Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Intermezzo: Hidup Itu Mencinta?

Suatu sore pas saya sedang naik metro (kereta bawah tanah) di kota Brussels, naiklah seorang bapak dan anaknya yang kemudian duduk di bangku di depan saya.

Bapak itu orangnya kecil agak kurus tapi matanya belok dan jenaka, mirip sekali dengan aktor Roberto Benigni, pemeran Guido, bapak keluarga yang di film itali yang judulnya La Vita e Bella (kalau tidak salah) dikirim ke kam konsentrasi. Si anak umurnya sekitar 6 atau 7 tahunan, gemuk dan ceriwis.

Tadinya saya tidak menyimak obrolan mereka, tapi lama-lama jadi nguping karena lucu banget.

Mereka bicara dalam bahasa Prancis.

Si anak bertanya,
“Papa, c’est quoi la gĂ©ographie ?” (terjemahan: Babeh, geografi itu apaan sih?)

Dahi bapaknya terus mengerenyit, mikir. Tiba-tiba matanya terbuka lebar, seakan-akan ketemu jawabannya. Nih orang tampangnya ‘komik‘ banget…

Lalu sang bapak bilang,
“Geo, c’est la terre. Graphie, c’est aimer. La geographie c’est aimer, la terre, aimer la mer, les pays, l’ocean.”
(Geo artinya bumi. Grafi artinya mencinta. Jadi geographie artinya mencintai bumi, mencintai laut, mencintai negara-negara, samudra…”)

Terus si anak nanya lagi,
“alors, qui c’est le geographe?” (jadi geograf itu siapa??)

Bapaknya jawab,
“le geographe c’est les gens qui aiment la terre, l’ocean, les pays..“
(Geograf adalah orang yang mencintai bumi, samudra, negara-negara…”

Anaknya nanya lagi,
“c’est quoi la math?” (matematika itu apa?)

Bapaknya menjawab lagi,
“la math c’est aimer les chiffres, le calcul..“
(matematika berarti mencintai angka, hitung-hitungan..etc..)

Terus anak itu nanya terus: apa itu biologi, siapa itu dokter, apa itu astronomi, siapa itu astronom, dan seterusnya.

Bapaknya selalu menjawab pertanyaan si anak dengan kata “aimer” yang artinya “mencinta”..

Gile nih babeh, pikir saya dalam hati . Definisinya secara akademis emang asal-asalan, tapi konsep pikirannya jelas dan sesuatu banget: hidup itu mencinta.

Bapak ini tambah mirip aja sama tokoh Guido di film la vita e bella.

Akhirnya si bapak ajaib dan anaknya yang ceriwis itu turun duluan, masih dengan diskusi yang ujung-ujungnya mencinta…. meninggalkan saya dalam situasi termangu-mangu.

Langkah Awal Pengentasan Kemiskinan

Kebetulan diingatkan dari satu tulisan bahwa hari ini tanggal 17 Oktober adalah hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia, maka ucapan “selamat” pantas disampaikan kepada mereka yang selalu berupaya mengatasi kemiskinan.

Esensi pengentasan kemiskinan adalah terciptanya penghasilan yang (relatif) cukup, halal dan berkelanjutan bagi mereka yang sebelumnya tidak berkegiatan tanpa penghasilan atau bagi mereka yang berkegiatan tidak tentu dengan penghasilan yang juga tidak tentu kejelasannya, alias kedua duanya pengangguran dan atau orang miskin.

Bagaimana agar setiap warganegara  berhak atas/ untuk memperoleh pekerjaan sesuai konstitusi, sepertinya tidak pernah akan terselesaikan.

Berdasar hipotesa dan fakta diatas, sepatutnya siapapun pencari solusi harus mampu menjelaskan seperti apa atau dengan carabagaimana permasalahan tersebut bisa diatasi, dan jawaban itupun sebetulnya baru merupakan langkah awal dari hal - hal mendasar bagi upaya pengentasan pengangguran dan kemiskinan.

Resuffle Kabinet IB 2: Strategi Politik SBY Redam Isu Sengketa Tapal Batas Krisis Papua?

Beberapa minggu belakangan ini  terjadi pemogokan ribuan karyawan Freeport yang menimbulkan kerusuhan  ,bahkan sudah menelan korban jiwa namun pihak manajemen Freeport  masih bersikokoh pada sikapnya semula. Para karyawan menuntut supaya pihak manajemen Freeport menaikkan gaji mereka ,serta memulihkan kembali hak tanah adat masyarakat Papua seiring meningkatkan kesejahteraan para karyawannya.

Kedua belah pihak belum tercapai kesepakatan,karena sedang terjadi proses perundingan justeru terjadi kewrusuhan yang menewaskan 2 orang,dan kemuidian disusul  serentetan penembakan yang diduga dilakukan oleh anggota OPM yang juga merenggut 3 korban  jiwa (Jumat 14 Oktober 2011).Kerusuhan yang berlangsung sejak beberapa minggu lalu tidak terlepas dari rentetan kerusuhan sebelumnya,Nafri,Koya-Adipura,dan kerusuhan Puncak jaya ekses dari pilkbup sesama kandidat Partai Gerindra yang menewaskan 19 orang .

Meskipun eskalasi konflik Papua terkesan meningkat sehingga tiga kontainer Freeport dibakar massa,serta ribuan karyawan masih memblokir jalur akses dari dan ke Freeport sampai sekarang,tetapi kelihatannya pemerintah masih kurang serius dalam mengupayakan penyelesainanya.Kini Presiden SBY malahan sengaja mendramatisasikan proses resuffle kabinet Indonesia Bersatu jilid dua ,yang dimulai minggu lalu sampai sekarang  masih berlangsung dengan penuh euforia.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)yang kadangkala berkantor di istananya di Jakarta dan kadangkala pula di istananya di Puri Cikeas,Bogor.Dalam mobilitasnya yang relatif tinggi dari Purinya di Cikeas SBY mengabsen satu persatu kandidat -kandidat yang diharapkan bisa memperkuat posisinya kedepan yang terus terpuruk itu. SBY pada tahun 2009 mendapat dukungan 60 persen suara masyarakat Indonesia ,namun karena kegagalnnya dalam mengelola pemerintahannya sehingga berikutnya dukunganpun merosot tajam menjadi 462 persen tahun 2011 meskipun tahun sebelumnya 2010 sempat meningkat dukungan masyarakat Indonesia sebesar 60,7 persen.

Tetapi SBY sepertinya tidak kapok sehingga kemorosotan dukungan masyarakat Indonesia  tersebut belum cukup  menjadi suatu pembelajaran bagi dirinya,tetapi sebaliknya SBY terus semakin lamban dan galau ,gamang dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial yang dihadapkan kepadanya.Berbagai politik”pencitraan”keluh kewsah terus menerus di lancarkan untuk menarik dukungan masyarakat Indonesia,namun masyarakat yang sudah terkesan apatis cuek tidak peduli terhadap startegi pencitraan tersebut.

