Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

Intermezzo: Hidup Itu Mencinta?

Suatu sore pas saya sedang naik metro (kereta bawah tanah) di kota Brussels, naiklah seorang bapak dan anaknya yang kemudian duduk di bangku di depan saya.

Bapak itu orangnya kecil agak kurus tapi matanya belok dan jenaka, mirip sekali dengan aktor Roberto Benigni, pemeran Guido, bapak keluarga yang di film itali yang judulnya La Vita e Bella (kalau tidak salah) dikirim ke kam konsentrasi. Si anak umurnya sekitar 6 atau 7 tahunan, gemuk dan ceriwis.

Tadinya saya tidak menyimak obrolan mereka, tapi lama-lama jadi nguping karena lucu banget.

Mereka bicara dalam bahasa Prancis.

Si anak bertanya,
“Papa, c’est quoi la gĂ©ographie ?” (terjemahan: Babeh, geografi itu apaan sih?)

Dahi bapaknya terus mengerenyit, mikir. Tiba-tiba matanya terbuka lebar, seakan-akan ketemu jawabannya. Nih orang tampangnya ‘komik‘ banget…

Lalu sang bapak bilang,
“Geo, c’est la terre. Graphie, c’est aimer. La geographie c’est aimer, la terre, aimer la mer, les pays, l’ocean.”
(Geo artinya bumi. Grafi artinya mencinta. Jadi geographie artinya mencintai bumi, mencintai laut, mencintai negara-negara, samudra…”)

Terus si anak nanya lagi,
“alors, qui c’est le geographe?” (jadi geograf itu siapa??)

Bapaknya jawab,
“le geographe c’est les gens qui aiment la terre, l’ocean, les pays..“
(Geograf adalah orang yang mencintai bumi, samudra, negara-negara…”

Anaknya nanya lagi,
“c’est quoi la math?” (matematika itu apa?)

Bapaknya menjawab lagi,
“la math c’est aimer les chiffres, le calcul..“
(matematika berarti mencintai angka, hitung-hitungan..etc..)

Terus anak itu nanya terus: apa itu biologi, siapa itu dokter, apa itu astronomi, siapa itu astronom, dan seterusnya.

Bapaknya selalu menjawab pertanyaan si anak dengan kata “aimer” yang artinya “mencinta”..

Gile nih babeh, pikir saya dalam hati . Definisinya secara akademis emang asal-asalan, tapi konsep pikirannya jelas dan sesuatu banget: hidup itu mencinta.

Bapak ini tambah mirip aja sama tokoh Guido di film la vita e bella.

Akhirnya si bapak ajaib dan anaknya yang ceriwis itu turun duluan, masih dengan diskusi yang ujung-ujungnya mencinta…. meninggalkan saya dalam situasi termangu-mangu.

Langkah Awal Pengentasan Kemiskinan

Kebetulan diingatkan dari satu tulisan bahwa hari ini tanggal 17 Oktober adalah hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia, maka ucapan “selamat” pantas disampaikan kepada mereka yang selalu berupaya mengatasi kemiskinan.

Esensi pengentasan kemiskinan adalah terciptanya penghasilan yang (relatif) cukup, halal dan berkelanjutan bagi mereka yang sebelumnya tidak berkegiatan tanpa penghasilan atau bagi mereka yang berkegiatan tidak tentu dengan penghasilan yang juga tidak tentu kejelasannya, alias kedua duanya pengangguran dan atau orang miskin.

Bagaimana agar setiap warganegara  berhak atas/ untuk memperoleh pekerjaan sesuai konstitusi, sepertinya tidak pernah akan terselesaikan.

Berdasar hipotesa dan fakta diatas, sepatutnya siapapun pencari solusi harus mampu menjelaskan seperti apa atau dengan carabagaimana permasalahan tersebut bisa diatasi, dan jawaban itupun sebetulnya baru merupakan langkah awal dari hal - hal mendasar bagi upaya pengentasan pengangguran dan kemiskinan.

Ber(Cinta) Terakhir

Aroma kopi hitam tanpa gula terhirup kuat dari cangkir putih milik Brahma. Aku sengaja menyiapkan kopi pahit favoritnya, karena lima belas menit lagi ia akan sampai.

Brahma adalah suamiku, kami telah lima tahun menikah. Namun, rumah kami masih belum bising dengan suara tangisan anak kecil. Aku dan Brahma tidak terlalu menuntut bahkan tidak kecewa akan keadaan ini. Kami tetap bahagia dan sabar menanti datangnya masa membahagiakan itu suatu hari nanti.

“Tiiiiiinnn….!!”, suara klakson mobil Brahma masuk ke dalam garasi mungil rumah.

Aku segera bergegas membuka pintu rumah dan menyambut suamiku yang baru dinas dari Bandung selama tiga hari dua malam. Rasa rindu yang menggebu berseru di diri ini, seakan ditinggal oleh suamiku selama satu abad. Aku sangat mencintai suamiku yang sangat berwibawa dan tampan ini.

“Hai sayang.. Aku kangen sekali sama kamu. Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana? Kamu pasti capek yah?”, tanyaku bertubi pada Brahma.

“Sayaaang, aku kangeeeenn juga sama kamu. Pekerjaan aku sudah beres disana”, jawab Brahma sambil mencium keningku dan memeluk tubuhku sambil masuk ke dalam rumah.

Aku segera menyuguhkan kopi hitam yang telah kusiapkan tadi pada Brahma dan duduk disampingnya sambil berbincang, mendengarkan cerita suamiku saat ia dinas di Bandung. Semakin hari rasa cintaku kepada suamiku bukan semakin memudar, tetapi dia selalu membuat hasrat cintaku semakin bertambah dan seperti selalu mulai jatuh cinta saat mengenalnya di bangku SMA. Brahma selalu menjadikan aku seperti perempuan yang istimewa dan spesial, aku merasa istri paling beruntung di dunia ini, memiliki suami seperti Brahma Artha Wirya.

*****

04 Oktober 2006.

Hari ini adalah Anniversary pernikahan kami yang kelima. Tepat di hari Sabtu (weekend) yang akan kuhabiskan waktu ini dengan suamiku. Kami tidak berencana pergi kemana pun. Aku hanya menyiapkan hidangan spesial untuk kami dinner di Sabtu malam nanti.

Make up natural dan gaun selutut berwarna abu-abu gelap yang sengaja kubeli kemarin sore telah siap dinikmati oleh suamiku. Ia memandangku dan tersenyum manis. Senyumnya tidak berubah, persis pada saat dia melamarku lima tahun yang lalu.

Setelan jas dengan kemeja berwarna abu-abu muda bernuansa casual melekat di tubuh Brahma yang proporsional. Pria dewasa yang nyaris sempurna ini memelukku dengan erat malam ini. Kami berdansa mengikuti alunan musik klasik favorit semasa SMA.

Malam ini hanyalah milik kami berdua, tidak ada yang boleh mengganggu malam spesial ini.

“I love you, Clara…”, bisik Brahma di telingaku saat kami sedang berdansa.

“I love you too, Brahma. Happy Anniversary, sayang.”, jawabku berbisik dan semakin memeluk erat tubuh suamiku.

“Aku mau kamu seutuhnya malam ini sayang, dan selamanya.”, Brahma mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar.

Suasana kamar kami seperti saat malam pertama setelah hari pernikahan kami lima tahun silam. Dihiasi dengan lampu tidur yang romantis dan aroma terapi yang menenangkan.

Aku dan Brahma melakukan hubungan suami istri selayaknya pasangan suami istri lainnya. Ini bukan kali pertamanya kami bercinta. Namun, Brahma melakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kami sangat menikmatinya. Hingga kami tertidur.

