari pusing tujuh keliling menjadi pusing tujuh puluh keliling.

Misalnya, PKS yang mengancam, kalau sampai SBY berani mengurangi satu saja jatah menteri mereka, maka mereka akan menarik semua dari empat menteri yang sekarang ada. Atau akan membeberkan rahasia kontrak politik yang pernah mereka lakukan dengan SBY. Entah rahasia apa, sampai-sampai rakyat saja tidak boleh tahu. Dan, kelihatannya ancaman itu cukup ampuh.

Ada lagi kabar seperti yang dilangsir Media Indonesia online, bahwa rencana SBY mengurangi satu jatah menteri dari PKS akan berpengaruh pada Golkar juga. Supaya PKS jangan sampai ngambek gara-gara menterinya dikurangi satu maka SBY juga akan mengurangi satu jatah menteri dari Golkar! Supaya ada “teman sependeritaan”, dan SBY kelihatannya adil, gitu. Benar-benar asli, seperti kelakuan anak-anak.

“Harus diingat bahwa Golkar itu masuk belakangan. Jadi biar PKS tidak marah, kursi Golkar juga bakal dikurangi,” ujar sumber Media Indonesia, Minggu (16/10). Maksudnya, tempo hari, PKS-lah yang lebih dulu bergabung dalam koalisi pemerintahan SBY, baru diikuti Golkar.

Menghadapi sikap tak terpuji dari parpol-parpol inilah yang sebenarnya membuat SBY melakukan keputusan yang cukup kontroversial dengan pengangkatan sedemikian banyaknya wakil menteri. Itu semua ada maksudnya.

Alasan sesungguhnya adalah bahwa sebenarnya SBY hendak mencopot beberapa menteri dari beberapa parpol, dan menggantikannya dari tokoh yang bukan dari mereka lagi. Karena stok SDM mereka tidak ada yang memenuhi syarat untuk menjadi menteri.

Kalau mau berada di jalan yang benar, SBY akan mengurangi sebanyak mungkin jatah para politisi itu sebagai menterinya. Tetapi karena adanya ketakutan dan tawar-menawar politik tersebut di ataslah, SBY tersandera, tidak berani melakukannya secara terang-terangan.

Jalan keluarnya adalah dengan mengangkat sejumlah wakil menteri itu. Dengan harapan bahwa sesungguhnya nanti yang benar-benar bekerja secara maksimal adalah para wakil menteri itu. Karena sesungguhnya merekalah yang berkualitas, memenuhi syarat dan berkompeten menjabat sebagai menteri lebih baik daripada menteri itu sendiri.

Sedangkan para politisi yang berasal dari parpol-parpol itu akan menjabat asal namanya saja sebagai menteri, tetapi karena ketidakbecusannya sesungguhnya tidak melakukan apa-apa dalam melakukan kebijakan-kebijakan rutin sehari-hari dalam menjalankan fungsi kementerian. Yang penting para menteri yang berasal dari parpol-parpol oportunis itu tetap mempunyai kewenangan-kewenangan menteri yang bisa dimanfaatkan demi keuntungan parpolnya. Sebab bukankah inilah alasan sesungguhnya mereka begitu ngebet-nya menuntut jabatan menteri ke Presiden SBY? ***

Tulisan saya lain yang berkaitan:

KEGADUHAN PEROMBAKAN KABINET, CERMIN PERILAKU PARA POLITIKUS

“Saya koleksi tas hermes 70 buah……..”

Saya jarang banget liat acara gosip artis indonesia selain karena saya tinggal di luar negeri yang akses untuk bisa nonton televisi indonesia terbatas lewat mivo tv saja, saya juga kurang menyukai tayangan ini. Tapi ketika saya bbm-an dengan sobat kompasianer saya yaitu mba chacha, kami terlibat pembicaraan yang seru mengenai koleksi tas seorang artis terkenal Angel Lelga yang mengatakan bahwa ia mempunyai koleksi tas Hermes sebanyak 70 buah. Wow kok bisa yah? padahal setahu kami tas itu sangat mahal harganya yaitu berkisar 30juta-50juta rupiah bahkan ada yang mencapai harga 500 juta rupiah. Apakah penghasilan artis sefantastis itu ya? tak heran banyak sekali orang yang bermimpi menjadi artis.


