Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan

Langkah Awal Pengentasan Kemiskinan

Kebetulan diingatkan dari satu tulisan bahwa hari ini tanggal 17 Oktober adalah hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia, maka ucapan “selamat” pantas disampaikan kepada mereka yang selalu berupaya mengatasi kemiskinan.

Esensi pengentasan kemiskinan adalah terciptanya penghasilan yang (relatif) cukup, halal dan berkelanjutan bagi mereka yang sebelumnya tidak berkegiatan tanpa penghasilan atau bagi mereka yang berkegiatan tidak tentu dengan penghasilan yang juga tidak tentu kejelasannya, alias kedua duanya pengangguran dan atau orang miskin.

Bagaimana agar setiap warganegara  berhak atas/ untuk memperoleh pekerjaan sesuai konstitusi, sepertinya tidak pernah akan terselesaikan.

Berdasar hipotesa dan fakta diatas, sepatutnya siapapun pencari solusi harus mampu menjelaskan seperti apa atau dengan carabagaimana permasalahan tersebut bisa diatasi, dan jawaban itupun sebetulnya baru merupakan langkah awal dari hal - hal mendasar bagi upaya pengentasan pengangguran dan kemiskinan.

Resuffle Kabinet IB 2: Strategi Politik SBY Redam Isu Sengketa Tapal Batas Krisis Papua?

Beberapa minggu belakangan ini  terjadi pemogokan ribuan karyawan Freeport yang menimbulkan kerusuhan  ,bahkan sudah menelan korban jiwa namun pihak manajemen Freeport  masih bersikokoh pada sikapnya semula. Para karyawan menuntut supaya pihak manajemen Freeport menaikkan gaji mereka ,serta memulihkan kembali hak tanah adat masyarakat Papua seiring meningkatkan kesejahteraan para karyawannya.

Kedua belah pihak belum tercapai kesepakatan,karena sedang terjadi proses perundingan justeru terjadi kewrusuhan yang menewaskan 2 orang,dan kemuidian disusul  serentetan penembakan yang diduga dilakukan oleh anggota OPM yang juga merenggut 3 korban  jiwa (Jumat 14 Oktober 2011).Kerusuhan yang berlangsung sejak beberapa minggu lalu tidak terlepas dari rentetan kerusuhan sebelumnya,Nafri,Koya-Adipura,dan kerusuhan Puncak jaya ekses dari pilkbup sesama kandidat Partai Gerindra yang menewaskan 19 orang .

Meskipun eskalasi konflik Papua terkesan meningkat sehingga tiga kontainer Freeport dibakar massa,serta ribuan karyawan masih memblokir jalur akses dari dan ke Freeport sampai sekarang,tetapi kelihatannya pemerintah masih kurang serius dalam mengupayakan penyelesainanya.Kini Presiden SBY malahan sengaja mendramatisasikan proses resuffle kabinet Indonesia Bersatu jilid dua ,yang dimulai minggu lalu sampai sekarang  masih berlangsung dengan penuh euforia.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)yang kadangkala berkantor di istananya di Jakarta dan kadangkala pula di istananya di Puri Cikeas,Bogor.Dalam mobilitasnya yang relatif tinggi dari Purinya di Cikeas SBY mengabsen satu persatu kandidat -kandidat yang diharapkan bisa memperkuat posisinya kedepan yang terus terpuruk itu. SBY pada tahun 2009 mendapat dukungan 60 persen suara masyarakat Indonesia ,namun karena kegagalnnya dalam mengelola pemerintahannya sehingga berikutnya dukunganpun merosot tajam menjadi 462 persen tahun 2011 meskipun tahun sebelumnya 2010 sempat meningkat dukungan masyarakat Indonesia sebesar 60,7 persen.

Tetapi SBY sepertinya tidak kapok sehingga kemorosotan dukungan masyarakat Indonesia  tersebut belum cukup  menjadi suatu pembelajaran bagi dirinya,tetapi sebaliknya SBY terus semakin lamban dan galau ,gamang dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial yang dihadapkan kepadanya.Berbagai politik”pencitraan”keluh kewsah terus menerus di lancarkan untuk menarik dukungan masyarakat Indonesia,namun masyarakat yang sudah terkesan apatis cuek tidak peduli terhadap startegi pencitraan tersebut.