Menyadari kegagalannya itu,maka mulailah SBY mengelola strategi baru dengan harapan bisa mengalihkan sorotan  masyarakat Indonesia dari skandal-skandal dan krisis politik,ekonomi,hukum ,terorisme, premanisme antara kelompok sosial,sekte keagamaan dan aspek sosial budaya lainnya ke isu -isu resuffle kabinet.Karenanya setelah beredar beberapa nama kandidat menteri karena ada pihak-pihak yang membocorkan ketyengah-tengah masyarakat SBY kemudian dalam konferensi persnya menyebutkan bahwa hal itu tidak pernah disampaikannya.

Kini apa yang sebelumnya ia bantah justeru mulai kelihatan sosok-sosoknya ,yang setiap harinya sengaja dicicil pengumannya  tentang siapa-saja yang akan menduduki kabinet Indonesia bersatu yang semakin gemuk tersebut. Tragisnya pula terdapat dua wakil menteri yang mengurus bidang pendidikan,yang akan menjadikan dualisme di bidang pendidkan selain pendidikan dibawah berbagai departemen yang ada,seperti Depag,Depdagri,Depkeu dan sebagainya.

Postur kabinet yang gemuk dan setengah zaken itu  akan menyebabkan semakin carut marutnya proses dalam pengambilan keputusan dalam menganggapi sesuatu kebijakan kedepan,yang pada gilirannya akan menambah lambannya  proses pembangunan dalam berbagai aspek sosial kehidupan masyarakat.Khususnya dalam bidang pendidikan sebagai pilar bagi kecerdasan bangsa akan terjadi konflik tarik ulur antara seseorang menteri yang berasal dari Partai Politik dengan para wakilnya dari kalangan akademis itu.

Proses tarik ulur tersebut bisa menambah komplikasi dalam birokrasi dan masyarakat Indonesia,sehingga krisis ini akan menjadi suatu permasalah besar kedepan yang bisa mengabaikan segala masalah-masalah lainnya termasuk masalah sengketa perbatasan RI-Malaya ,Singapore,Papua Nugini ataupun masalah krisis Papua . Jika fenomena ini benar-benar terjadi,maka berbagai unsur-unsur asing akan dengan mudah mengobo-ngobo berbagai masalah  sosial di papua  yang hingga sekarang masih belum berhenti itu.Mengapa pemerintah belum juga dengan serius mengentaskannya ,bahkan lebih menyibukkan diri dengan politik  dagang sapinya itu ,dengan mebagi-bagi kekuasaan kepadas kroni-kroninya dengan  mengabaikan berbagai aspek sosial hajat hidup masyarakat Indonesia.

Belanja Puas, Harga Pas

Sudah di Diskon masih Dapat Hadiah Juga…

Anak kami rey yang berumur 1,5 tahun masih kuat minum susunya. Satu kotak susu yang 800 gram, habis dalam empat hari. Berarti satu bulan lebih kurang delapan kotak susu. Belum lagi pampers, satu bulan Rey membutuhkan sekitar empat kemasan yang masing-masing berisi 40 bungkus. Hehe..hehe…kalau aku total untuk susu dan pampers anakku dalam sebulan menghabiskan dana sebesar lebih kurang Rp 800.000.

Kami sekeluarga, yang selalu berbelanja di Alfamart untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sore itu berencana membeli pampers dan susu. Dengan bekal ATM BCA sebab berencana tarik tunai juga, aku ambil empat kotak susu dan dua bungkus pampers ukuran L. Memang biasanya aku membeli susu dan pampers sebulan dua kali. Di awal dan tengah bulan, karena Alfamart kan ada di deket rumah.

Wawa, anak sulung kami sibuk memilih kue dan chiki kesukaannya. Setelah semua catatan barang yang harus kami beli lengkap, aku antri di kasir. Ternyata selain diskon besar-besaran ada hadiah dari produk pampers dan susu yang kami beli. Ketika suamiku tahu diskon yang kami dapat, dia mengajak aku pulang untuk menaruh belanjaan dan kembali ke Alfamart untuk membeli susu dan pampers lagi. Hehe…hehe… padahal biasanya dia paling usil kalau aku tergiur sama diskon dan hadiah-hadiah lho. Ternyata tidak untuk Semarak Ultah Alfamart kali ini, dia kepincut juga… Benar-benar sangat menggoda, disamping memang pas untuk keperluan keluarga.

Aku seneng banget, bisa stok susu dan pampers untuk sebulan, plus diskon dan masih dapet hadiah juga… Mudah-mudahan Alfamart sering-sering mengadakan promo seperti ini. Dijamin kami nggak akan bisa pindah ke lain hati.

Terimakasih Alfamart.

Pertemuan

< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

PERTEMUAN

Oleh

Pasya Firmansyah

*Persembahan dari hati untuk dia yang jauh di
mata*

< ?xml:namespace prefix = v ns = "urn:schemas-microsoft-com:vml" />

Tidak
terasa waktu begitu cepatnya berlalu. Seharusnya sejak dulu aku sudah habiskan
waktu bersamanya. Sebelum perasaan takut akan masa depan bersarang di benaknya.
Rasa takut yang mungkin saja di miliki segenap kaum Hawa. Biarpun demikian
ternyata malam ini aku sangat beruntung dapat bertemu kembali dengannya.

H
-2

Tidak
banyak hal yang dapat di kerjakan sebagai seorang tenaga kerja outsourcing. Kesehariannya hanya menunggu
perintah dari atasan atau membicarakan orang lain. Karyawan outsourcing di tempat ini hanya sebagai
alas kaki bagi pekerja tetap lainnya, “Kalau suka silahkan ikuti aturan dan
terus bekerja. Kalau tidak suka silahkan cari tempat yang lebih baik”. Outsourcing hampir sama dengan mayat
hidup. Sebagian dari padanya memiliki prinsip yang sama “Dari pada tidak kerja,
dari pada anak dan istri terlantar?!”. Di perusahaan ini Outsourcing terdiri dari beberapa golongan jabatan. Administrasi,
pengantar surat, security, tehknisi
komputer, cleaning service, pengantar
minum serta semua pekerjaan berat lainnya. Tidak ada jenjang karir, tidak ada
tunjangan hari tua, tidak ada pesangon dan juga tidak ada upskilling. Uang bulanan yang di dapatkan, cuma sekedar untuk gali
lubang-tutup lubang. Mencari pinjaman dan membayar pinjaman. Sesekali waktu aku
ber-fantasi tentang sebab-musabab keberadaan outsourcing. Keberadaan outsourcing
di tempat ini tidak lain hanyalah sebagai alat balas dendam kesumat dari pada
kaum intelektual. Dapatlah di
bayangkan, jika semasa sekolah dulu ada satu orang juara kelas yang setiap
waktunya di isi dengan belajar. Seorang kutu buku yang menarik diri dari
lingkungan sosialisasi-nya dan merubah dirinya sebagai seorang public
enemy. Hingga akhirnya setelah berada dalam posisi kemapanan, seorang
jawara kelas tersebut melampiaskan masa lalu-nya dengan cara mengelompokkan
manusia pada kasta kepandaian dan kekayaan. Dan dampak lainnya adalah berbagai
kasus korupsi yang semakin marak terjadi, selalu berasal dari kalangan kaum intelektual.