*****

“Aaaaaaaaarrrrggghhh……”, teriakan Brahma dari kamar mandi membangunkanku di Minggu pagi ini. Aku pun segera bergegas menghampiri suamiku yang terjatuh lemas di depan wastafel kamar mandi.

“Sayang… Kamu kenapaa??!!”, tanyaku panik sambil memeluk suamiku yang duduk lemas di lantai kamar mandi. Tidak lama kemudian Brahma tidak sadarkan dirinya.

Aku segera menghubungi ambulans agar membawanya segera ke rumah sakit.

Rumah Sakit.

Aku menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa Brahma di depan ruang Gawat Darurat. Aroma kuat obat di rumah sakit ini mengingatkanku setahun yang lalu saat ibuku meninggal karena stroke. Rasa trauma itu masih terasa dibenakku. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi.

Aku terus berdoa selama dua jam menunggu di lorong rumah sakit. Dokter yang memeriksa suamiku belum juga keluar dari ruang Gawat Darurat.

Pintu ruangan Gawat Darurat pun terbuka. Seorang suster dan dokter berpakaian putih dan rapi keluar dari pintu ruangan tersebut. Aku segera menghampiri mereka dan menanyakan keadaan suamiku.

Dokter segera menenangkanku dan mengajakku ke ruangannya.

“Ibu Clara, betul Anda istri dari Bapak Brahma Artha Wirya?”, tanya dokter kepadaku dengan wajahnya yang agak kaku tapi tetap tersenyum.

“Iya betul, Dok. Jadi apa yang terjadi dengan suami saya, Dokter?”, tanyaku penuh khawatir dan sangat menunggu jawaban dari dokter.

“Suami ibu mengidap penyakit Leukimia atau kanker darah. Penyakit ini sudah cukup lama dideritanya, tapi Pak Brahma sepertinya tidak pernah mengeluh dan mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Suami ibu harus diberikan perawatan inap dan terapi di rumah sakit ini, sehingga bisa dilakukan pengobatan secara intens.”, jawab dokter menjelaskan padaku.

Aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Lututku pun terasa lemas meskipun aku sedang duduk. Air mata sudah tidak mampu lagi kubendung. Mengapa Brahma tidak pernah mengeluh dan menceritakan tentang penyakitnya selama ini. Mengapa dia tidak mengeluhkan padaku tentang apa yang ia rasakan saat merasakan rasa sakit yang dideritanya. Aku merasa telah menjadi istri terbodoh yang ada dunia, karena tidak tahu tentang masalah terberat suamiku.

Seminggu telah berlalu. Brahma masih berada dalam perawatan di rumah sakit. Setiap hari aku menjaganya di rumah sakit. Menyuapinya saat makan pagi, siang dan malam. Memberikannya obat yang telah disediakan dari rumah sakit, bahkan satu butir obat pun tak pernah tertinggal.

Suasana rumah sakit menghiasi hari-hariku dengan suamiku Brahma. Aku selalu berbincang tentang apa pun di kamar inap Brahma. Tersenyum dan tertawa bersama. Aku tidak pernah menangis dan bersedih di depan Brahma, setetes air mata pun tak pernah ada saat bersamanya. Semangat dan rasa percaya akan kesembuhan suamiku terus kutanamkan dalam benakku.

Kepalaku terasa berat sekali. Mataku berkunang-kunang saat menebus obat untuk Brahma. Aku sungguh tidak kuat menahan rasa ini. Sepertinya badanku akan ambruk dalam hitungan detik.

Saat terbangun. Aku sudah berada di kamar, di rumah sakit. Ibu mertuaku menjagaku di sofa sebelah kasurku.

“Maaahh…”, panggilku dengan suara rendah dan nyaris hilang.

“Clara, kamu sudah sadar? Tadi kamu pingsan, sayang. Mama khawatir kamu terlalu capek merawat Brahma, Nak. Besok kamu istirahat saja ya. Biar mama yang menjaga Brahma.”, jawab Ibu mertuaku panjang dengan nada khawatir.

Tidak lama kemudian, seorang dokter muda, cantik dan modis masuk ke ruangan. Sambil tersenyum, ia mengucapkan selamat kepadaku.

“Clara, selamat yaa. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu sedang mengandung, usia kandunganmu sudah sekitar seminggu lebih.”, senyum manis dokter cantik itu dengan kabar bahagianya.

“Terima kasih, Dokter.”, aku sudah tidak mampu berkata-kata. Rasa bahagia, haru dan sedih bercampur menjadi satu. Ini adalah anugerah yang selama ini aku dan Brahma tunggu. Kini impian kami datang.

*****

04 November 2006.

Kondisi Brahma tidak bertambah baik. Dokter memberitahukanku bahwa kondisi Brahma mengkhawatirkan. Usia kandunganku sudah genap sebulan. Aku berencana memberitahu kabar bahagia ini pada Brahma saat usia kandunganku genap sebulan.

Belum sampai kamar Brahma, dokter dan para suster berlarian mendahuluiku ke arah kamar Brahma. Lamunanku yang tidak jelas arahnya hilang seketika dan refleks aku ikut berlari mengikuti mereka. Tidak sempat aku masuk melewati pintu kamar Brahma, para suster menghalangiku dan tidak memperbolehkanku masuk ke dalam.

Aku hanya bisa menunggu dokter dan para suster keluar dari kamar Brahma. Lima belas menit berlalu, tidak lama kemudian suster Novita keluar dan langsung menghampiri tempat dudukku. Serentak aku berdiri, suster Novita langsung memelukku dan menangis kemudian minta maaf padaku. Aku sungguh tidak siap mendengar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut suster Novita.

“Yaaaa Tuhaaaaannn…..”, aku berteriak dan menangis keras hingga bergema di satu lorong rumah sakit. Aku sudah tidak mampu berdiri lagi. Seluruh tubuhku lemas. Bahkan aku sudah tidak mampu masuk ke dalam kamar suamiku yang kini sudah tidak bernyawa lagi. Ini adalah pukulan terdahsyat yang Tuhan berikan padaku. Aku kehilangan belahan jiwaku. Suamiku tercinta. Kini dia pergi jauh meninggalkanku sendiri.

*****

04 Oktober 2013.

“Ayah… Kartika emang nggak pernah lihat wajah Ayah. Tapi tika selalu denger cerita Bunda tentang Ayah. Kata Bunda, Ayah adalah laki-laki terbaik di dunia. Tika bangga punya Ayah seperti Ayah Brahma. Bunda sayang bangeeeet sama Ayah, Tika juga sayaaaang bangeeet sama Ayah. Ayah baik-baik yaa di surga :)”

Kartika Artha Wirya

Aku dan Kartika berziarah bersama ke makam suamiku Brahma Artha Wirya. Kartika (anakku) menulis selembar surat kecil untuk ayahnya. Air mataku menetes saat membaca surat Kartika saat di makam Brahma. Kartika tumbuh berkembang tanpa seorang Ayah yang tampan dan gagah seperti Brahma. Tetapi, aku selalu meyakinkan diriku dan anakku bahwa Brahma selalu ada di dalam hati kami. Ia tetap hidup di hati kami. Brahma akan selalu hidup di hatiku.

Aku tetap mencintaimu, suamiku.

SELESAI

created : rr.putri sari sekar kenanga

Belanja Puas, Harga Pas

Sudah di Diskon masih Dapat Hadiah Juga…

Anak kami rey yang berumur 1,5 tahun masih kuat minum susunya. Satu kotak susu yang 800 gram, habis dalam empat hari. Berarti satu bulan lebih kurang delapan kotak susu. Belum lagi pampers, satu bulan Rey membutuhkan sekitar empat kemasan yang masing-masing berisi 40 bungkus. Hehe..hehe…kalau aku total untuk susu dan pampers anakku dalam sebulan menghabiskan dana sebesar lebih kurang Rp 800.000.