Menyadari kegagalannya itu,maka mulailah SBY mengelola strategi baru dengan harapan bisa mengalihkan sorotan  masyarakat Indonesia dari skandal-skandal dan krisis politik,ekonomi,hukum ,terorisme, premanisme antara kelompok sosial,sekte keagamaan dan aspek sosial budaya lainnya ke isu -isu resuffle kabinet.Karenanya setelah beredar beberapa nama kandidat menteri karena ada pihak-pihak yang membocorkan ketyengah-tengah masyarakat SBY kemudian dalam konferensi persnya menyebutkan bahwa hal itu tidak pernah disampaikannya.

Kini apa yang sebelumnya ia bantah justeru mulai kelihatan sosok-sosoknya ,yang setiap harinya sengaja dicicil pengumannya  tentang siapa-saja yang akan menduduki kabinet Indonesia bersatu yang semakin gemuk tersebut. Tragisnya pula terdapat dua wakil menteri yang mengurus bidang pendidikan,yang akan menjadikan dualisme di bidang pendidkan selain pendidikan dibawah berbagai departemen yang ada,seperti Depag,Depdagri,Depkeu dan sebagainya.

Postur kabinet yang gemuk dan setengah zaken itu  akan menyebabkan semakin carut marutnya proses dalam pengambilan keputusan dalam menganggapi sesuatu kebijakan kedepan,yang pada gilirannya akan menambah lambannya  proses pembangunan dalam berbagai aspek sosial kehidupan masyarakat.Khususnya dalam bidang pendidikan sebagai pilar bagi kecerdasan bangsa akan terjadi konflik tarik ulur antara seseorang menteri yang berasal dari Partai Politik dengan para wakilnya dari kalangan akademis itu.

Proses tarik ulur tersebut bisa menambah komplikasi dalam birokrasi dan masyarakat Indonesia,sehingga krisis ini akan menjadi suatu permasalah besar kedepan yang bisa mengabaikan segala masalah-masalah lainnya termasuk masalah sengketa perbatasan RI-Malaya ,Singapore,Papua Nugini ataupun masalah krisis Papua . Jika fenomena ini benar-benar terjadi,maka berbagai unsur-unsur asing akan dengan mudah mengobo-ngobo berbagai masalah  sosial di papua  yang hingga sekarang masih belum berhenti itu.Mengapa pemerintah belum juga dengan serius mengentaskannya ,bahkan lebih menyibukkan diri dengan politik  dagang sapinya itu ,dengan mebagi-bagi kekuasaan kepadas kroni-kroninya dengan  mengabaikan berbagai aspek sosial hajat hidup masyarakat Indonesia.

Belanja Puas, Harga Pas

Sudah di Diskon masih Dapat Hadiah Juga…

Anak kami rey yang berumur 1,5 tahun masih kuat minum susunya. Satu kotak susu yang 800 gram, habis dalam empat hari. Berarti satu bulan lebih kurang delapan kotak susu. Belum lagi pampers, satu bulan Rey membutuhkan sekitar empat kemasan yang masing-masing berisi 40 bungkus. Hehe..hehe…kalau aku total untuk susu dan pampers anakku dalam sebulan menghabiskan dana sebesar lebih kurang Rp 800.000.

Kami sekeluarga, yang selalu berbelanja di Alfamart untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sore itu berencana membeli pampers dan susu. Dengan bekal ATM BCA sebab berencana tarik tunai juga, aku ambil empat kotak susu dan dua bungkus pampers ukuran L. Memang biasanya aku membeli susu dan pampers sebulan dua kali. Di awal dan tengah bulan, karena Alfamart kan ada di deket rumah.

Wawa, anak sulung kami sibuk memilih kue dan chiki kesukaannya. Setelah semua catatan barang yang harus kami beli lengkap, aku antri di kasir. Ternyata selain diskon besar-besaran ada hadiah dari produk pampers dan susu yang kami beli. Ketika suamiku tahu diskon yang kami dapat, dia mengajak aku pulang untuk menaruh belanjaan dan kembali ke Alfamart untuk membeli susu dan pampers lagi. Hehe…hehe… padahal biasanya dia paling usil kalau aku tergiur sama diskon dan hadiah-hadiah lho. Ternyata tidak untuk Semarak Ultah Alfamart kali ini, dia kepincut juga… Benar-benar sangat menggoda, disamping memang pas untuk keperluan keluarga.