Di
usia yang hampir memasuki kepala tiga, aku putuskan untuk tidak seperti
kebanyakan tenaga kerja outsourcing
lainnya. Kalau tidak banyak pekerjaan yang dapat di lakukan, biasanya aku
selalu pergunakan waktu senggang untuk sekedar bertegur sapa dengan teman-teman
lama di dunia maya (Chating). Di dalam content
email address tepat dimana sering kali
kugunakan untuk chating, sengaja aku hias foto profile dengan pose narsis4
yang dapat memikat perhatian untuk balas bertegur sapa. Dalam memulai
pembicaraan, sapaan yang sering kali kupakai, “Hi”. Beberapa dari mereka
membalas, “Hi juga”. Beberapa lainnya
sama sekali tidak menyahut. Tapi kali ini aku tidak perdulikan mereka menjawab
atau tidak. Sebab yang hanya ingin aku dengar adalah perkataan darinya. Seorang
gadis manis yang berasal dari kalangan Aristokrat.
Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Ani.

“Hi, pa kabar An?”.

Beberapa puluh
menit berselang dia membalas.

“Mmh” .

Kesempatan
ini hanya datang satu kali dan tidak akan pernah aku sia-siakan. Beberapa menit
lamanya, Aku renungkan sejenak kosa kata yang nantinya dapat jawaban panjang
darinya.

“Katanya loe itu
udah nikah, ya?!”.

“Kata siapa?”.

“Dari gosip
anak-anak”.

“Belum”.

“Btw (By the way). Gimana kabar Melan dan
teman-teman lainnya?”.

“Wah. Gue udah
ngga pernah kumpul sama anak-anak lagi”.

“Gimana kalau
kita reunian kecil-kecilan? Nanti gue kabarin Melan dan anak-anak lainnya,
supaya pada dateng juga”.

“Mmh, Boleh. Tapi,
nanti jemput gue aja!”.

Seperti umumnya gadis Aristokrat. Selalu mendambakan laki-laki
yang kelak kendaraan mewah dan pangeran yang selalu senantiasa membukakan pintu
untuknya. Ani pun tidak-lah jauh berbeda harapannya.

“Kapan waktunya?
Kalau besok bisa? Nanti kita ketemuan rame-rame sama anak-anak yang lainnya”.

“Bisa. Besok kebetulan
gue ketemuan sama saudara gue.. Anak-nya baru lahiran. Tapi nanti gue kasih
kabar lagi tempatnya dimana.. Berapa nomor loe?”.

“0856********.
Di tunggu kabarnya, nanti malam!”.

“Ok”.

“Bisa, ngga bisa
kasih kabar?!”.

Percakapan itu
telah membuat hati ini begitu bergelora lagi penuh gairah.

Detik
berlalu menit pun segera berganti. Semalaman ini, aku nantikan kabar berita
darinya. Gelisah serta harap-harap cemas berselimut dalam pikiran. Aku
bayangkan segala rentetan peristiwa yang nantinya akan terjadi sewaktu
pertemuan. Setiap perkataan serta tindak-tanduk yang harus aku lakukan dan
tidak boleh aku lakukan. Ke-tajaman imajinasi ini aku peroleh berkat kebiasaanku
menuliskan setiap kejadian penting yang pernah aku alami, pada sebuah buku catatan
kecil. Semakin banyak aku menulis, semakin peka panca indra ini merespon segala
kejadian yang terjadi di sekitarku.

Hampir
pukul sepuluh malam, kabar berita tidak kunjung datang darinya. Berkali-kali
aku sisir kolom inbox massages di
telepon cellular. Tidak ada satu pesan singkat pun di dalamnya. Sampai pada akhirnya,
suatu getaran dari telepon cellularku. Sabaris pesan singkat darinya.

“Maaf, besok
kita ngga jadi ketemuan. Hari Sabtu aja, gimana?”.

Aku balas
tersebut dengan setengah kesalnya.

“Ya sudah. Mau
gimana lagi.Sampai ketemu besok, Sabtu ya An!”.

H
-1

Sinar
surya belum lagi menampakkan ke agungannya. Suara kicau burung-burung gereja
bernyanyi sudah turut serta mengundang keceriaan di suasana pagi. Sebelum
bertemu matahari, aku sudah siap bergegas ke tempat kerja. Seribu meter,
ratusan kilo menjadi saksi bisu untuk sampai ke tempat kantor.

Telah
menjadi tradisi, biasanya setiap pagi selalu ada briffing di perusahaan ini. Briffing
yang menjelaskan rencana kerja dan apa yang akan di kerjakan hari ini. Tanpa
pernah kuperdulikan apa saja yang harus kulakukan hari ini. Sebab pikiranku terlalu
asyik memikirkannya. Lagi pula tugas utama-ku di kantor ini hanya menunggui
surat keluar dan mengantarkannya ke fungsi lain.

Persiapan serta seluruh rencana harus tetap
berjalan baik. Aku ambil secarik kertas serta kususun beberapa runutan kejadian
yang mungkin nanti dapat terjadi. Setelah selesai dengan semua persiapan,
saatnya membuat kepastian pertemuan. Aku hidupkan komputer guna mencari jawaban
darinya. Begitu mengejutkan, tidak biasanya kotak inbox ini di penuhi dengan pesan yang belum di buka. Diantara beberapa
pesan-pesan yang tidak penting, aku dapati pesan dari salah seorang sahabat
semasa kuliahku dulu. Ah, ternyata undangan pernikahan yang bertepatan dengan
pertemuan besok. Biasanya aku paling malas untuk datang ke acara pernikahan.
Namun kali ini, undangan ini telah membuatku mengatur ulang jadwal yang
bertepatan dengan pertemuan. Berkali-kali pesan singkat yang aku kirimkan melalui
email tidak di jawab. Tidak hilang
akal, aku hubungi lewat telepon cellular.

“Hallo.. Besok
gimana, An? Jadikan kita ketemuan!”.

“Ya.. Besok jadi.
Kita ketemu di Pondok Indah Mall”.