Kami sekeluarga, yang selalu berbelanja di Alfamart untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sore itu berencana membeli pampers dan susu. Dengan bekal ATM BCA sebab berencana tarik tunai juga, aku ambil empat kotak susu dan dua bungkus pampers ukuran L. Memang biasanya aku membeli susu dan pampers sebulan dua kali. Di awal dan tengah bulan, karena Alfamart kan ada di deket rumah.

Wawa, anak sulung kami sibuk memilih kue dan chiki kesukaannya. Setelah semua catatan barang yang harus kami beli lengkap, aku antri di kasir. Ternyata selain diskon besar-besaran ada hadiah dari produk pampers dan susu yang kami beli. Ketika suamiku tahu diskon yang kami dapat, dia mengajak aku pulang untuk menaruh belanjaan dan kembali ke Alfamart untuk membeli susu dan pampers lagi. Hehe…hehe… padahal biasanya dia paling usil kalau aku tergiur sama diskon dan hadiah-hadiah lho. Ternyata tidak untuk Semarak Ultah Alfamart kali ini, dia kepincut juga… Benar-benar sangat menggoda, disamping memang pas untuk keperluan keluarga.

Aku seneng banget, bisa stok susu dan pampers untuk sebulan, plus diskon dan masih dapet hadiah juga… Mudah-mudahan Alfamart sering-sering mengadakan promo seperti ini. Dijamin kami nggak akan bisa pindah ke lain hati.

Terimakasih Alfamart.

Pertemuan

< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

PERTEMUAN

Oleh

Pasya Firmansyah

*Persembahan dari hati untuk dia yang jauh di
mata*

< ?xml:namespace prefix = v ns = "urn:schemas-microsoft-com:vml" />

Tidak
terasa waktu begitu cepatnya berlalu. Seharusnya sejak dulu aku sudah habiskan
waktu bersamanya. Sebelum perasaan takut akan masa depan bersarang di benaknya.
Rasa takut yang mungkin saja di miliki segenap kaum Hawa. Biarpun demikian
ternyata malam ini aku sangat beruntung dapat bertemu kembali dengannya.

H
-2

Tidak
banyak hal yang dapat di kerjakan sebagai seorang tenaga kerja outsourcing. Kesehariannya hanya menunggu
perintah dari atasan atau membicarakan orang lain. Karyawan outsourcing di tempat ini hanya sebagai
alas kaki bagi pekerja tetap lainnya, “Kalau suka silahkan ikuti aturan dan
terus bekerja. Kalau tidak suka silahkan cari tempat yang lebih baik”. Outsourcing hampir sama dengan mayat
hidup. Sebagian dari padanya memiliki prinsip yang sama “Dari pada tidak kerja,
dari pada anak dan istri terlantar?!”. Di perusahaan ini Outsourcing terdiri dari beberapa golongan jabatan. Administrasi,
pengantar surat, security, tehknisi
komputer, cleaning service, pengantar
minum serta semua pekerjaan berat lainnya. Tidak ada jenjang karir, tidak ada
tunjangan hari tua, tidak ada pesangon dan juga tidak ada upskilling. Uang bulanan yang di dapatkan, cuma sekedar untuk gali
lubang-tutup lubang. Mencari pinjaman dan membayar pinjaman. Sesekali waktu aku
ber-fantasi tentang sebab-musabab keberadaan outsourcing. Keberadaan outsourcing
di tempat ini tidak lain hanyalah sebagai alat balas dendam kesumat dari pada
kaum intelektual. Dapatlah di
bayangkan, jika semasa sekolah dulu ada satu orang juara kelas yang setiap
waktunya di isi dengan belajar. Seorang kutu buku yang menarik diri dari
lingkungan sosialisasi-nya dan merubah dirinya sebagai seorang public
enemy. Hingga akhirnya setelah berada dalam posisi kemapanan, seorang
jawara kelas tersebut melampiaskan masa lalu-nya dengan cara mengelompokkan
manusia pada kasta kepandaian dan kekayaan. Dan dampak lainnya adalah berbagai
kasus korupsi yang semakin marak terjadi, selalu berasal dari kalangan kaum intelektual.

Di
usia yang hampir memasuki kepala tiga, aku putuskan untuk tidak seperti
kebanyakan tenaga kerja outsourcing
lainnya. Kalau tidak banyak pekerjaan yang dapat di lakukan, biasanya aku
selalu pergunakan waktu senggang untuk sekedar bertegur sapa dengan teman-teman
lama di dunia maya (Chating). Di dalam content
email address tepat dimana sering kali
kugunakan untuk chating, sengaja aku hias foto profile dengan pose narsis4
yang dapat memikat perhatian untuk balas bertegur sapa. Dalam memulai
pembicaraan, sapaan yang sering kali kupakai, “Hi”. Beberapa dari mereka
membalas, “Hi juga”. Beberapa lainnya
sama sekali tidak menyahut. Tapi kali ini aku tidak perdulikan mereka menjawab
atau tidak. Sebab yang hanya ingin aku dengar adalah perkataan darinya. Seorang
gadis manis yang berasal dari kalangan Aristokrat.
Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Ani.

“Hi, pa kabar An?”.

Beberapa puluh
menit berselang dia membalas.

“Mmh” .

Kesempatan
ini hanya datang satu kali dan tidak akan pernah aku sia-siakan. Beberapa menit
lamanya, Aku renungkan sejenak kosa kata yang nantinya dapat jawaban panjang
darinya.

“Katanya loe itu
udah nikah, ya?!”.

“Kata siapa?”.

“Dari gosip
anak-anak”.

“Belum”.

“Btw (By the way). Gimana kabar Melan dan
teman-teman lainnya?”.

“Wah. Gue udah
ngga pernah kumpul sama anak-anak lagi”.

“Gimana kalau
kita reunian kecil-kecilan? Nanti gue kabarin Melan dan anak-anak lainnya,
supaya pada dateng juga”.

“Mmh, Boleh. Tapi,
nanti jemput gue aja!”.

Seperti umumnya gadis Aristokrat. Selalu mendambakan laki-laki
yang kelak kendaraan mewah dan pangeran yang selalu senantiasa membukakan pintu
untuknya. Ani pun tidak-lah jauh berbeda harapannya.

“Kapan waktunya?
Kalau besok bisa? Nanti kita ketemuan rame-rame sama anak-anak yang lainnya”.

“Bisa. Besok kebetulan
gue ketemuan sama saudara gue.. Anak-nya baru lahiran. Tapi nanti gue kasih
kabar lagi tempatnya dimana.. Berapa nomor loe?”.

“0856********.
Di tunggu kabarnya, nanti malam!”.

“Ok”.

“Bisa, ngga bisa
kasih kabar?!”.

Percakapan itu
telah membuat hati ini begitu bergelora lagi penuh gairah.

Detik
berlalu menit pun segera berganti. Semalaman ini, aku nantikan kabar berita
darinya. Gelisah serta harap-harap cemas berselimut dalam pikiran. Aku
bayangkan segala rentetan peristiwa yang nantinya akan terjadi sewaktu
pertemuan. Setiap perkataan serta tindak-tanduk yang harus aku lakukan dan
tidak boleh aku lakukan. Ke-tajaman imajinasi ini aku peroleh berkat kebiasaanku
menuliskan setiap kejadian penting yang pernah aku alami, pada sebuah buku catatan
kecil. Semakin banyak aku menulis, semakin peka panca indra ini merespon segala
kejadian yang terjadi di sekitarku.