Aku seneng banget, bisa stok susu dan pampers untuk sebulan, plus diskon dan masih dapet hadiah juga… Mudah-mudahan Alfamart sering-sering mengadakan promo seperti ini. Dijamin kami nggak akan bisa pindah ke lain hati.

Terimakasih Alfamart.

Perlindungan Hak Konsumen [Bag. 2]

Sesi kedua pada 28 September 2011 pukul 18.30WIB kembali rumah kami kedatangan penjabat bank-ku yang masih sama diwakili oleh beliau berdua saat 4 Juli 2011 lalu. kami sedikit bermain insting bahwasannya kabar tak sedap yang akan kami dapatkan. Tepat..,di awali dengan permohonan maaf, penjabat bank-ku menyatakakn bahwa komitmen bank-ku saat 4 Juli 2011 lalu untuk pemberian copy atau duplikat SHM rumah kepada kami saat 4 Oktober 2011 nanti tak dapat dipenuhi dengan alibi yang kami nilai unreasonable. Geram kami mendengarnya lalu kami pun berujar; “bagaimana dengan pagar jaring penghalang ?” yang sejak awal kami sampaikan sejatinya fasum itu memang bukan tanggungjawab bank-ku. Dan jawaban yang kami dapat dari penjabat bank-ku; “baik pak akan segera kami bantu realisasikan dengan catatan jangan mahal - mahal pak dan juga mbok ya dicarikan subcon-nya pak “. Masih pula kami berbaik hati dengan menyarankan; “ sebaiknya bapak kalkulasikan dan dipertimbangkan lagi “..jawabannya; “yah nantinya akan kami tagihkan ke developer ybs tapi yang mana jika developer tidak mau..,yah mau tak mau jadi beban saya dan mas anjar “

Kala esok 29 September 2011 kami penuhi komitmen kami dengan mengirim subcon yang dimaksud. Isi pembicaraan, proses negosiasi dll kami tidak terlibat di dalamnya.

Via transmisi email penjabat bank-ku tanggal 3 Oktober 2011 menyatakan semua komitmen yang pernah dilontarkan kepada kami secara 360 derajat berbalik…dalam arti sama sekali tidak dapat dipenuhi. Ada 2 point dari total 5 point dalam email bank-ku yang sangat menarik. kutipan kalimat point 4; “jika saudara mengancam akan menulis di media massa…” lalu kami jawab; “pada bagian mana bila kami mengancam…”

Dan kutipan kalimat point 5; “pada saat ini kami sedang berkonsultasi dengan pihak lawyer perusahaan..” Luuuuarrrrr Biasaaaaa…

Apapun kalimat atau komitmen yang terlontar dari pimpinan cabang operasional atau divisi legal merupakan refleksi serta merepresentasikan bank sekaliber Bank-ku…semudah itukah diingkari ??Menyampaikan keluhan di kolom suara pembaca dengan tujuan mendapatkan solusi yang konkrit serta nyata dibilang “Mengancam”.. tak akan kami bersusah payah jika faktanya kami bukan nasabah dari bank-ku…lho kami ini nasabahnya kok. Sejatinya hubungan yang terjalin itu, konsumen - developer - bank, seharusnya bersifat simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.

Sinyalemen yang ditenggarai sepanjang beberapa tahun ke belakang, berupa komoditi “Perbuatan Tidak Menyenangkan & Pencemaran Nama Baik” ramai - ramai disunting terutama oleh pelaku usaha dengan beragam motivasi; brand image, prestige atau shock therapy.

Sebenarnya flow yang prosedural adalah melalui BPSK tapi kemanaaa ekspresimu……? seperti civil versus state…break the wall ?

Easy to Say a Commitment but Hard to do… maka dari itu think and do something more clearly before you take it for granted

Will You Stay a Little Bit Longer Than You Should?

saya bukan srikandhi. apalagi sembadra.