Selain Angel Lelga, banyak artis-artis indonesia yang lain memakai tas merk ini, sebut saja Maia, Syahrini, Luna Maya dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Selebriti Hollywood apalagi, sudah lama mereka ramai-ramai memakai tas ini dalam berbagai kesempatan, contoh; Kim kardasian, Katie holmes, Kelly brook, Hillary duff, Martha Stewart dan yang fenomenal adalah Victoria Beckham yang diyakini mempunyai koleksi ratusan koleksi tas Hermes. Saya? yah cuma bisa ngiler saja, bagi saya yang common people membeli tas dengan kisaran harga tersebut tentu saja sangat berat, walaupun sebenarnya saya juga penyuka tas (Wanita mana yang gak suka tas? :D).

logo merk hermes logo merk hermes


Bagaimana sih asal usul nya tas Hermes hingga digemari begitu banyak pesohor dan wanita di seluruh dunia?. Bermula ketika pada tahun 1837 Thierry Hermes membuka gerai toko nya di The Grands Boulevards of Paris dengan label Hermes, Keluarga Hermes berasal dari jerman yang menetap di Paris, Perancis. Agaknya penikmat fashion di Paris ketika itu sangat menyukai desain tas-tas hermes hingga hermes meraih penghargaan dari pemerintah pada tahun 1855 karena telah memenangkan exposition universelle di paris. Dan juga pada tahun 1867 Branded Hermes kembali meraih mendali emas pada kontes tersebut. Dari sini sejarah bermula hingga Hermes berpindah-pindah kepemilikannya ke anak cucu nya. Namun setelah Emile-Maurice wafat,  pada tahun 1978 kepemimpinan di ambil alih oleh Robert Dumas-Hermes yang bukan keturunan asli dari keluarga hermes melainkan hanya mempunyai ikatan perkawinan dengan salah satu keluarga hermes. Hingga sekarang Hermes masih menjadi branded yang digemari dan masuk bursa saham Paris pada tahun 1993.


Desain tas Hermes yang paling terkenal adalah birkin, tas ini dirancang khusus untuk seorang penyanyi Jane Birkin pada tahun 1984. Bermula ketika terjadi insiden di pesawat yang mempertemukan Jane Birkin dan Jean-Louis Damas (CEO Hermes), pertemuan itu menginspirasi Louis untuk mendesain tas yang comfy digunakan untuk membawa banyak barang. Desain nya yang original adalah berupa kunci nya, yang biasanya terbuat dari metal, pada beberapa desain dilapisi dengan emas dan juga diberi berlian. Yang paling mahal adalah desain tas birkin yang terbuat dari kulit buaya yang bisa mencapai banderol 500 juta rupiah.


Anda tertarik memilikinya? bagi sebagian yang berkantong tebal silahkan mencari yang original gerai resmi nya biasanya tersebar di mall-mall ternama, bila tas yang diinginkan ternyata out of stock jangan khawatir atau tak perlu repot-repot mencarinya hingga ke luar negeri karena banyak dari situs-situs shopping online yang memasarkannya untuk waiting list limited edition. Bagi yang common people seperti saya jangan berkecil hati karena duplikatnya pun banyak dijual, dengan istilah kw, ada kw 1, kw2, kw3 bahkan kw super. Selamat berbelanja yah temans.


sumber:Wikipedia the free encyclopedia

Jane Birkin (google) Jane Birkin (google)

victoria beckham with her birkin bag (google) victoria beckham with her birkin bag (google)

kattie holmes (google) kattie holmes (google)

Pawang Hujan di Teater Terbuka Bernama Sosial Media (1)

Sejujurnya, saya tidak begitu paham mengenai konsep ‘rainmaker (pawang hujan)’ ini, hingga suatu waktu saya diberitahu oleh teman bahwa Akademi Berbagi akan mengadakan kegiatan ‘kuliah singkat’ yang biasa diselenggarakan setiap hari Kamis, dan tema yang diangkat kali ini adalah mengenai ‘rainmaker’ di media sosial. Tidak tanggung-tanggung, tokoh yang digandeng kali ini adalah Wicaksono, yang di twitterland dikenal dengan nama Ndorokakung. Tentunya saya langsung mendaftar untuk berpartisipasi di kelas ini.