Hampir
pukul sepuluh malam, kabar berita tidak kunjung datang darinya. Berkali-kali
aku sisir kolom inbox massages di
telepon cellular. Tidak ada satu pesan singkat pun di dalamnya. Sampai pada akhirnya,
suatu getaran dari telepon cellularku. Sabaris pesan singkat darinya.

“Maaf, besok
kita ngga jadi ketemuan. Hari Sabtu aja, gimana?”.

Aku balas
tersebut dengan setengah kesalnya.

“Ya sudah. Mau
gimana lagi.Sampai ketemu besok, Sabtu ya An!”.

H
-1

Sinar
surya belum lagi menampakkan ke agungannya. Suara kicau burung-burung gereja
bernyanyi sudah turut serta mengundang keceriaan di suasana pagi. Sebelum
bertemu matahari, aku sudah siap bergegas ke tempat kerja. Seribu meter,
ratusan kilo menjadi saksi bisu untuk sampai ke tempat kantor.

Telah
menjadi tradisi, biasanya setiap pagi selalu ada briffing di perusahaan ini. Briffing
yang menjelaskan rencana kerja dan apa yang akan di kerjakan hari ini. Tanpa
pernah kuperdulikan apa saja yang harus kulakukan hari ini. Sebab pikiranku terlalu
asyik memikirkannya. Lagi pula tugas utama-ku di kantor ini hanya menunggui
surat keluar dan mengantarkannya ke fungsi lain.

Persiapan serta seluruh rencana harus tetap
berjalan baik. Aku ambil secarik kertas serta kususun beberapa runutan kejadian
yang mungkin nanti dapat terjadi. Setelah selesai dengan semua persiapan,
saatnya membuat kepastian pertemuan. Aku hidupkan komputer guna mencari jawaban
darinya. Begitu mengejutkan, tidak biasanya kotak inbox ini di penuhi dengan pesan yang belum di buka. Diantara beberapa
pesan-pesan yang tidak penting, aku dapati pesan dari salah seorang sahabat
semasa kuliahku dulu. Ah, ternyata undangan pernikahan yang bertepatan dengan
pertemuan besok. Biasanya aku paling malas untuk datang ke acara pernikahan.
Namun kali ini, undangan ini telah membuatku mengatur ulang jadwal yang
bertepatan dengan pertemuan. Berkali-kali pesan singkat yang aku kirimkan melalui
email tidak di jawab. Tidak hilang
akal, aku hubungi lewat telepon cellular.

“Hallo.. Besok
gimana, An? Jadikan kita ketemuan!”.

“Ya.. Besok jadi.
Kita ketemu di Pondok Indah Mall”.

“Jam berapa, An?!”.

“Jam tujuh
malam”.

“Sorry.. Loe
jemput gue di ragunan aja, gimana?!”.

“Ya..Nanti gue
jemput loe disana?!”

Siang
hari itu merupakan siang terindah dalam hidupku. Tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya, dia mau untuk menemuiku. Meski aku sadari pertemuan itu hanya akan
satu kali dan tidak akan pernah berlanjut ke pertemuan berikutnya.

H

Kemacetan
sudah terlihat di mana-mana. Padahal hari ini adalah hari libur Nasional.
Klakson milik para pengumudi terdengar di setiap ruas jalanan. Tidak ada lagi
tempat bagi pejalan kaki. Para penguasa jalanan merenggut paksa lahan para
pejalan kaki. Setiap waktu adalah uang. Tanpa pernah tergesa-gesa, aku kendarai
laju sepeda motor pada kecepatan biasa.

Rasanya
pertemuan ini teramat berat di lakukan. Pikiran seakan melayang-layang membelah
dinding keramaian. Berkilo-kilo meter sudah jalan yang aku susuri. Aku
sepertinya tersesat di tengah kemacetan. Jarum jam tepat menunjukkan pukul lima
sore. Semua jalanan tampak bagaikan sebuah labirin yang berputar melingkar.
Begitu sulitnya untuk dapat sampai ke tempat resepsi pernikahan temanku.
Berkali-kali aku tanyakan alamat pada setiap orang. Beberapa kali telepon cellularku
sempat berdering. Sengaja tidak kujawab panggilan darinya. Karena aku ingin
mencari sebuah tempat yang tidak bising oleh lalu-lalang kendaraan bermotor.

Dengan
jerih payah bertanya ke setiap orang, akhirnya aku temui tempat acara resepsi
pernikahan temanku. Secepatnya jaket serta berbagai aksesori yang melekat
hangat di tubuh aku lepas serta ku taruh pada sebuah box yang tertanam di badan motor. Sekali lagi handphone berbunyi. Aku putuskan agar menjawab panggilan darinya.

“Ada apa, An?”

“Lagi ada dimana
sekarang?”

“Oh. Gue lagi di
acara resepsi teman gue dulu nih! Memangnya kenapa?”.

“Ternyata kita
ketemu-nya, jam enam! Bisa,kan?”

“Ya”.

Suaranya amat teduh terasa
menyejukkan kegalauan hati. Selesai pembicaraan, segera aku langkahkan kaki
memasuki pendopo pelaminan. Resepsi pernikahan berjalan lancar dan khidmat.
Melihat kebahagiaan pasangan pengantin membuat iri di dalam hati. Begitu iri rasanya
melihat keberuntungan di pihaknya. Menikah dengan tersedianya dana orang tua. Tanpa
perlu aku pusingkan beruntung atau tidaknya.

Matahari tengah siap ke peraduan, saatnya
melaju kembali dengan sepeda motor. Perubahan jam pertemuan memang berakibat
hilangnya daya ingat serta konsentrasi dalam mengendarai sepeda motor. Sekali lagi aku di hadapkan pada sebuah
putaran labirin. Biasanya untuk sampai ke Mall Pondok Indah hanya di butuhkan
waktu satu jam, Namun saat ini jarak tempuh bertambah menjadi dua jam. Di balik
saku kantong celana blue jeans, getaran handphone
tidak berhenti memangil-manggil. Sembari memegang stang kemudi, aku bicara dalam nada keterdesakan.

“Sorry, kita
ngga jadi ketemuan di Mall Pondok Indah. Sekarang gue lagi ada di rumah sakit
di sekitar sana, ketemuannya disini aja”.

“Ya, udah nanti
gue kesana?!”.

“Emang, loe
kemari naik apa?”

Sesuai rencana
yang telah aku susun sebelumnya. Aku alihkan perhatiannya dari pertanyaan
kendaraan.

“Ya. Sampai
ketemu disana, ya!”

Beberapa menit berlalu berganti
detik. Sampai juga akhirnya di tempat yang di tentukan. Dari arah luar rumah
sakit, aku parkirkan sepeda motor di bawah pepohonan rindang. Suara handphone kembali berdering memangil.

“Sudah ada
dimana sekarang?”.

“Ini udah ada di
parkiran”.

“Parkiran mana?
Ko, ngga kelihatan sih?!”

“Biar gue
samperin loe aja”.

Sambil terlibat
percakapan. Bergegas aku hampiri keberadaanya. Sengaja ku tutupi kedatangan
dengan berkendara sepeda motor.

“Sekarang gue
udah di lobi rumah sakit. Loe ada dimana, An?”.

“Coba deh loe
terus lurus aja. Parkiran-nya ada di pintu keluar Utara”.

“Ngga ada.
Dimana-nya?”

“Coba lihat ke depan
ada Mercy warna Silver”.

“Ya.. Gue udah
lihat?! Loe, dimana-nya?!”

“Sebentar gue
putar balik dulu! Loe tunggu di situ aja. Biar nanti gue turun samperin loe”.

“Ya. Ini juga
ngga ke mana-mana!”

Dari lawan arah,
tiba-tiba tangan-nya menepuk lembut di bahu. Kemudian memperkenalkan saudara
sepupunya.