Sudah 5 malam aku tak mendapat pesan darimu. Sesiang inipun , satu smsku tak ada yang berbalas. Aku tak tahu entah apa yang terjadi. Okelah, mungkin aku berlebihan atau lebay seperti katamu. Tapi tidak adakah waktu sedetik saja untuk membalas satu pesanku dan mengabari, bahwa kamu baik-baik saja?

Aku juga merasakannya Sayang, ketika 4 bulan ini menjadi bulan-bulan terkacau dan terberat kita. Aku begitu paham, mungkin kamu sudah merasa jenuh kepadaku. Lelah mendengar semua ceritaku. Muak mencium pipiku. Dan mungkin tak ingin bersamaku. Tapi, tidakkah kita bisa memperbaikinya?

Aku sangat suka pedas. Kamu tahu kan aku sangat suka sekali pedas? Dan mungkin disini kamu adalah cabai yang sangat pedas sedunia. Tapi tak membuatku kapok untuk memakannya. Bahkan aku rela mengorek-korek dengan tanganku untuk menikmati di pedas terakhir. Kapok lombok kata orang Jawa.

“Will U stay a little bit longer than U should?”

Kata-kata itu yang selalu aku ingat. Bahkan sudah meresap ke nadi-nadiku. Kata itu yang membuatku berani mengambil resiko untuk selalu mendekatimu ketika kau mulai kesal dan marah kepadaku.

Aku juga jadi ingat episode film “Spongebob Squarepants” yang berjudul “The Paper”. Disana, Squidward mengatakan bahwa Spongebob boleh memiliki kertas bekas milik Squidward, dan meskipun nanti Squidward memohon-mohon untuk memintanya kembali, Spongebob tidak boleh mengembalikannya. Apapun yang terjadi. Dan ini yang terjadi kepadaku. Kamu pernah bilang agar aku tak boleh kemana-mana, meskipun kamu memintaku. Aku harus tetap bersamamu. Dan inilah aku, Spongebob yang lugu dan bodoh.

Kukira selama ini kita baik-baik saja. Sampai suatu ketika kutemukan diriku bercermin dan kulihat mataku yang menghitam karena sering menangis. Sampai suatu ketika kulihat dirimu menahan mual ketika mencium pipiku. Ah, aku hanya seorang yang terlalu lemah saat ini.

Kau bilang aku butuh psikiater, karena kadang emosiku membuatku tak terkontrol, sedih tak terhingga. Dan aku sudah menemui seorang psikiater itu. Tapi dia mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Entah aku yang salah dengar atau memang dalam pikiranku dia mengatakan hal itu. Aku merasa seperti berada di dalam film “The Shutter Island” dan menemukan diriku menjadi gila, dibuat gila, bahkan gila.

Tapi Sayang, hei… aku masih disini. Menggenggam telepon genggamku. Menunggu sebuah pesan dikirim untukku. Darimu.

Cinta untuk Angela yang Terlahir Tanpa Mahkota

Bidan Romana Tari /bidancare hadir untuk berbagi dan saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup. Bidancare hadir menjadi sahabat bagi perempuan dan keluarga. Semoga artikel di sini bermanfaat bagi kita semua. Kehadiranmu dan kehadiranku adalah kebahagiaan kita bersama. Mari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare. salam hangat selalu

Kota Batu dengan aneka bunganya tak sedingin dulu lagi. Mungkin matahari semakin mendekatkan wajahnya ke muka bumi? Entahlah aku tidak peduli. Hanya satu hal yang aku peduli, menghitung hari. Membolak balik lembaran kalender. Sehari lagi genap lima bulan kehamilanku. Sedikit sekali sahabat dan saudaraku yang mau memberi dukungan untuk melanjutkan kehamilanku. Bahkan Cece  Yin sepertinya keberatan saat kukatakan aku ingin mencari dokter lain.

“Untuk apa ling – ling? Bukankah dokter Kiem sudah katakan bahwa dari hasil USG empat dimensi bayimu tidak sempurna. Kita semua sedih. Bila kamu biarkan bayimu lahir hingga cukup bulan, kamu lebih menderita. Apalagi kalau melihat keadaannya yang seperti itu ” Kata cece Yin sambil mengusap perutku.