“Jam berapa, An?!”.

“Jam tujuh
malam”.

“Sorry.. Loe
jemput gue di ragunan aja, gimana?!”.

“Ya..Nanti gue
jemput loe disana?!”

Siang
hari itu merupakan siang terindah dalam hidupku. Tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya, dia mau untuk menemuiku. Meski aku sadari pertemuan itu hanya akan
satu kali dan tidak akan pernah berlanjut ke pertemuan berikutnya.

H

Kemacetan
sudah terlihat di mana-mana. Padahal hari ini adalah hari libur Nasional.
Klakson milik para pengumudi terdengar di setiap ruas jalanan. Tidak ada lagi
tempat bagi pejalan kaki. Para penguasa jalanan merenggut paksa lahan para
pejalan kaki. Setiap waktu adalah uang. Tanpa pernah tergesa-gesa, aku kendarai
laju sepeda motor pada kecepatan biasa.

Rasanya
pertemuan ini teramat berat di lakukan. Pikiran seakan melayang-layang membelah
dinding keramaian. Berkilo-kilo meter sudah jalan yang aku susuri. Aku
sepertinya tersesat di tengah kemacetan. Jarum jam tepat menunjukkan pukul lima
sore. Semua jalanan tampak bagaikan sebuah labirin yang berputar melingkar.
Begitu sulitnya untuk dapat sampai ke tempat resepsi pernikahan temanku.
Berkali-kali aku tanyakan alamat pada setiap orang. Beberapa kali telepon cellularku
sempat berdering. Sengaja tidak kujawab panggilan darinya. Karena aku ingin
mencari sebuah tempat yang tidak bising oleh lalu-lalang kendaraan bermotor.

Dengan
jerih payah bertanya ke setiap orang, akhirnya aku temui tempat acara resepsi
pernikahan temanku. Secepatnya jaket serta berbagai aksesori yang melekat
hangat di tubuh aku lepas serta ku taruh pada sebuah box yang tertanam di badan motor. Sekali lagi handphone berbunyi. Aku putuskan agar menjawab panggilan darinya.

“Ada apa, An?”

“Lagi ada dimana
sekarang?”

“Oh. Gue lagi di
acara resepsi teman gue dulu nih! Memangnya kenapa?”.

“Ternyata kita
ketemu-nya, jam enam! Bisa,kan?”

“Ya”.

Suaranya amat teduh terasa
menyejukkan kegalauan hati. Selesai pembicaraan, segera aku langkahkan kaki
memasuki pendopo pelaminan. Resepsi pernikahan berjalan lancar dan khidmat.
Melihat kebahagiaan pasangan pengantin membuat iri di dalam hati. Begitu iri rasanya
melihat keberuntungan di pihaknya. Menikah dengan tersedianya dana orang tua. Tanpa
perlu aku pusingkan beruntung atau tidaknya.

Matahari tengah siap ke peraduan, saatnya
melaju kembali dengan sepeda motor. Perubahan jam pertemuan memang berakibat
hilangnya daya ingat serta konsentrasi dalam mengendarai sepeda motor. Sekali lagi aku di hadapkan pada sebuah
putaran labirin. Biasanya untuk sampai ke Mall Pondok Indah hanya di butuhkan
waktu satu jam, Namun saat ini jarak tempuh bertambah menjadi dua jam. Di balik
saku kantong celana blue jeans, getaran handphone
tidak berhenti memangil-manggil. Sembari memegang stang kemudi, aku bicara dalam nada keterdesakan.

“Sorry, kita
ngga jadi ketemuan di Mall Pondok Indah. Sekarang gue lagi ada di rumah sakit
di sekitar sana, ketemuannya disini aja”.

“Ya, udah nanti
gue kesana?!”.

“Emang, loe
kemari naik apa?”

Sesuai rencana
yang telah aku susun sebelumnya. Aku alihkan perhatiannya dari pertanyaan
kendaraan.

“Ya. Sampai
ketemu disana, ya!”

Beberapa menit berlalu berganti
detik. Sampai juga akhirnya di tempat yang di tentukan. Dari arah luar rumah
sakit, aku parkirkan sepeda motor di bawah pepohonan rindang. Suara handphone kembali berdering memangil.

“Sudah ada
dimana sekarang?”.

“Ini udah ada di
parkiran”.

“Parkiran mana?
Ko, ngga kelihatan sih?!”

“Biar gue
samperin loe aja”.

Sambil terlibat
percakapan. Bergegas aku hampiri keberadaanya. Sengaja ku tutupi kedatangan
dengan berkendara sepeda motor.

“Sekarang gue
udah di lobi rumah sakit. Loe ada dimana, An?”.

“Coba deh loe
terus lurus aja. Parkiran-nya ada di pintu keluar Utara”.

“Ngga ada.
Dimana-nya?”

“Coba lihat ke depan
ada Mercy warna Silver”.

“Ya.. Gue udah
lihat?! Loe, dimana-nya?!”

“Sebentar gue
putar balik dulu! Loe tunggu di situ aja. Biar nanti gue turun samperin loe”.

“Ya. Ini juga
ngga ke mana-mana!”

Dari lawan arah,
tiba-tiba tangan-nya menepuk lembut di bahu. Kemudian memperkenalkan saudara
sepupunya.

“Hai. Apa
kabar?! Ini kenalin Teh Ia dan suaminya”

“Hey.. Baik.
(Berjabat tangan)”.

Kedatangannya
menghilangkan seluruh gundah serta galau di hati ini. Berdua bersamanya, aku
susuri parkiran yang telah bermandikan keremangan cahaya malam.

“Mobil loe
parkir dimana?”

“(Diam). Gue
bawa motor?!”.

“Ha.. Jadi loe
bawa motor!”.

“Ini, Jaketnya.
Dan ini Helmnya. Mau di pake atau nanti basah kehujunan? Udah gerimis”.

“Mau gimana
lagi. Coba? Terus loe nanti pake apa?”.

“Jangan takut
gue biasa ngga pake jaket ko!”.

Rintik hujan memayungi perjalanan
kita, menuju ke suatu pusat perbelanjaan mewah. Dalam perjalanan, tidak
henti-henti dia mendumal tentang sebab
berkendara bermotor.

“Surprise. Kalau dari awal gue bilang
bawa motor, gue yakin loe pasti ngga akan mau pergi kan?!”

“Ya. Iya-lah.
Ngomong-ngomong ko itu suara klakson motornya kayak gitu, sih!”.

“Salah, ya. Ini
itu sengaja di pasang, supaya lebih kedengaran!”.

“Emang
kedengaran, ya. Suaranya kayak tukang roti di depan rumah gue?!”.

“Udah, deh
jangan berisik. Nanti kalau mogok gimana?”.

“Kalau mogok,
gue turun dan loe gue tinggalin di tengah jalan”.