“Hai. Apa
kabar?! Ini kenalin Teh Ia dan suaminya”

“Hey.. Baik.
(Berjabat tangan)”.

Kedatangannya
menghilangkan seluruh gundah serta galau di hati ini. Berdua bersamanya, aku
susuri parkiran yang telah bermandikan keremangan cahaya malam.

“Mobil loe
parkir dimana?”

“(Diam). Gue
bawa motor?!”.

“Ha.. Jadi loe
bawa motor!”.

“Ini, Jaketnya.
Dan ini Helmnya. Mau di pake atau nanti basah kehujunan? Udah gerimis”.

“Mau gimana
lagi. Coba? Terus loe nanti pake apa?”.

“Jangan takut
gue biasa ngga pake jaket ko!”.

Rintik hujan memayungi perjalanan
kita, menuju ke suatu pusat perbelanjaan mewah. Dalam perjalanan, tidak
henti-henti dia mendumal tentang sebab
berkendara bermotor.

“Surprise. Kalau dari awal gue bilang
bawa motor, gue yakin loe pasti ngga akan mau pergi kan?!”

“Ya. Iya-lah.
Ngomong-ngomong ko itu suara klakson motornya kayak gitu, sih!”.

“Salah, ya. Ini
itu sengaja di pasang, supaya lebih kedengaran!”.

“Emang
kedengaran, ya. Suaranya kayak tukang roti di depan rumah gue?!”.

“Udah, deh
jangan berisik. Nanti kalau mogok gimana?”.

“Kalau mogok,
gue turun dan loe gue tinggalin di tengah jalan”.

Jam
pun berlalu begitu cepatnya. Aku dan dia telah sampai di sebuah pusat
perbelanjaan mewah. Bersamanya aku melangkah pasti memasuki pelataran sebuah
Mall mewah. Sinar cahaya milik kaca-kaca bersih mengkilap mengenai wajah kita
berdua, hingga nampak seperti sebuah kaca rias. Wajah kita berdua sudah mirip dengan pemain
lenong, yang di penuhi make-up tebal
dari kotoran jalanan. Satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menghilangkan
segala kotoran ini adalah dengan mencari cara pergi ke toilet.

“Sorry, kita
tunggu dulu sebentar ya disini?”

Di
sebuah kedai kopi bersamanya aku
duduk. Segelas susu coklat terlihat sangat menggiurkan. Dan dia hanya memesan
segelas jus melon dengan taburan susu. Topik pembicaraan pembuka adalah
berkisar tentang pekerjaan. Ku ceritakan semua hal yang kukerjakan. Hingga
sampai pembicaraan pun terputus oleh panggilan dari saudaranya yang tengah
menanti di lain tempat.

Rumah
makan khas Malaysia, di tempat ini sudah duduk
dua orang wanita baya dan seorang laki-laki bertubuh gemuk, berkulit
hitam legam, yang berada tepat di tengah-tengah. Dalam hati aku terus bergumam,

“Wah. Udah kayak
terdakwa, aja nih?!”

Sosok seorang
laki-laki bertubuh gemuk terus saja melancarkan beberapa serangkaian pertanyaan
yang menyudutkan. Sebuah pertanyaan yang
mengukur seberapa besar materi yang dimiliki untuk masa depan kelak

“Outsourcing?”

“(Hening). Sudah
malam kita pulang, yuk?!”

Begitulah akhir pertemuan dengannya.
Kami berdua memutuskan untuk menutup pembicaraan dan kembali ke dunia
masing-masing. Dunia dimana aku hanya dapat bermimpi memilikinya. Dunia dimana
aku tidak tahu kapan waktu untuk bertemu kembali dengannya.

Maksud Tersembunyi SBY Membentuk Para Wakil Menteri

1318837199222270684 (Jawa Pos, 17 Oktober 2011)

Seandainya saja hari ini Presiden SBY mengumumkan hasil dari keputusannya dalam melakukan reshuffle (perombakan) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, tetap saja kejadian ini sudah layak dicatat dalam rekor dunia. Minimal dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebagai rekor seorang presiden paling lama dalam melakukan dan mengumumkan hasil sebuah perombakan kabinet.

Sudah lebih dari satu bulan proses perombakan kabinet tersebut belum juga ada hasilnya sampai hari ini. Jadi, semakin lama, semakin layak masuk “prestasi dunia” tersebut. Apalagi kalau ditambah lagi dengan rekor paling banyak sebuah kabinet mempunyai wakil menteri.

Sampai hari ini SBY telah “mencatat prestasi dunia” dengan membukukan sampai 20 orang wakil menteri dalam kabinetnya. Mudah-mudahan, tidak tambah lagi, supaya tidak bikin orang tambah heran.

Selain perombakan kabinet dengan menambah minimal 20 orang wakil menteri itu, sebaiknya juga SBY melakukan perubahan nama terhadap kabinet barunya nanti. Yakni dari nama “Kabinet Indonesia Bersatu” menjadi “Kabinet Partai Politik Bersatu”. Karena memang nama ini lebih cocok daripada namanya yang sekarang.

Sudah hampir pasti bahwa penyusunan kabinet baru hasil perombakan nanti itu akan tidak beda jauh dengan yang sekarang. Yakni mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan parpol, untuk menjalankan politik kompromi dan balas budi demi keselamatan kedudukannya di parlemen.

Sekarang saja, dari 34 menteri yang ada, 23 di antaranya berasal dari (titipan) parpol-parpol. Yang menghendaki Presiden SBY wajib menempatkan orang-orangnya di kabinet supaya tidak diganggu nanti di parlemen. Tak perduli, apakah kadernya itu punya skill atau berkompeten di Kementerian yang dijabatnya itu, ataukah tidak. Faktanya, sangat banyak menteri yang memang tidak becus. Terbukti dari begitu banyaknya (kabarnya 10) menteri yang mau diganti.

Jadi, kepentingan rakyat justru dikorbankan akibat dari ketakutan seorang Presiden kehilangan dukungannya itu. Padahal konon kabarnya beliau didukung oleh lebih dari 60 persen rakyat pemilih dalam Pilpres 2009.

Diduga kuat karena proses tawar-menawar, dan ancaman dari parpol-parpol tertentulah itulah yang membuat SBY pusing tujuh kelililing untuk bisa benar-benar menjalankan hak prerogatifnya itu.

Apalagi dengan menghadapi perilaku yang rakus dan serakah jabatan menteri yang dipertunjukkan secara tanpa malu-malu lagi itu masih ditambah dengan sikap kekanak-kanakan mereka. Lengkaplah SBY dari pusing tujuh keliling menjadi pusing tujuh puluh keliling.

Misalnya, PKS yang mengancam, kalau sampai SBY berani mengurangi satu saja jatah menteri mereka, maka mereka akan menarik semua dari empat menteri yang sekarang ada. Atau akan membeberkan rahasia kontrak politik yang pernah mereka lakukan dengan SBY. Entah rahasia apa, sampai-sampai rakyat saja tidak boleh tahu. Dan, kelihatannya ancaman itu cukup ampuh.

Ada lagi kabar seperti yang dilangsir Media Indonesia online, bahwa rencana SBY mengurangi satu jatah menteri dari PKS akan berpengaruh pada Golkar juga. Supaya PKS jangan sampai ngambek gara-gara menterinya dikurangi satu maka SBY juga akan mengurangi satu jatah menteri dari Golkar! Supaya ada “teman sependeritaan”, dan SBY kelihatannya adil, gitu. Benar-benar asli, seperti kelakuan anak-anak.

“Harus diingat bahwa Golkar itu masuk belakangan. Jadi biar PKS tidak marah, kursi Golkar juga bakal dikurangi,” ujar sumber Media Indonesia, Minggu (16/10). Maksudnya, tempo hari, PKS-lah yang lebih dulu bergabung dalam koalisi pemerintahan SBY, baru diikuti Golkar.