” Tidak ce Yin, aku akan mempertahankan kehamilanku ini. Rencananya kami mencari dokter kandungan lain” Jawabku padanya. Hatiku hancur membayangkan bayi mungilku dilahirkan lebih cepat. Aku masuk ke kamar menumpahkan airmataku di atas bantal. Sesak terasa menggumpal di dada. Sudah dua kali aku mengalami keguguran sebelum kehamilan ini.

Tak lama kemudian, cece Yin masuk ke kamarku dengan membawa segelas susu hangat. Ia mengulurkan segelas susu ibu hamil yang masih hangat beraroma vanila. Ku minum sedikit sekedar menghargai perhatiannya. Kami duduk bersisian di tempat tidur. Cece Yin sudah seolah pengganti mama bagiku.

” Ling ling, ya sudah jangan menangis begitu, nanti dia ikut sedih. Aku doakan bayimu. Minumlah susu ini agar kamu lebih relaks” Kata cece Yin menghiburku.

“Ce, aku sangat mencintai bayiku ini, aku mencintainya,…sangat menginginkannya. Aku ingin menimang dan memeluknya, aku tak ingin membuatnya menderita “ Airmataku tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Ce Yin menunduk, airmatanya mengambang di pelupuk mata. Tapi ia segera berpaling keluar dari kamar. Ce Yin tak pernah menangis di depan kami. Dimataku dia sosok wanita yang ulet dan tegar. Hanya dia yang mampu melanjutkan usaha bisnis  bahan bangunan milik almarhum papa dan mama.

Aku beranjak dari kamar ketika waktu menjelang pukul dua belas siang. Saat melewati ruang doa, lukisan Dewi Kwan Im tersenyum lembut menatapku. Ia menjanjikan akan menjaga bayi dalam kandunganku. Kubasuh wajah dan membersihkan diriku dengan air. Kuhadapkan raga fana ini berlutut di altar pemujaan. Asap hio membubung dengan lantunan puja - puji pada Thi Kong dan Sang Budha. “Oh sang Dewi Kwan Im yang ku puja. Pandanglah aku yang nyaris putus asa. Berkati bayiku yang tiada sempurna ini dalam cahaya kemuliaanMu”

Sambil menunggu Koko Ming pulang bekerja, secangkir teh Lohankuo hangat beraroma bunga krisan menemani kesendirianku. Kuusap lembut perutku yang makin membesar dibalut daster merah maroon bermotif bunga – bunga. Alunan instrumentalia musik meditasi doa Taize mengalun lembut. Kaset musik itu hadiah dari Bruder Lie. Dia sepupuku yang jadi biarawan di pertapaan Karmel.

Halaman kami tidak berpagar. Berada di perbukitan puncak kota Batu. Nyaman dan teduh rasanya menikmati senja dengan pemandangan alam nan hijau. Memperhatikan kesibukan para petani sayur mayur yang sedang panen sawi dan wortel. Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil Koko Ming memasuki halaman. Ia lalu menyusulku ke beranda ini seperti biasanya.

“ Kamu baik – baik saja sayang?” Koko Ming mengecup keningku. Koko Ming adalah suami yang selalu memberikan aku kekuatan dalam bertahan menghadapi cobaan ini.

Aku mengangguk dan tersenyum bahagia. Senyum paling indah yang hanya kuberikan untuk koko Ming pria yang kucintai seumur hidupku. Koko Ming duduk menemaniku. Sambil minum teh melepas lelah pulang bekerja. Ini kebiasaan yang kami sukai sejak awal menikah. Tak pernah kedengar Koko Ming berkeluh kesah. Meski aku tahu ia lelah membantu mertuaku mengurus usaha perkebunan apel dan buah naga.

“ Koko maafkan aku, aku belum bisa memberikan anak yang sempurna untukmu” kataku padanya.

“Sttt…jangan bilang begitu Ling, apapun keadaannya dia anak kita berdua.Tak ada yang perlu dimaafkan, ini cobaan buat kita” Jawab Koko Ming. Lalu koko Ming merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Tangannya mengusap lembut perutku yang sedang hamil. Bayi dalam kandunganku seolah mengerti ia sedang dimanjakan. Ia bergerak lincah. Koko Ming mengecupnya penuh perasaan. Energi cinta menyelimuti kami bertiga.