Kegiatan ‘perkuliahan’ ini diadakan di kantor Aidil Akbar, salah satu penasehat keuangan terkemuka yang bertempat di Jalan Senopati Raya 74. Setelah jam kerja, saya bersama teman-teman langsung menuju ke Senopati Raya 74, tentunya kami harus bergegas, karena perkuliahan akan dimulai pukul 18.30 wib.  Kami tiba tepat waktu dan langsung menuju ruangan kelas yang berada dilantai 2, ternyata perkuliahan baru akan dimulai setengah jam kemudian, yaitu pukul 19.00 wib.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari perwakilan Akademi Berbagi, dan barulah kemudian Ndorokakung memulai perkuliahan. Mengapa saya sebut perkuliahan, karena suasana dan tata ruangan memang mengingatkan jaman kuliah dulu, dengan bangku meja, white board dan tentunya infocus. Ndorokakung sendiri tampak sedikit canggung dengan suasana ruangan “Saya sendiri tidak terbiasa dengan kondisi begini, saya lebih terbiasa duduk lesehan dengan suasana akrab” ujar Ndorokakung disela-sela sesi awal presentasinya.

Judul presentasi Ndorokakung kali ini adalah “Menjadi Rainmaker di Sosial Media”, diawali dengan penjelasan apakah ‘Rainmaker’ itu, dan bagaimana ciri-cirinya. Menurut Ndorokakung, rainmaker atau buzzer atau influencer dapat dikenali dari follower-nya. Ada 2 ciri yang menunjukkan seseorang itu rainmaker atau bukan, pertama adalah jumlah follower dan yang kedua adalah jenis follower. Menurutnya, tidak ada patokan pasti berapa jumlah follower yang dibutuhkan untuk menjadi seorang rainmaker, tetapi ‘siapa’ yang memfollow-lah yang bisa menjadi patokan seseorang itu rainmaker atau bukan. Dengan kata lain, kualitas follower juga menentukan seseorang itu ‘rainmaker’ atau bukan.

Lalu apakah rainmaker itu? Ndorokakung menjelaskan bahwa rainmaker adalah orang-orang yang dianggap mempunyai pengaruh sehingga dapat menyebabkan orang lain ‘bergerak’. Bergerak disini maksudnya berbuat sesuatu baik secara langsung atau tidak langsung untuk melakukan saran-saran atau kampanye yang disampaikan oleh para rainmaker. Selain itu Ndorokakung juga mengaitkan dengan Prinsip (Hukum) Paretto, yang menurutnya merupakan hukum yang lazim digunakan dalam bidang ekonomi dan statistika.

Saat perkuliahan tersebut saya menangka bahwa Hukum Paretto terjadi (berlaku) juga di dunia sosial media. Jadi dari total pengguna sosial media, sebesar 20% nya adalah rainmaker, dan sisanya yang 80% adalah pengguna biasa. Tak hanya itu, Ndorokakung juga menggunakan analogi lain, yaitu analogi “teater terbuka”. Dan dengan mengaitkan dengan hukum Paretto, hanya ada 20% yang akan bermain di panggung “teater terbuka” tersebut.

Sekarang, mari kita kupas dulu apa itu Hukum Paretto. Hukum Paretto ini dikenal juga sebagai aturan 80/20, pada awalnya di termuka oleh Vilfredo Paretto pada tahun 1906. Saat itu dia mengamati 80% kepemilikan tanah di Italia hanya dimiliki oleh 20% dari populasi di daerah tersebut. Tentunya, pada saat itu, pemilik tanah hanya orang-orang yang berkuasa, kaya atau mempunyai pengaruh. Esensi yang diajukan dalam aplikasi hukum pareto adalah 80/20, dalam studinya Pareto menyampaikan dalam suatu formula matematis mengenai ketidakmerataan distribusi dari kesejahteraan di negaranya (Italia), melalui formula matematis tersebut Pareto meng-konklusikan bahwa hanya 20 % dari masyarakat yang menguasai 80% kesejahteraan, artinya hampir mayoritas atau 80% masyarakat menikmati sisa 20% hasil ekonomi atau kesejahteraan.

Kemudian prinsip ini dikembangkan oleh Juran untuk aplikasi manajemen kualitas (quality management), menjadi suatu konklusi bahwa bahwa 20% sebab menghasilkan 80% problema, atau 20% tanggung jawab menghasilkan 80% hasil, namun prinsip inipun adalah prinsip yang dinamins dimana prinsip cateris parebus juga berlaku (berlaku untuk kondisi-kondisi tertentu). Lalu bagaimana dengan media sosial dengan teater terbuka-nya?