Jam
pun berlalu begitu cepatnya. Aku dan dia telah sampai di sebuah pusat
perbelanjaan mewah. Bersamanya aku melangkah pasti memasuki pelataran sebuah
Mall mewah. Sinar cahaya milik kaca-kaca bersih mengkilap mengenai wajah kita
berdua, hingga nampak seperti sebuah kaca rias. Wajah kita berdua sudah mirip dengan pemain
lenong, yang di penuhi make-up tebal
dari kotoran jalanan. Satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menghilangkan
segala kotoran ini adalah dengan mencari cara pergi ke toilet.

“Sorry, kita
tunggu dulu sebentar ya disini?”

Di
sebuah kedai kopi bersamanya aku
duduk. Segelas susu coklat terlihat sangat menggiurkan. Dan dia hanya memesan
segelas jus melon dengan taburan susu. Topik pembicaraan pembuka adalah
berkisar tentang pekerjaan. Ku ceritakan semua hal yang kukerjakan. Hingga
sampai pembicaraan pun terputus oleh panggilan dari saudaranya yang tengah
menanti di lain tempat.

Rumah
makan khas Malaysia, di tempat ini sudah duduk
dua orang wanita baya dan seorang laki-laki bertubuh gemuk, berkulit
hitam legam, yang berada tepat di tengah-tengah. Dalam hati aku terus bergumam,

“Wah. Udah kayak
terdakwa, aja nih?!”

Sosok seorang
laki-laki bertubuh gemuk terus saja melancarkan beberapa serangkaian pertanyaan
yang menyudutkan. Sebuah pertanyaan yang
mengukur seberapa besar materi yang dimiliki untuk masa depan kelak

“Outsourcing?”

“(Hening). Sudah
malam kita pulang, yuk?!”

Begitulah akhir pertemuan dengannya.
Kami berdua memutuskan untuk menutup pembicaraan dan kembali ke dunia
masing-masing. Dunia dimana aku hanya dapat bermimpi memilikinya. Dunia dimana
aku tidak tahu kapan waktu untuk bertemu kembali dengannya.

Beda Bachdim dan Bechkam

Kesamaan Irfan Bachdim dan David Bechkam adalah sama-2 pemain sepakbola dan mempunyai istri yang cantik serta menjadi bintang iklan,tetapi dari segi popularitas tentu berbeda karena Bachdim terkenal di tingkat lokal Indonesia sedang Bechkam sudah mendunia.

Perbedaan yang menyolok antara keduanya adalah Bechkam dapat menjaga popularitasnya menjadi pemain sepakbola profesional yang juga membela negaranya,Inggris. Sedangkan Bachdim baru saja “tamat” karier sepakbolanya di Timnas Indonesia,sebab dicoret oleh pelatihnya karena tidak memenuhi panggilan dengan beribu alasan seperti yang diungkapkan di akun twitternya.

Bachdim memang bukan Bechkam dan tidak bisa diperbandingkan sejajar. Tetapi sangat menarik sekali bila Bachdim mau belajar “mental profesional” dari seorang Bechkam. Rata-2 manusia Indonesia memang bermental rendah,terutama bila sudah diambang puncak kariernya dan menjadi populer,mereka tidak menjaga imej dirinya dengan melakukan perilaku yang terpandang,lebih cenderung imej yang dibangun adalah kepura-puraan,semacam politik pencitraan yang dibangun oleh pemimpin negeri ini.

Mental profesional adalah berani mengakui kesalahannya dan tidak menyalahkan keadaan ataupun orang lain. Walau Irfan Bachdim bukan orang Indonesia tulen karena berdarah campuran,namun demikian ybs tinggal dan menetap di Indonesia serta sudah “ketularan” dengan mental bangsa ini. Selalu “ngeles” dan cari simpati dengan hal-2 yang bersifat pribadi sehingga kesalahannya minta dianggap sebagai sangat manusiawi.

Di Indonesia,mungkin mental tentara seperti Kopassus,PasKhas,dsb yang bisa dianggap sebagai mental profesional. Mereka lebih mengutamakan merah-putih katimbang keluarganya. Rata-rata Nasionalisme mereka tidak diragukan,tentu diatas jauh dari rata-2 manusia Indonesia.

Sangat disayangkan seorang Irfan Bachdim dengan usia masih 23 tahun harus kehilangan kesempatan membela timnas Indonesia. Ketenarannya yang dibangun melalui sepakbola dan timnas bisa sirna di bumi Indonesia. Hal yang mirip pernah menimpa Briptu Norman Kamaru yang berpikir bisa terkenal setelah keluar dari Brimob,karena merasa sudah sangat terkenal dan banyak pesanan manggung,maka Briptu Norman lebih memilih karier sebagai penyanyi daripada seorang polisi Brimob. Irfan Bachdim juga barangkali berpikir dengan “kegantengan” nya bisa menjadi bintang iklan,padahal ybs tenar karena masyarakat Indonesia memang pecinta sepakbola,dan Irfan Bachdim terkenal kana main sepakbola disini.

Ini proses pembelajaran bagi rakyat Indonesia,jangan merasa besar kepala bila sudah menjadi tenar,ada pepatah Jawa yang terkenal “Kacang lali kulit-e” begitulah kira-2 yang terjadi pada Irfan Bachdim dan mantan Briptu Norman Kamaru…..

Bagaimana pendapat anda?

Will You Stay a Little Bit Longer Than You Should?

saya bukan srikandhi. apalagi sembadra.

Sudah 5 malam aku tak mendapat pesan darimu. Sesiang inipun , satu smsku tak ada yang berbalas. Aku tak tahu entah apa yang terjadi. Okelah, mungkin aku berlebihan atau lebay seperti katamu. Tapi tidak adakah waktu sedetik saja untuk membalas satu pesanku dan mengabari, bahwa kamu baik-baik saja?

Aku juga merasakannya Sayang, ketika 4 bulan ini menjadi bulan-bulan terkacau dan terberat kita. Aku begitu paham, mungkin kamu sudah merasa jenuh kepadaku. Lelah mendengar semua ceritaku. Muak mencium pipiku. Dan mungkin tak ingin bersamaku. Tapi, tidakkah kita bisa memperbaikinya?

Aku sangat suka pedas. Kamu tahu kan aku sangat suka sekali pedas? Dan mungkin disini kamu adalah cabai yang sangat pedas sedunia. Tapi tak membuatku kapok untuk memakannya. Bahkan aku rela mengorek-korek dengan tanganku untuk menikmati di pedas terakhir. Kapok lombok kata orang Jawa.

“Will U stay a little bit longer than U should?”

Kata-kata itu yang selalu aku ingat. Bahkan sudah meresap ke nadi-nadiku. Kata itu yang membuatku berani mengambil resiko untuk selalu mendekatimu ketika kau mulai kesal dan marah kepadaku.