Minggu pagi. Aku berangkat ke Surabaya diantar Koko Ming. Kami menginap di Perumahan Green Garden. Ini rumah cece Vivi kakak perempuanku yang nomer dua. Cece Vi menganjurkan aku menemui Dokter Johan SpOG.

Saat aku bertemu dokter Johan, ia seperti sudah mengenalku lama.Beliau begitu ramah dan baik.

“ Ibu Ling ling, tak ada seorangpun di dunia ini yang berhak meniadakan kehidupan seorang bayi dalam kandungan kendati ia cacat. Tuhan telah menitipkan kehidupan dalam rahim ibu untuk dicintai. Bila kelak Tuhan mengambilnya, biarlah kehendakNya yang terjadi dan bukan kehendak kita”

Kata – kata dokter Johan sungguh menguatkan kami berdua. Selanjutnya setiap sebulan sekali kami rutin kontrol kehamilan ke Surabaya. Perasaan gundah mulai mengusik hatiku saat 42 minggu berlalu namun belum terasa juga tanda – tanda akan melahirkan.

“ Kita bantu dengan induksi infus drip ya bu, agar bayi ibu bisa segera dilahirkan. Kasihan terlalu lama dalam kandungan. Fungsi plasentanya sudah makin kurang baik” Kata dokter Johan.

“ Saya mengikuti keputusan terbaik dari dokter” Jawab suamiku.

Kami menandatangani persetujuan induksi. Koko Ming memelukku memberikan kekuatan.Ya aku harus kuat dan tabah melalui proses induksi infus drip ini. Aku diberi obat perangsang kontraksi dan opname di rumah sakit. Perjuanganku tidak mudah. Di ruang bersalin dua botol infus drip sudah masuk tetapi belum ada tanda – tanda akan melahirkan. Aku mulai putus asa. Dokter mengatakan infus dihentikan dulu dan aku dianjurkan istirahat di kamar. Besok pagi akan dievaluasi katanya.

“ Operasi Caesar saja Ko Ming, aku sudah tidak kuat lagi”, kataku pada suamiku. Hari itu bidan memindahkan aku di bangsal perawatan.

“ Sabarlah sayang, kamu pasti bisa melalui semua ini. Nanti sore aku akan ke Vihara Sanggar Agung di Kenjeran untuk mohon bantuan para Bhiksu mendoakanmu “ Kata koko Ming menenangkan hatiku.

Dalam kegelisahanku aku menghubungi sepupuku Bruder Lie, agar ia juga mendoakan aku menghadapi proses persalinan yang penuh perjuangan ini. Bruder Lie sangat sayang padaku sejak aku masih kecil. Dulu ketika kecil pernah belajar menyanyi lagu – lagu gereja dari Bruder Lie.

“ Ling, saya selalu bersamamu dalam doa. Jangan cemas, saya akan minta pada romo pimpinan biara untuk mendoakanmu dalam intensi misa sore nanti. Sekarang kamu mencoba untuk tenang dan pasrah. Tetap berdoa agar semua yang terjadi ini berjalan seperti kehendak Tuhan. Pasti semua akan berjalan baik dan lancar Ling” Kata – kata bruder Lie menyejukkan hatiku.

Menjelang senja, saat aku menikmati kiriman apple pie dari cece Vivi. Tiba - tiba aku merasa ada cairan putih jernih mengalir keluar dari rahimku. Mungkinkah ketubanku pecah?. Bidan membawaku ke ruang bersalin. Pembukaan empat kata bidan. Suamiku belum datang. Dia sedang ke Vihara Sanggar Agung di Kenjeran menemui para Bhiksu dan berdoa disana.

“ Bu Ling Ling, kemungkinan bayi akan lahir normal. Kontraksi dan pembukaan jalan lahir sudah cukup banyak kemajuan dibanding kemarin” Kata Bidan Yasinta. Syukurlah, aku yakin ini berkat doa para Bhiksu dan suamiku, juga doa Romo pimpinan pertapaan yang diminta khusus oleh Bruder Lie.

Menjelang malam, aku berhasil melahirkan putriku secara normal. Koko Ming mendampingi selama proses kelahiran yang ditangani langsung oleh dokter Johan. Tangisnya begitu keras, betapa terharunya saat bidan mendekatkan bayi itu padaku untuk kupeluk dan kucium. Oh Tuhan, tampaknya semua sempurna. Mungkinkah mukjizat telah terjadi pada keluarga kami?