Saya sendiri belum menemukan data yang yang mendukung hipotesa-nya Ndorokakung, tapi mari kita memakai hipotesa 80 – 20  tersebut di media sosial, kita ambil contoh di twitter. Berdasarkan data salingsilang.com pada Januari 2011 pengguna twitter di Indonesia adalah 4,88 juta akun. Kita berasumsi hanya 80% dari akun tersebut yang aktif. Maka dari 4 juta pengguna twitter di Indonesia  20% nya adalah rainmaker. Berarti sekitar 800 ribu orang Indonesia adalah rainmaker. Nah, angka yang sangat besar bukan? Jika memang rainmaker ada 800 ribu berarti tiap-tiap rainmaker hanya mempunyai 5 follower yang unik(dan tentunya bukan rainmaker), artinya 5 follower tersebut hanya memfollow satu rainmaker, tidak memfollow yang lain.

Tapi ingat, Ndorokakung juga menganalogikan media sosial sebagai teater terbuka, jadi media sosial adalah suatu ruang yang terdiri dari pemain, panggung dan kursi/tempat penonton. Jika kita menganggap teater terbuka adalah seperti amphiteater, bisa dikatakan, panggung teater luasnya kurang lebih 20% dan sisanya 80% adalah kursi penonton. Dan para ‘rainmaker’ ini adalah mereka yang ber’kicau’ diatas panggung, tapi tidak hanya itu, para ‘penonton’ juga saling berkicau dengan ‘penonton’ lainnya maupun dengan ‘aktor (baca : rainmaker)’ di panggung. Dan menurut Ndorokakung, pada akhirnya hanya akan ada 20% panggung yang riuh (banyak penonton).

Lalu, apakah dua paragraf diatas sesuai dengan hukum Paretto? Jika memperhatikan pengertian Hukum Paretto diatas, dapat terlihat ada 2 domain yang berbeda. Misalkan pada kalimat “saat itu dia mengamati 80% kepemilikan tanah di Italia hanya dimiliki oleh 20% dari populasi di daerah tersebut”, perhatikan juga kalimat berikutnya …menjadi suatu konklusi bahwa bahwa 20% sebab menghasilkan 80% problema, atau 20% tanggung jawab menghasilkan 80% hasil..

Jadi bila kita simpulkan 80% kepemilikan ruang (teater terbuka) di media sosial hanya dimiliki oleh 20% populasi di media sosial tersebut (bila dibalik 20% populasi di media sosial menghasilkan 80% kepemilikan ruang (teater terbuka)). Bagaimana menurut Anda? Seperti yang sering diulangi-ulangi oleh Ndorokakung pada “kuliah terbuka” ; Anda boleh setuju, boleh tidak. ?

Sekarang mari kita ulangi sekali lagi cerita diatas. Begitu mendengar Ndorokakung akan memberi “kuliah” di Akademi Berbagi, saya, teman saya, dan tentunya teman-teman lain yang hadir di kuliah tersebut adalah “korban-korban” dari rainmaker. Sebagian dari kami dengan sukarela menambah “jam kerja” kami untuk hadir di acara tersebut, dan tentunya kami semua adalah yang 80% populasi dari Hukum Paretto. Pada saat Anda membaca tulisan ini Anda bisa menjadi bagian yang 80% itu, dan jika anda menyebarkan tulisan ini, mungkin membuat orang lain menjadi bagian yang 80% itu…mungkin Anda yang 20%, mungkin Anda bisa menjadi yang 20% itu…(bersambung)

Organisasi Kegemukan

131883791871077706 Enam diantaranya WaMen baru (diambil dari Google)

Semua Organisasi baik pemerintahan maupun swata atau perusahaan akan sangat tergantung dengan misi/visi  si Pemimpin Organisasi tersebut, kadang Organisasi kurus simple memudahkan pemimpin dalam menjalankan misi/visi perusahaan, dan kalau terlalu gemuk maka akan sangat lambat karena koordinasi didalam menjadi semakin bertele-tele.

Sampai saat ini, banyak yang belum dimengerti oleh masyarakat kenapa Pak SBY melakukan penggemukan Organisasi dengan menambah begitu banyak Wakil Menteri, karena dengan gaya dan cara kerja Pak SBY yang penuh kehatihatian (”lambat/ragu”) maka organisasi dengan jumlah anggota yang begitu banyak akan sangat yakin menjadi tidak efektif, karena tambun sehingga lamban dan susah bergerak, yang menyebabkan rantai birokrasi yang terlalu panjang.

Setelah gonjang ganjing dengan issue reshuffle nya yang begitu memakan waktu (serta cape mengikutinya), kemudian bila telah selesai, setelah itu akan disusul dengan penyusunan uraian kerja masing masing pejabat sehingga kerjanya Menteri dan Wakil Mentri kemudian Sekjen/Dirjen menjadi jelas dan tidak tumpang tindih, maka akibat reshuffle ini kita sebagai rakyat akhirnya kehilangan waktu mungkin bisa 3-4 bulanan, sepertinya kita sudah jalan tanpa pemimpin, karena terlalu ber tele telenya dalam hal pengambilan keputusan.