Menghadapi sikap tak terpuji dari parpol-parpol inilah yang sebenarnya membuat SBY melakukan keputusan yang cukup kontroversial dengan pengangkatan sedemikian banyaknya wakil menteri. Itu semua ada maksudnya.

Alasan sesungguhnya adalah bahwa sebenarnya SBY hendak mencopot beberapa menteri dari beberapa parpol, dan menggantikannya dari tokoh yang bukan dari mereka lagi. Karena stok SDM mereka tidak ada yang memenuhi syarat untuk menjadi menteri.

Kalau mau berada di jalan yang benar, SBY akan mengurangi sebanyak mungkin jatah para politisi itu sebagai menterinya. Tetapi karena adanya ketakutan dan tawar-menawar politik tersebut di ataslah, SBY tersandera, tidak berani melakukannya secara terang-terangan.

Jalan keluarnya adalah dengan mengangkat sejumlah wakil menteri itu. Dengan harapan bahwa sesungguhnya nanti yang benar-benar bekerja secara maksimal adalah para wakil menteri itu. Karena sesungguhnya merekalah yang berkualitas, memenuhi syarat dan berkompeten menjabat sebagai menteri lebih baik daripada menteri itu sendiri.

Sedangkan para politisi yang berasal dari parpol-parpol itu akan menjabat asal namanya saja sebagai menteri, tetapi karena ketidakbecusannya sesungguhnya tidak melakukan apa-apa dalam melakukan kebijakan-kebijakan rutin sehari-hari dalam menjalankan fungsi kementerian. Yang penting para menteri yang berasal dari parpol-parpol oportunis itu tetap mempunyai kewenangan-kewenangan menteri yang bisa dimanfaatkan demi keuntungan parpolnya. Sebab bukankah inilah alasan sesungguhnya mereka begitu ngebet-nya menuntut jabatan menteri ke Presiden SBY? ***

Tulisan saya lain yang berkaitan:

KEGADUHAN PEROMBAKAN KABINET, CERMIN PERILAKU PARA POLITIKUS

“Saya koleksi tas hermes 70 buah……..”

Saya jarang banget liat acara gosip artis indonesia selain karena saya tinggal di luar negeri yang akses untuk bisa nonton televisi indonesia terbatas lewat mivo tv saja, saya juga kurang menyukai tayangan ini. Tapi ketika saya bbm-an dengan sobat kompasianer saya yaitu mba chacha, kami terlibat pembicaraan yang seru mengenai koleksi tas seorang artis terkenal Angel Lelga yang mengatakan bahwa ia mempunyai koleksi tas Hermes sebanyak 70 buah. Wow kok bisa yah? padahal setahu kami tas itu sangat mahal harganya yaitu berkisar 30juta-50juta rupiah bahkan ada yang mencapai harga 500 juta rupiah. Apakah penghasilan artis sefantastis itu ya? tak heran banyak sekali orang yang bermimpi menjadi artis.


Selain Angel Lelga, banyak artis-artis indonesia yang lain memakai tas merk ini, sebut saja Maia, Syahrini, Luna Maya dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Selebriti Hollywood apalagi, sudah lama mereka ramai-ramai memakai tas ini dalam berbagai kesempatan, contoh; Kim kardasian, Katie holmes, Kelly brook, Hillary duff, Martha Stewart dan yang fenomenal adalah Victoria Beckham yang diyakini mempunyai koleksi ratusan koleksi tas Hermes. Saya? yah cuma bisa ngiler saja, bagi saya yang common people membeli tas dengan kisaran harga tersebut tentu saja sangat berat, walaupun sebenarnya saya juga penyuka tas (Wanita mana yang gak suka tas? :D).

logo merk hermes logo merk hermes


Bagaimana sih asal usul nya tas Hermes hingga digemari begitu banyak pesohor dan wanita di seluruh dunia?. Bermula ketika pada tahun 1837 Thierry Hermes membuka gerai toko nya di The Grands Boulevards of Paris dengan label Hermes, Keluarga Hermes berasal dari jerman yang menetap di Paris, Perancis. Agaknya penikmat fashion di Paris ketika itu sangat menyukai desain tas-tas hermes hingga hermes meraih penghargaan dari pemerintah pada tahun 1855 karena telah memenangkan exposition universelle di paris. Dan juga pada tahun 1867 Branded Hermes kembali meraih mendali emas pada kontes tersebut. Dari sini sejarah bermula hingga Hermes berpindah-pindah kepemilikannya ke anak cucu nya. Namun setelah Emile-Maurice wafat,  pada tahun 1978 kepemimpinan di ambil alih oleh Robert Dumas-Hermes yang bukan keturunan asli dari keluarga hermes melainkan hanya mempunyai ikatan perkawinan dengan salah satu keluarga hermes. Hingga sekarang Hermes masih menjadi branded yang digemari dan masuk bursa saham Paris pada tahun 1993.


Desain tas Hermes yang paling terkenal adalah birkin, tas ini dirancang khusus untuk seorang penyanyi Jane Birkin pada tahun 1984. Bermula ketika terjadi insiden di pesawat yang mempertemukan Jane Birkin dan Jean-Louis Damas (CEO Hermes), pertemuan itu menginspirasi Louis untuk mendesain tas yang comfy digunakan untuk membawa banyak barang. Desain nya yang original adalah berupa kunci nya, yang biasanya terbuat dari metal, pada beberapa desain dilapisi dengan emas dan juga diberi berlian. Yang paling mahal adalah desain tas birkin yang terbuat dari kulit buaya yang bisa mencapai banderol 500 juta rupiah.


Anda tertarik memilikinya? bagi sebagian yang berkantong tebal silahkan mencari yang original gerai resmi nya biasanya tersebar di mall-mall ternama, bila tas yang diinginkan ternyata out of stock jangan khawatir atau tak perlu repot-repot mencarinya hingga ke luar negeri karena banyak dari situs-situs shopping online yang memasarkannya untuk waiting list limited edition. Bagi yang common people seperti saya jangan berkecil hati karena duplikatnya pun banyak dijual, dengan istilah kw, ada kw 1, kw2, kw3 bahkan kw super. Selamat berbelanja yah temans.


sumber:Wikipedia the free encyclopedia

Jane Birkin (google) Jane Birkin (google)

victoria beckham with her birkin bag (google) victoria beckham with her birkin bag (google)

kattie holmes (google) kattie holmes (google)

Organisasi Kegemukan

131883791871077706 Enam diantaranya WaMen baru (diambil dari Google)

Semua Organisasi baik pemerintahan maupun swata atau perusahaan akan sangat tergantung dengan misi/visi  si Pemimpin Organisasi tersebut, kadang Organisasi kurus simple memudahkan pemimpin dalam menjalankan misi/visi perusahaan, dan kalau terlalu gemuk maka akan sangat lambat karena koordinasi didalam menjadi semakin bertele-tele.

Sampai saat ini, banyak yang belum dimengerti oleh masyarakat kenapa Pak SBY melakukan penggemukan Organisasi dengan menambah begitu banyak Wakil Menteri, karena dengan gaya dan cara kerja Pak SBY yang penuh kehatihatian (”lambat/ragu”) maka organisasi dengan jumlah anggota yang begitu banyak akan sangat yakin menjadi tidak efektif, karena tambun sehingga lamban dan susah bergerak, yang menyebabkan rantai birokrasi yang terlalu panjang.