Aku juga jadi ingat episode film “Spongebob Squarepants” yang berjudul “The Paper”. Disana, Squidward mengatakan bahwa Spongebob boleh memiliki kertas bekas milik Squidward, dan meskipun nanti Squidward memohon-mohon untuk memintanya kembali, Spongebob tidak boleh mengembalikannya. Apapun yang terjadi. Dan ini yang terjadi kepadaku. Kamu pernah bilang agar aku tak boleh kemana-mana, meskipun kamu memintaku. Aku harus tetap bersamamu. Dan inilah aku, Spongebob yang lugu dan bodoh.

Kukira selama ini kita baik-baik saja. Sampai suatu ketika kutemukan diriku bercermin dan kulihat mataku yang menghitam karena sering menangis. Sampai suatu ketika kulihat dirimu menahan mual ketika mencium pipiku. Ah, aku hanya seorang yang terlalu lemah saat ini.

Kau bilang aku butuh psikiater, karena kadang emosiku membuatku tak terkontrol, sedih tak terhingga. Dan aku sudah menemui seorang psikiater itu. Tapi dia mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Entah aku yang salah dengar atau memang dalam pikiranku dia mengatakan hal itu. Aku merasa seperti berada di dalam film “The Shutter Island” dan menemukan diriku menjadi gila, dibuat gila, bahkan gila.

Tapi Sayang, hei… aku masih disini. Menggenggam telepon genggamku. Menunggu sebuah pesan dikirim untukku. Darimu.

Cinta untuk Angela yang Terlahir Tanpa Mahkota

Bidan Romana Tari /bidancare hadir untuk berbagi dan saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup. Bidancare hadir menjadi sahabat bagi perempuan dan keluarga. Semoga artikel di sini bermanfaat bagi kita semua. Kehadiranmu dan kehadiranku adalah kebahagiaan kita bersama. Mari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare. salam hangat selalu

Kota Batu dengan aneka bunganya tak sedingin dulu lagi. Mungkin matahari semakin mendekatkan wajahnya ke muka bumi? Entahlah aku tidak peduli. Hanya satu hal yang aku peduli, menghitung hari. Membolak balik lembaran kalender. Sehari lagi genap lima bulan kehamilanku. Sedikit sekali sahabat dan saudaraku yang mau memberi dukungan untuk melanjutkan kehamilanku. Bahkan Cece  Yin sepertinya keberatan saat kukatakan aku ingin mencari dokter lain.

“Untuk apa ling – ling? Bukankah dokter Kiem sudah katakan bahwa dari hasil USG empat dimensi bayimu tidak sempurna. Kita semua sedih. Bila kamu biarkan bayimu lahir hingga cukup bulan, kamu lebih menderita. Apalagi kalau melihat keadaannya yang seperti itu ” Kata cece Yin sambil mengusap perutku.

” Tidak ce Yin, aku akan mempertahankan kehamilanku ini. Rencananya kami mencari dokter kandungan lain” Jawabku padanya. Hatiku hancur membayangkan bayi mungilku dilahirkan lebih cepat. Aku masuk ke kamar menumpahkan airmataku di atas bantal. Sesak terasa menggumpal di dada. Sudah dua kali aku mengalami keguguran sebelum kehamilan ini.

Tak lama kemudian, cece Yin masuk ke kamarku dengan membawa segelas susu hangat. Ia mengulurkan segelas susu ibu hamil yang masih hangat beraroma vanila. Ku minum sedikit sekedar menghargai perhatiannya. Kami duduk bersisian di tempat tidur. Cece Yin sudah seolah pengganti mama bagiku.

” Ling ling, ya sudah jangan menangis begitu, nanti dia ikut sedih. Aku doakan bayimu. Minumlah susu ini agar kamu lebih relaks” Kata cece Yin menghiburku.

“Ce, aku sangat mencintai bayiku ini, aku mencintainya,…sangat menginginkannya. Aku ingin menimang dan memeluknya, aku tak ingin membuatnya menderita “ Airmataku tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Ce Yin menunduk, airmatanya mengambang di pelupuk mata. Tapi ia segera berpaling keluar dari kamar. Ce Yin tak pernah menangis di depan kami. Dimataku dia sosok wanita yang ulet dan tegar. Hanya dia yang mampu melanjutkan usaha bisnis  bahan bangunan milik almarhum papa dan mama.

Aku beranjak dari kamar ketika waktu menjelang pukul dua belas siang. Saat melewati ruang doa, lukisan Dewi Kwan Im tersenyum lembut menatapku. Ia menjanjikan akan menjaga bayi dalam kandunganku. Kubasuh wajah dan membersihkan diriku dengan air. Kuhadapkan raga fana ini berlutut di altar pemujaan. Asap hio membubung dengan lantunan puja - puji pada Thi Kong dan Sang Budha. “Oh sang Dewi Kwan Im yang ku puja. Pandanglah aku yang nyaris putus asa. Berkati bayiku yang tiada sempurna ini dalam cahaya kemuliaanMu”

Sambil menunggu Koko Ming pulang bekerja, secangkir teh Lohankuo hangat beraroma bunga krisan menemani kesendirianku. Kuusap lembut perutku yang makin membesar dibalut daster merah maroon bermotif bunga – bunga. Alunan instrumentalia musik meditasi doa Taize mengalun lembut. Kaset musik itu hadiah dari Bruder Lie. Dia sepupuku yang jadi biarawan di pertapaan Karmel.

Halaman kami tidak berpagar. Berada di perbukitan puncak kota Batu. Nyaman dan teduh rasanya menikmati senja dengan pemandangan alam nan hijau. Memperhatikan kesibukan para petani sayur mayur yang sedang panen sawi dan wortel. Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil Koko Ming memasuki halaman. Ia lalu menyusulku ke beranda ini seperti biasanya.

“ Kamu baik – baik saja sayang?” Koko Ming mengecup keningku. Koko Ming adalah suami yang selalu memberikan aku kekuatan dalam bertahan menghadapi cobaan ini.

Aku mengangguk dan tersenyum bahagia. Senyum paling indah yang hanya kuberikan untuk koko Ming pria yang kucintai seumur hidupku. Koko Ming duduk menemaniku. Sambil minum teh melepas lelah pulang bekerja. Ini kebiasaan yang kami sukai sejak awal menikah. Tak pernah kedengar Koko Ming berkeluh kesah. Meski aku tahu ia lelah membantu mertuaku mengurus usaha perkebunan apel dan buah naga.

“ Koko maafkan aku, aku belum bisa memberikan anak yang sempurna untukmu” kataku padanya.