Bayiku dibawa bidan ke ruangan perawatan khusus. Entah mengapa, aku masih tetap berharap ada keajaiban. Rasanya ingin bertanya pada dokter Johan apakah bayiku terlahir sempurna. Tetapi semua kata – kataku tercekat di kerongkongan. Seakan ada yang menyumbat. Tidak, aku tidak akan bertanya. Aku tahu jawabannya. Bayiku terlahir tanpa tulang tengkorak kepala bagian atas. Sebagian otaknya hanya tertutup selaput tipis. Diagnosa medis mengatakan Anensefalus.

Oh Tuhan,kasihan sekali bayiku dalam ketidak sempurnaannya. Wajahnya begitu cantik . Ia bercahaya seperti Dewi Kwan Im yang kupuja. Sungguh dia malaikat kecilku. Airmataku bercucuran deras mewakili semua pertanyaan yang tak terucap sepatah katapun. Dokter Johan menepuk pundakku dan mengatakan agar aku sabar. Suamiku memelukku dengan erat dan terus menerus menciumiku.

“ Ling sayang, terimakasih kamu telah berhasil berjuang melahirkan putri kita. Sungguh kamu ibu yang luarbiasa. Aku semakin mencintaimu” Koko Ming mengecup keningku.

“ Ko Ming,katakan pada bidan untuk membawa bayi itu kepadaku sebentar saja, aku ingin menyusuinya” Pintaku penuh harap. Koko Ming menemui bidan dan meminta bayi kami.

Aku gemetar saat menerima bayiku dari bidan. Tuhan,terimakasih, aku boleh melahirkan bayiku yang tiada sempurna ini. Maha Pencipta Engkau ya Tuhan. Kutatap wajah bayi mungilku yang sudah mengenakan topi khusus untuk pelindung kepalanya. Hati- hati aku memangku anakku. Dengan penuh kasih aku menyusuinya. Putriku kuberi nama Angela. Benar – benar menakjubkan. Angela menghisap ASIku dengan kuat dan tangannya seolah memeluk payudaraku. Sungguh ini keajaiban yang Maha Agung.

Angela mengerdipkan matanya dengan manja padaku. Aku memeluknya semakin erat. Angela tersenyum seolah berkata” Terimakasih Mama telah memberiku kesempatan menatap wajahmu”. Ku tegarkan hati untuk melihat kepalanya dan perlahan mengusap rambut Angela. Kuciumi tepi bagian yang tak sempurna itu dengan penuh cinta. Apapun keadaanmu kami meyayangmu Angela.

Hari ketiga Angela semakin tampak lemah, sorot matanya tak lagi berbinar. Ia mengalami kuning dan suhu tubuhnya mulai meningkat. Aku tahu Angela tak akan lama bersama kami. Bruder Lie khusus datang dari Malang menjengukku. Aku menangis sesenggukan saat bruder Lie memberkati dahi Angela keponakannya. Suamiku tahu bahwa Angela tak akan lama bersama kami. Ia sudah berjuang tiga hari untuk dapat membalas cinta kami.

Angela dibaringkan oleh bidan di boks bayi. Tak tega melihat tangan mungil Angela dipasang infus. Nafasnya kian tersengal – sengal walaupun dibantu oksigen. Akhirnya hari ke tiga Angela tertidur lelap selama- lamanya dalam pelukan Dewi Kwan Im. Aku merunduk untuk menciuminya berkali kali. Selamat jalan Angela. Kami mencintaimu selamanya. Angela tampak begitu cantik. Ia bermahkota bunga teratai mungil berwarna merah muda di sekeling kepalanya. Terbang semakin menjauh dari pandangan mataku. Terasa cahaya keemasan mengelilingiku..lalu semua begitu ringan aku seolah melayang ingin mengejarnya. Namun kurasakan tangan Koko Ming memelukku erat - erat. Airmatanya membasahi wajahku.

( Terinspirasi dari kisah nyata, Ibu hamil yang menolak pengguguran bayi cacat Anensefalus dan merelakan sharenya untuk diangkat dalam fiksi ini,Nama tempat dan tokoh fiktif )

Oleh Bidan Romana Tari