Setelah gonjang ganjing dengan issue reshuffle nya yang begitu memakan waktu (serta cape mengikutinya), kemudian bila telah selesai, setelah itu akan disusul dengan penyusunan uraian kerja masing masing pejabat sehingga kerjanya Menteri dan Wakil Mentri kemudian Sekjen/Dirjen menjadi jelas dan tidak tumpang tindih, maka akibat reshuffle ini kita sebagai rakyat akhirnya kehilangan waktu mungkin bisa 3-4 bulanan, sepertinya kita sudah jalan tanpa pemimpin, karena terlalu ber tele telenya dalam hal pengambilan keputusan.

Sebetulnya bila dipikir pikir, Pak SBY ini menjabat pada periode akhir dimana setelah ini beliau tidak akan bisa dipilih lagi, sehingga seharusnya apa yang beliau cari lagi tidak ada lagi, dan seharusnya hanya nama baik yang harus nya beliau kejar untuk diukirkan oleh sejarah dan itulah yang seharusnya beliau cari. Jadi dalam hal ini Pak SBY bisa menentukan tujuan yang jelas, tegas, terjangkau, dan harus menyangkut masalah bangsa serta Negara.

Misalnya tujuannya mensejahterakan rakyat, maka kerahkanlah semua kekuatan di kementerian untuk menciptakan lapangan kerja dengan target terukur, termasuk produksi pangan yang berlimpah, batasi export bahan mentah termasuk minyak sawit atau barang tambang yang harus diolah dulu menjadi bahan jadi sebelum di export untuk menaikan nilai serta menambah lapangan kerja, basmi dengan tegas koruptor. Titik tidak usah mikir apa apa lagi.

Atau misalnya, tujuannya Negara Indonesia disegani, kerahkan semua Kementerian untuk mendukung tujuan tersebut, misal Batas wilayah selesaikan dengan tegas, tingkatkan produksi dalam negeri sampai bisa ekspor, atur harga jual minyak sawit oleh Indonesia (karena telah menjadi produsen terbesar), tidak ada lagi impor barang mentah, tidak lagi bisa didikte oleh Negara (”perusahaan “) asing, stop pengirman tenaga kerja dan ciptakan tenaga kerja di dalam negeri, tingkatkan pertahanan Negara serta tumpas teroris dan sebagainya sebagainya. Titik tidak usah mikir pencitraan.

Janganlah olok olok “kalau bisa disusahkan kenapa dipermudah” biasanya menjadi slogan yang akan dijalankan oleh organisasi yang gemuk, yang disebabkan rantai menjadi sedemikian panjang maka bila tidak bekerja menjadi mubazir, tapi kalau disuruh bekerja menjadi tambahan rantai dari suatu pekerjaan, yang pada akhirnya bisa menjadi suatu yang menyebabkan kehilangan waktu dan biaya bagi semuanya bukan rakyat saja tapi juga pemerintah.

Banyak sekali Organisasi yang sedemikian besar serta gemuk sehingga tidak bisa berjalan lincah sehingga kalah bersaing dengan dengan organisasi yang ramping mungkin contoh yang paling nyata misal Pertamina Vs Petronas (meskipun Petronas belajar dari Pertamina tetapi Petronas bekerja lebih lincah), atau di Pertanian antara Pertanian Indonesia dengan Thailand (meskipun katanya tanah di Indonesia jauh lebih subur), Contoh Negara yang terlalu gemuk kemudian hancur misalnya Kesultanan Otoman Turki, atau Kerajaan Mongolia yang ekspansi ke lebih dari setengah dunia.

Mudah mudahan keluhan ini didengar dan diperhatikan sehingga beban kegemukan bagi  Organisasi Pemerintahan SBY saat ini tidak membebani kinerja secara keseluruhan, karena pada akhirnya masyarakat atau rakyat hanya menunggu kapan mereka di sejahterakan. Ngomong ngomong kesejateraan, jadi teringat kemarin siang datang seseorang dan bercerita banyak tentang menjadi pedagang kaki lima, beliau menjual sepatu dan sandal, katanya sekarang ini paling laku dua pasang sandal sehari dengan keuntungan Rp. 6000,- padahal untuk berjualan beliau mengeluarkan uang Rp. 6000,- untuk ongkos angkot pergi-pulang, dengan resiko jalan kaki dari rumahnya ke tempat angkot, sangat mengenaskan ternyata tidak ada yang didapat olehnya selama berdagang, padahal beliau mempunyai anak isteri, hanya disampaikan saja karena sangat banyak cerita seperti itu dan sangat nyata didepan mata kalau mau ikut menelusuri kehidupan masyarakat kita.

Salam kegemukan.

Perlindungan Hak Konsumen [Bag. 2]

Sesi kedua pada 28 September 2011 pukul 18.30WIB kembali rumah kami kedatangan penjabat bank-ku yang masih sama diwakili oleh beliau berdua saat 4 Juli 2011 lalu. kami sedikit bermain insting bahwasannya kabar tak sedap yang akan kami dapatkan. Tepat..,di awali dengan permohonan maaf, penjabat bank-ku menyatakakn bahwa komitmen bank-ku saat 4 Juli 2011 lalu untuk pemberian copy atau duplikat SHM rumah kepada kami saat 4 Oktober 2011 nanti tak dapat dipenuhi dengan alibi yang kami nilai unreasonable. Geram kami mendengarnya lalu kami pun berujar; “bagaimana dengan pagar jaring penghalang ?” yang sejak awal kami sampaikan sejatinya fasum itu memang bukan tanggungjawab bank-ku. Dan jawaban yang kami dapat dari penjabat bank-ku; “baik pak akan segera kami bantu realisasikan dengan catatan jangan mahal - mahal pak dan juga mbok ya dicarikan subcon-nya pak “. Masih pula kami berbaik hati dengan menyarankan; “ sebaiknya bapak kalkulasikan dan dipertimbangkan lagi “..jawabannya; “yah nantinya akan kami tagihkan ke developer ybs tapi yang mana jika developer tidak mau..,yah mau tak mau jadi beban saya dan mas anjar “

Kala esok 29 September 2011 kami penuhi komitmen kami dengan mengirim subcon yang dimaksud. Isi pembicaraan, proses negosiasi dll kami tidak terlibat di dalamnya.

Via transmisi email penjabat bank-ku tanggal 3 Oktober 2011 menyatakan semua komitmen yang pernah dilontarkan kepada kami secara 360 derajat berbalik…dalam arti sama sekali tidak dapat dipenuhi. Ada 2 point dari total 5 point dalam email bank-ku yang sangat menarik. kutipan kalimat point 4; “jika saudara mengancam akan menulis di media massa…” lalu kami jawab; “pada bagian mana bila kami mengancam…”

Dan kutipan kalimat point 5; “pada saat ini kami sedang berkonsultasi dengan pihak lawyer perusahaan..” Luuuuarrrrr Biasaaaaa…

Apapun kalimat atau komitmen yang terlontar dari pimpinan cabang operasional atau divisi legal merupakan refleksi serta merepresentasikan bank sekaliber Bank-ku…semudah itukah diingkari ??Menyampaikan keluhan di kolom suara pembaca dengan tujuan mendapatkan solusi yang konkrit serta nyata dibilang “Mengancam”.. tak akan kami bersusah payah jika faktanya kami bukan nasabah dari bank-ku…lho kami ini nasabahnya kok. Sejatinya hubungan yang terjalin itu, konsumen - developer - bank, seharusnya bersifat simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.

Sinyalemen yang ditenggarai sepanjang beberapa tahun ke belakang, berupa komoditi “Perbuatan Tidak Menyenangkan & Pencemaran Nama Baik” ramai - ramai disunting terutama oleh pelaku usaha dengan beragam motivasi; brand image, prestige atau shock therapy.

Sebenarnya flow yang prosedural adalah melalui BPSK tapi kemanaaa ekspresimu……? seperti civil versus state…break the wall ?