“Sttt…jangan bilang begitu Ling, apapun keadaannya dia anak kita berdua.Tak ada yang perlu dimaafkan, ini cobaan buat kita” Jawab Koko Ming. Lalu koko Ming merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Tangannya mengusap lembut perutku yang sedang hamil. Bayi dalam kandunganku seolah mengerti ia sedang dimanjakan. Ia bergerak lincah. Koko Ming mengecupnya penuh perasaan. Energi cinta menyelimuti kami bertiga.

Minggu pagi. Aku berangkat ke Surabaya diantar Koko Ming. Kami menginap di Perumahan Green Garden. Ini rumah cece Vivi kakak perempuanku yang nomer dua. Cece Vi menganjurkan aku menemui Dokter Johan SpOG.

Saat aku bertemu dokter Johan, ia seperti sudah mengenalku lama.Beliau begitu ramah dan baik.

“ Ibu Ling ling, tak ada seorangpun di dunia ini yang berhak meniadakan kehidupan seorang bayi dalam kandungan kendati ia cacat. Tuhan telah menitipkan kehidupan dalam rahim ibu untuk dicintai. Bila kelak Tuhan mengambilnya, biarlah kehendakNya yang terjadi dan bukan kehendak kita”

Kata – kata dokter Johan sungguh menguatkan kami berdua. Selanjutnya setiap sebulan sekali kami rutin kontrol kehamilan ke Surabaya. Perasaan gundah mulai mengusik hatiku saat 42 minggu berlalu namun belum terasa juga tanda – tanda akan melahirkan.

“ Kita bantu dengan induksi infus drip ya bu, agar bayi ibu bisa segera dilahirkan. Kasihan terlalu lama dalam kandungan. Fungsi plasentanya sudah makin kurang baik” Kata dokter Johan.

“ Saya mengikuti keputusan terbaik dari dokter” Jawab suamiku.

Kami menandatangani persetujuan induksi. Koko Ming memelukku memberikan kekuatan.Ya aku harus kuat dan tabah melalui proses induksi infus drip ini. Aku diberi obat perangsang kontraksi dan opname di rumah sakit. Perjuanganku tidak mudah. Di ruang bersalin dua botol infus drip sudah masuk tetapi belum ada tanda – tanda akan melahirkan. Aku mulai putus asa. Dokter mengatakan infus dihentikan dulu dan aku dianjurkan istirahat di kamar. Besok pagi akan dievaluasi katanya.

“ Operasi Caesar saja Ko Ming, aku sudah tidak kuat lagi”, kataku pada suamiku. Hari itu bidan memindahkan aku di bangsal perawatan.

“ Sabarlah sayang, kamu pasti bisa melalui semua ini. Nanti sore aku akan ke Vihara Sanggar Agung di Kenjeran untuk mohon bantuan para Bhiksu mendoakanmu “ Kata koko Ming menenangkan hatiku.

Dalam kegelisahanku aku menghubungi sepupuku Bruder Lie, agar ia juga mendoakan aku menghadapi proses persalinan yang penuh perjuangan ini. Bruder Lie sangat sayang padaku sejak aku masih kecil. Dulu ketika kecil pernah belajar menyanyi lagu – lagu gereja dari Bruder Lie.

“ Ling, saya selalu bersamamu dalam doa. Jangan cemas, saya akan minta pada romo pimpinan biara untuk mendoakanmu dalam intensi misa sore nanti. Sekarang kamu mencoba untuk tenang dan pasrah. Tetap berdoa agar semua yang terjadi ini berjalan seperti kehendak Tuhan. Pasti semua akan berjalan baik dan lancar Ling” Kata – kata bruder Lie menyejukkan hatiku.

Menjelang senja, saat aku menikmati kiriman apple pie dari cece Vivi. Tiba - tiba aku merasa ada cairan putih jernih mengalir keluar dari rahimku. Mungkinkah ketubanku pecah?. Bidan membawaku ke ruang bersalin. Pembukaan empat kata bidan. Suamiku belum datang. Dia sedang ke Vihara Sanggar Agung di Kenjeran menemui para Bhiksu dan berdoa disana.

“ Bu Ling Ling, kemungkinan bayi akan lahir normal. Kontraksi dan pembukaan jalan lahir sudah cukup banyak kemajuan dibanding kemarin” Kata Bidan Yasinta. Syukurlah, aku yakin ini berkat doa para Bhiksu dan suamiku, juga doa Romo pimpinan pertapaan yang diminta khusus oleh Bruder Lie.

Menjelang malam, aku berhasil melahirkan putriku secara normal. Koko Ming mendampingi selama proses kelahiran yang ditangani langsung oleh dokter Johan. Tangisnya begitu keras, betapa terharunya saat bidan mendekatkan bayi itu padaku untuk kupeluk dan kucium. Oh Tuhan, tampaknya semua sempurna. Mungkinkah mukjizat telah terjadi pada keluarga kami?

Bayiku dibawa bidan ke ruangan perawatan khusus. Entah mengapa, aku masih tetap berharap ada keajaiban. Rasanya ingin bertanya pada dokter Johan apakah bayiku terlahir sempurna. Tetapi semua kata – kataku tercekat di kerongkongan. Seakan ada yang menyumbat. Tidak, aku tidak akan bertanya. Aku tahu jawabannya. Bayiku terlahir tanpa tulang tengkorak kepala bagian atas. Sebagian otaknya hanya tertutup selaput tipis. Diagnosa medis mengatakan Anensefalus.

Oh Tuhan,kasihan sekali bayiku dalam ketidak sempurnaannya. Wajahnya begitu cantik . Ia bercahaya seperti Dewi Kwan Im yang kupuja. Sungguh dia malaikat kecilku. Airmataku bercucuran deras mewakili semua pertanyaan yang tak terucap sepatah katapun. Dokter Johan menepuk pundakku dan mengatakan agar aku sabar. Suamiku memelukku dengan erat dan terus menerus menciumiku.

“ Ling sayang, terimakasih kamu telah berhasil berjuang melahirkan putri kita. Sungguh kamu ibu yang luarbiasa. Aku semakin mencintaimu” Koko Ming mengecup keningku.

“ Ko Ming,katakan pada bidan untuk membawa bayi itu kepadaku sebentar saja, aku ingin menyusuinya” Pintaku penuh harap. Koko Ming menemui bidan dan meminta bayi kami.

Aku gemetar saat menerima bayiku dari bidan. Tuhan,terimakasih, aku boleh melahirkan bayiku yang tiada sempurna ini. Maha Pencipta Engkau ya Tuhan. Kutatap wajah bayi mungilku yang sudah mengenakan topi khusus untuk pelindung kepalanya. Hati- hati aku memangku anakku. Dengan penuh kasih aku menyusuinya. Putriku kuberi nama Angela. Benar – benar menakjubkan. Angela menghisap ASIku dengan kuat dan tangannya seolah memeluk payudaraku. Sungguh ini keajaiban yang Maha Agung.