Sebetulnya bila dipikir pikir, Pak SBY ini menjabat pada periode akhir dimana setelah ini beliau tidak akan bisa dipilih lagi, sehingga seharusnya apa yang beliau cari lagi tidak ada lagi, dan seharusnya hanya nama baik yang harus nya beliau kejar untuk diukirkan oleh sejarah dan itulah yang seharusnya beliau cari. Jadi dalam hal ini Pak SBY bisa menentukan tujuan yang jelas, tegas, terjangkau, dan harus menyangkut masalah bangsa serta Negara.

Misalnya tujuannya mensejahterakan rakyat, maka kerahkanlah semua kekuatan di kementerian untuk menciptakan lapangan kerja dengan target terukur, termasuk produksi pangan yang berlimpah, batasi export bahan mentah termasuk minyak sawit atau barang tambang yang harus diolah dulu menjadi bahan jadi sebelum di export untuk menaikan nilai serta menambah lapangan kerja, basmi dengan tegas koruptor. Titik tidak usah mikir apa apa lagi.

Atau misalnya, tujuannya Negara Indonesia disegani, kerahkan semua Kementerian untuk mendukung tujuan tersebut, misal Batas wilayah selesaikan dengan tegas, tingkatkan produksi dalam negeri sampai bisa ekspor, atur harga jual minyak sawit oleh Indonesia (karena telah menjadi produsen terbesar), tidak ada lagi impor barang mentah, tidak lagi bisa didikte oleh Negara (”perusahaan “) asing, stop pengirman tenaga kerja dan ciptakan tenaga kerja di dalam negeri, tingkatkan pertahanan Negara serta tumpas teroris dan sebagainya sebagainya. Titik tidak usah mikir pencitraan.

Janganlah olok olok “kalau bisa disusahkan kenapa dipermudah” biasanya menjadi slogan yang akan dijalankan oleh organisasi yang gemuk, yang disebabkan rantai menjadi sedemikian panjang maka bila tidak bekerja menjadi mubazir, tapi kalau disuruh bekerja menjadi tambahan rantai dari suatu pekerjaan, yang pada akhirnya bisa menjadi suatu yang menyebabkan kehilangan waktu dan biaya bagi semuanya bukan rakyat saja tapi juga pemerintah.

Banyak sekali Organisasi yang sedemikian besar serta gemuk sehingga tidak bisa berjalan lincah sehingga kalah bersaing dengan dengan organisasi yang ramping mungkin contoh yang paling nyata misal Pertamina Vs Petronas (meskipun Petronas belajar dari Pertamina tetapi Petronas bekerja lebih lincah), atau di Pertanian antara Pertanian Indonesia dengan Thailand (meskipun katanya tanah di Indonesia jauh lebih subur), Contoh Negara yang terlalu gemuk kemudian hancur misalnya Kesultanan Otoman Turki, atau Kerajaan Mongolia yang ekspansi ke lebih dari setengah dunia.

Mudah mudahan keluhan ini didengar dan diperhatikan sehingga beban kegemukan bagi  Organisasi Pemerintahan SBY saat ini tidak membebani kinerja secara keseluruhan, karena pada akhirnya masyarakat atau rakyat hanya menunggu kapan mereka di sejahterakan. Ngomong ngomong kesejateraan, jadi teringat kemarin siang datang seseorang dan bercerita banyak tentang menjadi pedagang kaki lima, beliau menjual sepatu dan sandal, katanya sekarang ini paling laku dua pasang sandal sehari dengan keuntungan Rp. 6000,- padahal untuk berjualan beliau mengeluarkan uang Rp. 6000,- untuk ongkos angkot pergi-pulang, dengan resiko jalan kaki dari rumahnya ke tempat angkot, sangat mengenaskan ternyata tidak ada yang didapat olehnya selama berdagang, padahal beliau mempunyai anak isteri, hanya disampaikan saja karena sangat banyak cerita seperti itu dan sangat nyata didepan mata kalau mau ikut menelusuri kehidupan masyarakat kita.

Salam kegemukan.