Easy to Say a Commitment but Hard to do… maka dari itu think and do something more clearly before you take it for granted

Will You Stay a Little Bit Longer Than You Should?

saya bukan srikandhi. apalagi sembadra.

Sudah 5 malam aku tak mendapat pesan darimu. Sesiang inipun , satu smsku tak ada yang berbalas. Aku tak tahu entah apa yang terjadi. Okelah, mungkin aku berlebihan atau lebay seperti katamu. Tapi tidak adakah waktu sedetik saja untuk membalas satu pesanku dan mengabari, bahwa kamu baik-baik saja?

Aku juga merasakannya Sayang, ketika 4 bulan ini menjadi bulan-bulan terkacau dan terberat kita. Aku begitu paham, mungkin kamu sudah merasa jenuh kepadaku. Lelah mendengar semua ceritaku. Muak mencium pipiku. Dan mungkin tak ingin bersamaku. Tapi, tidakkah kita bisa memperbaikinya?

Aku sangat suka pedas. Kamu tahu kan aku sangat suka sekali pedas? Dan mungkin disini kamu adalah cabai yang sangat pedas sedunia. Tapi tak membuatku kapok untuk memakannya. Bahkan aku rela mengorek-korek dengan tanganku untuk menikmati di pedas terakhir. Kapok lombok kata orang Jawa.

“Will U stay a little bit longer than U should?”

Kata-kata itu yang selalu aku ingat. Bahkan sudah meresap ke nadi-nadiku. Kata itu yang membuatku berani mengambil resiko untuk selalu mendekatimu ketika kau mulai kesal dan marah kepadaku.

Aku juga jadi ingat episode film “Spongebob Squarepants” yang berjudul “The Paper”. Disana, Squidward mengatakan bahwa Spongebob boleh memiliki kertas bekas milik Squidward, dan meskipun nanti Squidward memohon-mohon untuk memintanya kembali, Spongebob tidak boleh mengembalikannya. Apapun yang terjadi. Dan ini yang terjadi kepadaku. Kamu pernah bilang agar aku tak boleh kemana-mana, meskipun kamu memintaku. Aku harus tetap bersamamu. Dan inilah aku, Spongebob yang lugu dan bodoh.

Kukira selama ini kita baik-baik saja. Sampai suatu ketika kutemukan diriku bercermin dan kulihat mataku yang menghitam karena sering menangis. Sampai suatu ketika kulihat dirimu menahan mual ketika mencium pipiku. Ah, aku hanya seorang yang terlalu lemah saat ini.

Kau bilang aku butuh psikiater, karena kadang emosiku membuatku tak terkontrol, sedih tak terhingga. Dan aku sudah menemui seorang psikiater itu. Tapi dia mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Entah aku yang salah dengar atau memang dalam pikiranku dia mengatakan hal itu. Aku merasa seperti berada di dalam film “The Shutter Island” dan menemukan diriku menjadi gila, dibuat gila, bahkan gila.

Tapi Sayang, hei… aku masih disini. Menggenggam telepon genggamku. Menunggu sebuah pesan dikirim untukku. Darimu.

Tips Memilih Tablet PC atau Notebook

Konsep komputer telah berubah. Jika dulu kita membayangkan sebuah komputer merupakan produk berdesain kotak yang terkesan kaku dan dilengkapi dengan keyboard, lain halnya saat ini. Komputer muncul dengan berbagai bentuk dan ukuran, yang paling bagus saat ini berbentuk tablet yang mengandalkan layar sentuh tanpa bantuan papan ketik atau keyboard.Peningkatan popularitas tablet PC tersebut kini malah dituding sebgai salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan penjualan notebook dan netbook. Padahal, rata – rata vendor dan media memosisikan komuter tablet ini sebagai komputer ke dua, seagaipelengkp laptop dan notebook. Tapi di sisi konsumen, sering muncul kebingungan antara memilih tablet PC atau notebook. Ditambah gencarnya aksi penjual yang mempromosikan barang dagangannya, seringkali konsumen kurang puas akibat salah membeli.Untuk memastikan anda data memaksimalkan produk yang anda beli, berikut ini ada tiga langkah yang dapat dijadikan panduan pengambilan keputusan saat harus membeli antara tablet PC atau notebook.Yang pertama Kenali kebutuhan anda.Meski sama – sama tergolong sebagai komputer, namun tablet dan notebook dirancang untuk cara penggunaan dan tujuan yang berbeda. Bahkan, kebanyakan tablet PC yang beredar memiliki sistem operasi yang berbeda.Akibat adanya perbedaan sistem operasi ini, maka aplikasi atau software yang digunakan juga berbeda. Contohnya, untuk notebook berbasis sistem operasi Microsoft Windows, anda mungkin akan menggunakan Microsoft Office atau Open Office untuk membuka naskah atau menyeselesaikan laporan keuangan. Berbeda halnya dengan tablet PC, aplikasi yang digunakan sama berbeda, baik dari segi kemampuan, fitur dan cara pengunaan. Jadi pastikan kebutuhan anda dapat dipenuhi perangkat yang baru dibeli tersebut.Disini perbedaan yang paling mendasar lainnya terletak pada penggunaan keyboard. Walaupun anda dapat menggunakan tablet PC dengan keyboard tambahan, namun hapir semua aplikasi untuk tablet PC dirancang untuk memaksimalkan layar sentuhnya.Begitu sudah mengenali kebutuhan anda, kini pastikan dana yang anda miliki cukup untuk membeli yang mana. Saat menghitung dana yang disiapkan untuk membeli tablet PC atau notebook, pastikan ada dana tambahan untuk membeli aksesoris pendukung atau garansi tambahan.Beberapa tablet PC juga telah dilengkapi dengan facilitas mobile internet terintegrasi, yang memungkinkan koneksi internet melalui jaringan koneksi data operator seluler. Untuk notebook, seringkali anda harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli dongle atau modem USB untuk terkoneksi ke internet.Tergantung merek dan spesifikasi, harga tablet PC antara Rp. 1.500.000 s/d Rp. 8.000.000. sedangkan untuk netbook, antara Rp. 2.500.000 s/d Rp.6.000.000 dan notebook, antara Rp. 3.000.000 s/d Rp. 30.000.000. seringkali, perbedaan harga terletak pada merek dan beberapa fitur yang dimiliki.Salah satu keuntungan membeli tablet keluaran merek terkenal adalah dukungan purna jual serta nilai jual kembali yang lebih baik. Sedangkan untuk notebook, mengingat spesifikasi yang cenderung lebih seragam, merek, desain dan harga akan menjadi pertimbangan utama.Yang terakhir seberapa tinggi mobilitas anda.Mungkin inilah pertimbangan yang paling menentukan. Bagi yang sering berpergian, membawa notebook kadang cukup membebani akibat ukuran dan bobotnya. Apalagi jika anda membawanya untuk waktu yang cukup lama, menggunakan tas notebook ala kadarnya.Jika anda memiliki mobilitas tinggi dan kebutuhan hnya sekedar persentasi atau mengakses internet, maka tablet PC merupakan pilihan yang tepat. Selain ringan, tablet PC juga lebih dingin sehingga tidak menimbulkan masalah jika lupa dimatikan saat berada di tas. Daya tahan baterai yang panjang serta waktu menyala yang singkat menjadi nilai tambah yang patut dipertimbangkan.Komputer tablet PC boleh dibilang masih tergolong pendatang baru, sehingga perkembangannya masih dalam tahap awal. Kedepannya, tablet PC akan memiliki kemampuan dan kegunaan yang lebih banyak. Baik notebook dan tablet PC memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri – sendiri. Jadi pastikan anda tidak salah pilih.