Angela mengerdipkan matanya dengan manja padaku. Aku memeluknya semakin erat. Angela tersenyum seolah berkata” Terimakasih Mama telah memberiku kesempatan menatap wajahmu”. Ku tegarkan hati untuk melihat kepalanya dan perlahan mengusap rambut Angela. Kuciumi tepi bagian yang tak sempurna itu dengan penuh cinta. Apapun keadaanmu kami meyayangmu Angela.

Hari ketiga Angela semakin tampak lemah, sorot matanya tak lagi berbinar. Ia mengalami kuning dan suhu tubuhnya mulai meningkat. Aku tahu Angela tak akan lama bersama kami. Bruder Lie khusus datang dari Malang menjengukku. Aku menangis sesenggukan saat bruder Lie memberkati dahi Angela keponakannya. Suamiku tahu bahwa Angela tak akan lama bersama kami. Ia sudah berjuang tiga hari untuk dapat membalas cinta kami.

Angela dibaringkan oleh bidan di boks bayi. Tak tega melihat tangan mungil Angela dipasang infus. Nafasnya kian tersengal – sengal walaupun dibantu oksigen. Akhirnya hari ke tiga Angela tertidur lelap selama- lamanya dalam pelukan Dewi Kwan Im. Aku merunduk untuk menciuminya berkali kali. Selamat jalan Angela. Kami mencintaimu selamanya. Angela tampak begitu cantik. Ia bermahkota bunga teratai mungil berwarna merah muda di sekeling kepalanya. Terbang semakin menjauh dari pandangan mataku. Terasa cahaya keemasan mengelilingiku..lalu semua begitu ringan aku seolah melayang ingin mengejarnya. Namun kurasakan tangan Koko Ming memelukku erat - erat. Airmatanya membasahi wajahku.

( Terinspirasi dari kisah nyata, Ibu hamil yang menolak pengguguran bayi cacat Anensefalus dan merelakan sharenya untuk diangkat dalam fiksi ini,Nama tempat dan tokoh fiktif )

Oleh Bidan Romana Tari

Tips Memilih Tablet PC atau Notebook

Konsep komputer telah berubah. Jika dulu kita membayangkan sebuah komputer merupakan produk berdesain kotak yang terkesan kaku dan dilengkapi dengan keyboard, lain halnya saat ini. Komputer muncul dengan berbagai bentuk dan ukuran, yang paling bagus saat ini berbentuk tablet yang mengandalkan layar sentuh tanpa bantuan papan ketik atau keyboard.Peningkatan popularitas tablet PC tersebut kini malah dituding sebgai salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan penjualan notebook dan netbook. Padahal, rata – rata vendor dan media memosisikan komuter tablet ini sebagai komputer ke dua, seagaipelengkp laptop dan notebook. Tapi di sisi konsumen, sering muncul kebingungan antara memilih tablet PC atau notebook. Ditambah gencarnya aksi penjual yang mempromosikan barang dagangannya, seringkali konsumen kurang puas akibat salah membeli.Untuk memastikan anda data memaksimalkan produk yang anda beli, berikut ini ada tiga langkah yang dapat dijadikan panduan pengambilan keputusan saat harus membeli antara tablet PC atau notebook.Yang pertama Kenali kebutuhan anda.Meski sama – sama tergolong sebagai komputer, namun tablet dan notebook dirancang untuk cara penggunaan dan tujuan yang berbeda. Bahkan, kebanyakan tablet PC yang beredar memiliki sistem operasi yang berbeda.Akibat adanya perbedaan sistem operasi ini, maka aplikasi atau software yang digunakan juga berbeda. Contohnya, untuk notebook berbasis sistem operasi Microsoft Windows, anda mungkin akan menggunakan Microsoft Office atau Open Office untuk membuka naskah atau menyeselesaikan laporan keuangan. Berbeda halnya dengan tablet PC, aplikasi yang digunakan sama berbeda, baik dari segi kemampuan, fitur dan cara pengunaan. Jadi pastikan kebutuhan anda dapat dipenuhi perangkat yang baru dibeli tersebut.Disini perbedaan yang paling mendasar lainnya terletak pada penggunaan keyboard. Walaupun anda dapat menggunakan tablet PC dengan keyboard tambahan, namun hapir semua aplikasi untuk tablet PC dirancang untuk memaksimalkan layar sentuhnya.Begitu sudah mengenali kebutuhan anda, kini pastikan dana yang anda miliki cukup untuk membeli yang mana. Saat menghitung dana yang disiapkan untuk membeli tablet PC atau notebook, pastikan ada dana tambahan untuk membeli aksesoris pendukung atau garansi tambahan.Beberapa tablet PC juga telah dilengkapi dengan facilitas mobile internet terintegrasi, yang memungkinkan koneksi internet melalui jaringan koneksi data operator seluler. Untuk notebook, seringkali anda harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli dongle atau modem USB untuk terkoneksi ke internet.Tergantung merek dan spesifikasi, harga tablet PC antara Rp. 1.500.000 s/d Rp. 8.000.000. sedangkan untuk netbook, antara Rp. 2.500.000 s/d Rp.6.000.000 dan notebook, antara Rp. 3.000.000 s/d Rp. 30.000.000. seringkali, perbedaan harga terletak pada merek dan beberapa fitur yang dimiliki.Salah satu keuntungan membeli tablet keluaran merek terkenal adalah dukungan purna jual serta nilai jual kembali yang lebih baik. Sedangkan untuk notebook, mengingat spesifikasi yang cenderung lebih seragam, merek, desain dan harga akan menjadi pertimbangan utama.Yang terakhir seberapa tinggi mobilitas anda.Mungkin inilah pertimbangan yang paling menentukan. Bagi yang sering berpergian, membawa notebook kadang cukup membebani akibat ukuran dan bobotnya. Apalagi jika anda membawanya untuk waktu yang cukup lama, menggunakan tas notebook ala kadarnya.Jika anda memiliki mobilitas tinggi dan kebutuhan hnya sekedar persentasi atau mengakses internet, maka tablet PC merupakan pilihan yang tepat. Selain ringan, tablet PC juga lebih dingin sehingga tidak menimbulkan masalah jika lupa dimatikan saat berada di tas. Daya tahan baterai yang panjang serta waktu menyala yang singkat menjadi nilai tambah yang patut dipertimbangkan.Komputer tablet PC boleh dibilang masih tergolong pendatang baru, sehingga perkembangannya masih dalam tahap awal. Kedepannya, tablet PC akan memiliki kemampuan dan kegunaan yang lebih banyak. Baik notebook dan tablet PC memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri – sendiri. Jadi pastikan anda tidak salah pilih.