Tips Memilih Tablet PC atau Notebook

Konsep komputer telah berubah. Jika dulu kita membayangkan sebuah komputer merupakan produk berdesain kotak yang terkesan kaku dan dilengkapi dengan keyboard, lain halnya saat ini. Komputer muncul dengan berbagai bentuk dan ukuran, yang paling bagus saat ini berbentuk tablet yang mengandalkan layar sentuh tanpa bantuan papan ketik atau keyboard.Peningkatan popularitas tablet PC tersebut kini malah dituding sebgai salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan penjualan notebook dan netbook. Padahal, rata – rata vendor dan media memosisikan komuter tablet ini sebagai komputer ke dua, seagaipelengkp laptop dan notebook. Tapi di sisi konsumen, sering muncul kebingungan antara memilih tablet PC atau notebook. Ditambah gencarnya aksi penjual yang mempromosikan barang dagangannya, seringkali konsumen kurang puas akibat salah membeli.Untuk memastikan anda data memaksimalkan produk yang anda beli, berikut ini ada tiga langkah yang dapat dijadikan panduan pengambilan keputusan saat harus membeli antara tablet PC atau notebook.Yang pertama Kenali kebutuhan anda.Meski sama – sama tergolong sebagai komputer, namun tablet dan notebook dirancang untuk cara penggunaan dan tujuan yang berbeda. Bahkan, kebanyakan tablet PC yang beredar memiliki sistem operasi yang berbeda.Akibat adanya perbedaan sistem operasi ini, maka aplikasi atau software yang digunakan juga berbeda. Contohnya, untuk notebook berbasis sistem operasi Microsoft Windows, anda mungkin akan menggunakan Microsoft Office atau Open Office untuk membuka naskah atau menyeselesaikan laporan keuangan. Berbeda halnya dengan tablet PC, aplikasi yang digunakan sama berbeda, baik dari segi kemampuan, fitur dan cara pengunaan. Jadi pastikan kebutuhan anda dapat dipenuhi perangkat yang baru dibeli tersebut.Disini perbedaan yang paling mendasar lainnya terletak pada penggunaan keyboard. Walaupun anda dapat menggunakan tablet PC dengan keyboard tambahan, namun hapir semua aplikasi untuk tablet PC dirancang untuk memaksimalkan layar sentuhnya.Begitu sudah mengenali kebutuhan anda, kini pastikan dana yang anda miliki cukup untuk membeli yang mana. Saat menghitung dana yang disiapkan untuk membeli tablet PC atau notebook, pastikan ada dana tambahan untuk membeli aksesoris pendukung atau garansi tambahan.Beberapa tablet PC juga telah dilengkapi dengan facilitas mobile internet terintegrasi, yang memungkinkan koneksi internet melalui jaringan koneksi data operator seluler. Untuk notebook, seringkali anda harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli dongle atau modem USB untuk terkoneksi ke internet.Tergantung merek dan spesifikasi, harga tablet PC antara Rp. 1.500.000 s/d Rp. 8.000.000. sedangkan untuk netbook, antara Rp. 2.500.000 s/d Rp.6.000.000 dan notebook, antara Rp. 3.000.000 s/d Rp. 30.000.000. seringkali, perbedaan harga terletak pada merek dan beberapa fitur yang dimiliki.Salah satu keuntungan membeli tablet keluaran merek terkenal adalah dukungan purna jual serta nilai jual kembali yang lebih baik. Sedangkan untuk notebook, mengingat spesifikasi yang cenderung lebih seragam, merek, desain dan harga akan menjadi pertimbangan utama.Yang terakhir seberapa tinggi mobilitas anda.Mungkin inilah pertimbangan yang paling menentukan. Bagi yang sering berpergian, membawa notebook kadang cukup membebani akibat ukuran dan bobotnya. Apalagi jika anda membawanya untuk waktu yang cukup lama, menggunakan tas notebook ala kadarnya.Jika anda memiliki mobilitas tinggi dan kebutuhan hnya sekedar persentasi atau mengakses internet, maka tablet PC merupakan pilihan yang tepat. Selain ringan, tablet PC juga lebih dingin sehingga tidak menimbulkan masalah jika lupa dimatikan saat berada di tas. Daya tahan baterai yang panjang serta waktu menyala yang singkat menjadi nilai tambah yang patut dipertimbangkan.Komputer tablet PC boleh dibilang masih tergolong pendatang baru, sehingga perkembangannya masih dalam tahap awal. Kedepannya, tablet PC akan memiliki kemampuan dan kegunaan yang lebih banyak. Baik notebook dan tablet PC memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri – sendiri. Jadi pastikan anda tidak salah pilih.